Oleh : Wahido Amarsyah
Pendidikan merupakan investasi dalam pengembangan sumber daya manusia, di mana peningkatan kecakapan dan kemampuan diyakini sebagai faktor pendukung upaya manusia dalam mengarungi kehidupan yang semakin berkembang, oleh karenanya pendidikan bukan hanya ditujukan pada pembinaan keterampilan, melainkan pada pengembangan kecakapan serta kemampuan-kemampuan teoritis dan praktis berdasarkan konsep-konsep berfikir ilmiah. Dengan istilah sederhananya, pendidikan merupakan alat yang digunakan untuk mengembangkan kemampuan seseorang, baik dari sisi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pendidikan bisa didapatkan di dalam tiga lingkungan (tripusat pendidikan), yang di mana ketiga lingkungan itu merupakan sarana seorang individu untuk mendapatkan pendidikan, pertama di lingkungan keluarga (informal), kedua di lingkungan sekolah/kampus (formal), dan yang ketiga di lingkungan masyarakat atau organisasi kepemudaan (nonformal). Seseorang bisa bebas memilih jalur mana saja yang hendak ia jadikan jalan untuk menempa bakat dan potensi dalam dirinya, bahkan pada saat menempuh pendidikan formal pun seorang individu berhak juga ikut dalam kegiatan-kegiatan pendidikan nonformal.
Kegiatan pendidikan formal dapat berjalan beriringan dengan pendidikan nonformal, bahkan keduanya itu saling keterkaitan, bisa saling membutuhkan dan saling menguntungkan (simbiosis mutualisme). Contoh kasus pendidikan formal yang dapat berjalan beriringan dengan pendidikan nonformal ialah kampus dengan organisasi, kampus merupakan lembaga pendidikan yang di mana mahasiswa sebagai peserta didik di dalamnya diajarkan, dididik serta dikembangkan potensi akademiknya, dan organisasi merupakan lembaga nonformal atau wadah yang menunjang kebutuhan mahasiswa di luar bangku kuliahnya, yang di sana mahasiswa dapat mengembangkan kreativitas dan keterampilannya, mengasah minat dan bakatnya, lalu di organisasi pula mahasiswa dapat mengembangkan potensi dirinya. Oleh karena itu kampus dan organisasi saling keterkaitan dan saling membutuhkan, sebab ruang-ruang akademik seperti di kelas-kelas kampus dan laboratorium tidak akan cukup maksimal digunakan untuk mengembangkan bakat seseorang, sehingga seorang mahasiswa perlu mendapatkan pendidikan dan pengalaman lebih di luar bangku kuliah melalui organisasi yang di mana sebagai wadah untuk mengasah kemampuan dan bakat yang terpendam dalam diri mahasiswa.
Organisasi yang bisa menjadi wadah mahasiswa untuk mengasah kemampuan dan bakatnya dapat ditemukan ke dalam dua macam, yaitu: organisasi intra kampus dan organisasi mahasiswa ekstra kampus (omek). Organisasi itu sendiri mempunyai pengertian, yaitu merupakan bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama,[1] dalam pengertian lainnya Stephen P Robbins menyatakan bahwa organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.[2] Mahasiswa bebas memilih untuk bergabung ke organisasi mana yang dapat menjadi wadah untuk dia mengembangkan potensi dirinya serta belajar segala hal di luar bangku perkuliahan. Adapun organisasi intra kampus itu sendiri merupakan organisasi yang berdiri secara formal di dalam sebuah perguruan tinggi dan memiliki kedudukan resmi dan melekat dengan perguruan tinggi itu sendiri. Sedangkan organisasi mahasiswa ekstra kampus atau eksternal kampus merupakan organisasi yang tidak berada dibawah naungan perguruan tinggi melainkan berada di luar kampus, yang di mana organisasi ini banyak beraktifitas di luar kampus, dan memiliki jaringan serta kepengurusan yang berjenjang atau bertingkat hingga pengurus tingkat nasional bahkan tingkat internasional.
Tak hanya organisasi intra kampus, kini organisasi mahasiswa ekstra kampus (omek) pun sangat banyak keberadaannya di perguruan tinggi seluruh Indonesia dan rata-rata di setiap perguruan tinggi itu ada lebih dari satu omek, yang artinya mahasiswa disuguhkan pilihan untuk masuk ke dalam omek mana yang mereka inginkan, yang di mana sesuai dengan kriterianya untuk memenuhi kebutuhannya dalam menunjang pendidikannya maupun mengembangkan potensi dirinya. Kini mahasiswa yang memang memiliki keinginan untuk mengenyam pendidikan yang lebih melalui berorganisasi, sangatlah bebas dalam memilih organisasi mana yang ingin mereka masuki, baik itu organisasi intra kampus maupun organisasi mahasiswa ekstra kampus (omek). Dan jika dilihat pada posisi sekarang ini, sudah semakin banyak pertumbuhan omek di seluruh penjuru nusantara, salah satu di antaranya ialah Himpunan Mahasiswa Islam.
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan organisasi mahasiswa muslim tertua di Indonesia, yang lahir pada hari Rabu tanggal 5 Februari 1947 di Sekolah Tinggi Islam (STI) Yogyakarta (sekarang bernama Universitas Islam Indonesia). Pada awal mula berdirinya, HMI memiliki tujuan awal yang sangat kental dengan nilai-nilai pendidikan yakni mempertegak dan mengembangkan ajaran agama Islam. Pada saat itu HMI sangat aktif dalam pengembangan ajaran Islam, yakni melalui aktivitas ceramah di surau-surau dan pelatihan-pelatihan yang dilaksanakan guna mendidik mahasiswa muslim agar senantiasa memahami dan mampu mengamalkan ajaran Islam di dalam kehidupannya sehari-hari.[3] Sebab pada dasarnya pendidikan bukan hanya sekedar transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) melainkan sekaligus juga transfer nilai (transfer of value), oleh karenanya penanaman nilai-nilai budaya dan karakter bangsa dalam pendidikan selalu HMI lakukan melalui sistem pendidikan yang HMI miliki sendiri. Sistem pendidikan yang ada di tubuh HMI itu mempunyai nama lain yakni perkaderan, melalui perkaderan lah HMI mendidik kader-kadernya agar dapat mencapai tujuan organisasi HMI yakni terbinanya mahasiswa Islam menjadi insan ulul albab yang turut bertanggung jawab atas terwujudnya tatanan masyarakat yang diridhai Allah Subhanahu wa ta’ala.
Upaya organisasi HMI dalam mewujudkan tujuannya yang dituang ke dalam bentuk pendidikan melalui sistem perkaderannya merupakan wujud kepedulian HMI dalam melahirkan dan membina sumber daya manusia (SDM) sebagai generasi-generasi yang pastinya akan menjadi pewaris peradaban yang diharapkan dan dibutuhkan bangsa ini. Upaya pendidikan tersebut, HMI kemas dalam entitas kaderisasi yang membawa nilai-nilai perkaderan dan perjuangan untuk mengakselerasi perubahan masyarakat yang konstruktif menuju tata sosial yang lebih baik. Karena itu, gerak HMI senantiasa mengarah pada cita ideal masyarakat yang diridhai Allah SWT sebagai perwujudan sosiologis tujuan HMI. SDM yang HMI lahirkan dalam membentuk tatanan masyarakat ideal adalah kader-kader berkualitas yang relevan dengan tugas dan tanggung jawabnya. Kader yang dikembangkan HMI adalah sosok kader ideal sebagaimana yang telah digambarkan dalam Al-Qur’an, yaitu sosok ulul albab. Untuk melahirkan sosok kader-kader semacam itu tentunya melalui proses pendidikan yang HMI muat dalam sistem perkaderan yang komprehensif dan dinamis, yang secara konseptual dan operasional tetap berpijak pada acuan dasar organisasi.
Proses pendidikan yang dimuat ke dalam sistem perkaderan di HMI memiliki pondasi kuat yang diformulasikan sebagai asas-asas perkaderan, asas perkaderan itu sendiri ialah prinsip-prinsip yang menjiwai semangat pelaksanaan pendidikan dan perkaderan HMI. Beberapa asas yang harus dikembangkan dalam proses perkaderan:
1. Asas ketaqwaan, artinya perkaderan itu harus meningkatkan ketaqwaan pribadi kader.
2. Asas kepejuangan, artinya bahwa perkaderan itu harus merupakan manifestasi dari perjuangan untuk menuju keadaan yang lebih baik.
3. Asas keumatan, artinya bahwa perkaderan itu harus dapat memberi manfaat langsung ataupun tidak langsung terhadap peningkatan kehidupan umat. Selaras dengan prinsip pendidikan yang hadir sebagai pencerahan kehidupan umat dan bangsa.
4. Asas kesinambungan, artinya perkaderan itu harus memproses secara terus menerus tidak terbatas pada dimensi ruang dan waktu, sekaligus mampu menopang kesinambungan perjuangan organisasi khususnya dan perjuangan Islam pada umumnya.
5. Asas kemandirian, artinya bahwa perkaderan itu menciptakan kondisi yang dinamis untuk melahirkan kader-kader yang mandiri dalam bersikap, berfikir dan memutuskan sesuatu persoalan pribadi maupun kelembagaan.
6. Asas persaudaraan, artinya bahwa perkaderan itu mampu menciptakan dan memperkuat ikatan persaudaraan (ukhuwah) di kalangan kader HMI itu sendiri dan dengan sesamanya.
7. Asas keteladanan, artinya bahwa perkaderan itu harus memperhatikan aspek-aspek keteladanan sebagai faktor penting dalam proses perkaderan dan pendidikan di HMI.[4]
Adapun tujuan perkaderan ialah untuk membentuk Kader Cita HMI yang ideal. Karateristik ideal tersebut terformulasi dalam ungkapan Al-Qur’an sebagai ulul albab, dengan kualifikasi sebagai berikut:
1. Hanya takut kepada Allah SWT:
a. Berjiwa berani dalam menghadapi tantangan dalam bentuk apapun
b. Tawakal kepada Allah SWT dan hanya mengharap ridha- Nya.
2. Tekun beribadah:
a. Taat menjalankan ibadah mahdhah yang diajarkan Rasulullah SAW
b. Rajin mengerjakan amalan – amalan sunnah
c. Suka bangun dan beribadah ditengah malam
3. Memiliki ilmu dan hikmah:
a. Berpengalaman luas, serta mampu berpikir rasional dan obyektif
b. Memiliki kemampuan konseptual, sehingga dapat memformulasikan dan menjelaskan apa yang diketahui dan dirasakannya
c. Sanggup mengantisipasi keadaan dan siap menghadapi segala perubahan, karena memiliki daya apresiasi, prediksi dan antisipasi yang tinggi
d. Memiliki keterampilan praktikal yang menghasilkan karya–karya nyata.
4. Kritis dan teguh pendirian
a. Bersikap terbuka dan kritis terhadap berbagai macam pandangan
b. Bersikap selektif dan apresiatif terhadap berbagai pandangan, serta inovatif untuk menciptakan karya-karya baru
c. Sanggup sendirian (istiqomah) dan tidak terjebak pada pandangan mayoritas
5. Progresif dalam berdakwah:
a. Bersedia berdakwah dengan sungguh-sungguh
b. Sanggup dan berani menghadapi segala bentuk resiko
c. Kreatif dalam strategi dan taktik berdakwah
d. Memiliki penampilan dan daya tahan fisik serta psikologis yang tinggi.
Dengan kualifikasi Insan Ulul Albab itu maka kader HMI diharapkan akan menjadi seorang:
1. Mu’abid: Kader menjadi insan yang tekun beribadah, mulai dari ibadah yang terkait pada dirinya maupun terkait pada lingkungannya.
2. Mujahid: Kader memiliki semangat juang yang tinggi sehingga ia memiliki pemahaman dan kemampuan berjihad dalam garis agama.
3. Mujtahid: Kader mampu berijtihad sehingga segala tindakannya didasarkan pada pilihan sadar dari dalam dirinya.
4. Mujaddid: Kader menjadi harapan atas usaha organisasi yang memiliki kemampuan dalam melakukan pembaharuan di lingkungan sekitarnya.[5]
Proses pendidikan yang dimuat dalam perkaderan HMI tentu memiliki fungsi, yakni sebagai motor penggerak organisasi yang melahirkan usaha-usaha yang terencana, sistematis, dan berkelanjutan menuju ke arah tercapainya tujuan organisasi dan kemaslahatan umat. Fungsi perkaderan, antara lain harus dapat melahirkan kondisi-kondisi sebagai berikuti:
1. Kesinambungan dan peningkatan kualitas perjuangan misi Islam.
2. Kesinambungan dan kedinamisan kepemimpinan HMI.
3. Kesinambungan dan pengembangan perjuangan HMI.
4. Konsistensi pemahaman perjuangan HMI.
5. Peningkatan peran-peran personal kader dan kelembagaan
Kemudian perkaderan HMI sebagai salah satu bagian sistem organisasi, dalam pencapaian tujuan organisasi memiliki lingkup tersendiri yang berbeda dengan kelengkapan sistem organisasi lainnya. Ada satu ruang lingkup dalam Pedoman Perkaderan yang menjadi satu elemen utama dalam kehidupan organisasi, yaitu “Kader.” Di dalam pedoman perkaderan HMI membentuk kader dalam memposisikan kader pada beberapa wilayah, yaitu:
1. Kader sebagai pribadi, kader HMI merupakan hamba Allah yang mukhlish, zuhud, dan tawadhu’, sehingga terimplementasi dalam sosok pribadi paripurna yang memiliki mentalitas cerdas, dan bijaksana sebagai manifestasi citra diri ulul albab.
2. Kader sebagai pemuda, kader HMI memiliki sifat perjuangan yang senantiasa peka dan militan menjawab kehidupan lingkungan di skeitarnya, sehingga mampu tampil menjadi pelopor dan dinamisator bagi gerakan komunitas kaum muda untuk melakukan usaha amar ma’ruf nahi munkar secara ikhlas.
3. Kader sebagai warga masyarakat, kader HMI merupakan warga yang selalu peduli dan peka terhadap aspirasi masyarakatnya, memiliki solidaritas yang tinggi dan senantiasa berpartisipasi aktif dalam dinamika masyarakat.
4. Kader sebagai mahasiswa, kader HMI adalah orang yang berpendidikan dan memiliki jiwa dan kemampuan intelektual, dan mampu mendayagunakan untuk mempercepat transformasi masyarakat pada umumnya dan gerakan mahasiswa pada khususnya.
5. Kader sebagai pemimpin, kader HMI adalah sosok figure yang memilki kemapuan untuk memimpin organisasi khususnya dan komunitas social pada umumnya, dengan berlandaskan pada sifat amanah, adil, jujur, dan benar serta penyeru, pengayom, dan penuntun bagi lingkungan social yang dipimpinnya.[6]
Adapun muatan perkaderan HMI merupakan semangat atau isi yang perlu diinternalisasikan, disosialisasikan atau dikembangkan dalam setiap bentuk/model perkaderan sesuai dengan proporsinya. Muatan perkaderan ini, merupakan arahan strategis sebagai derivasi dari tujuan perkaderan itu sendiri. Muatan perkaderan ini, dijabarkan ke dalam tema-tema, baik yang bersifat teoretis maupun praktis, dapat dikembangkan secara kreatif sesuai dengan bentuk/model dan jenjang perkaderan itu. Karenanya, muatan ini tidak bersifat membatasi, tetapi justru memberikan arahan dalam pengembangan sumber daya kader untuk menuju kualitas kader cita yang holistik. Beberapa muatan perkaderan itu adalah sebagai berikut:
1. Muatan Ideologi
Muatan ini berisi nilai-nilai ideal universal seperti keadilan, persaudaraan persamaan kebebasan, kasih sayang, kearifan dan sebagainya yang kesemuanya itu merupakan nilai-nilai dasar pesan ajaran Islam. Muatan ideologi ini menjadi peletak dasar bagi pengembangan berbagai aspek kehidupan lainnya. Termasuk asumsi–asumsi dasar mengenai Allah SWT, manusia, alam semesta, hari akhir dan sebagainya.
2. Muatan Kepribadian
Muatan ini berisi beberapa aspek yang akan membentuk kepribadian kader seperti sikap, mentalitas, intelektualitas, kebiasaan dsb-nya. Termasuk dalam hal ini yang mampu dikembangkan lewat proses perkaderan beserta kendala-kendalanya.
3. Muatan Epistemologi
Muatan epistemologi berisi seputar kaidah-kaidah sains sebagai muatan yang memberikan landasan keilmuan bagi kader. Karena itu, dengan muatan ini, diharapkan kader HMI mampu memiliki kerangka analisis yang jelas dan tepat dalam menyikapi, menyiasati dan mencari solusi ber-bagai persoalan. Dengan demikian, setiap kader HMI mampu bersikap, berpikir dan berperilaku saintifik serta mampu mengembangkan potensi intelektual dalam bentuk karya-karya ilmiah secara optimal.
4. Muatan Sosiologis-Politis
Muatan sosiologis-politis berisi seputar berbagai persoalan sosial, budaya, politik, ekonomi, sejarah dan budaya. Dengan muatan ini, maka kader HMI diharapkan mampu mengembangkan wawasan sosial yang luas, kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi, apresiatif terhadap berbagai fenomena sosial kemasyarakatan (keumatan). Lebih dari itu, dengan muatan ini maka kader HMI diproyeksikan mampu melakukan sosialisasi dan berintegrasi ke tengah komunitas sosial yang pluralistik, serta mengoptimalkan peran- peran sosial kependidikannya baik secara personal maupun kelembagaan dalam melakukan perubahan sosial yang kontruktif.
5. Muatan Organisatoris
Muatan organisatoris berisi berbagai aspek yang berkaitan dengan seluk beluk keorganisasian HMI khususnya, misalnya mengangkat perkem-bangan dan peran-peran kesejarahan perjuangannya, dinamika organisasinya, konstitusinya, perkaderannya dan sebagainya. Dengan pemahaman muatan ini maka kader HMI diproyeksikan memiliki sense of belonging, rasa memiliki dan sadar sepenuhnya untuk berjuang lewat HMI.
6. Muatan Skill-Profesionalitas
Muatan ini berisi pengetahuan praktis yang bersifat strategis atau pun teknis yang mampu membekali kader guna mengembangkan profesi secara profesional yang berdaya bagi pengembangan organisasi dan masa depan pribadi kader, misalnya akademisi, jurnalistik, kewirausahaan, teknologi informasi dan sebagainya.[7]
Kemudian HMI mengembangkan model-model perkaderan yang diharapkan mampu menciptakan standar kader cita HMI (Insan Ulul Albab), yang pada akhirnya kualitas kader tersebut akan menjadi sumber kekuatan efektif bagi organisasi dalam mewujudkan tatanan masyarakat yang diridhai Allah SWT, salah satu model perkaderan tersebut ialah model pendidikan. Model pendidikan merupakan peletakan dasar-dasar pembinaan dan pengembangan potensi kader melalui proses pembinaan, sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai yang membentuk pola pikir, sikap, mentalitas dan perilaku kader. Aplikasi model pendidikan ini meliputi aspek kognitif dan afeksi kader serta aspek psikomotorik. Tujuan model pendidikan adalah untuk menginternalisasikan nilai-nilai Islam dalam pembinaan sikap dan mentalitas kader. Sehingga kader mampu mempertegas citra, identitas dan peran-peran diri yang dibentuk untuk mencapai tujuan HMI.[8]
Pendidikan merupakan proses pembentukan pribadi manusia, pewarisan dan penciptaan nilai, pengetahuan dan keterampilan sehingga pribadi tersebut dapat mengembangkan diri secara optimal untuk menghadapi kehidupan nyata. Maka perkaderan pendidikan HMI diorientasikan pada pengembangan integritas pribadi kader secara menyeluruh sehingga mampu menjadi pemimpin yang adil, progresif serta inovatif. Sehingga perkaderan Model Pendidikan ini menyentuh aspek pemahaman dan pengamalan Islam yang termanifestasikan dalam sikap, mentalitas dan perilaku pribadi muslim, wawasan intelektual, kepekaan sosial, kemampuan dan keberanian memecahkan persoalan (pribadi, kemasyarakatan).
Perkaderan model pendidikan meliputi empat jenis. Pertama adalah adalah jenis Pendidikan Pelatihan Umum, Pendidikan jenis pertama ini menekankan pada penggalian dan pengembangan potensi kader dengan memberikan prinsip dasar keislaman, kepribadian, keilmuan, sosial kemasyarakatan dan keorganisasian melalui proses atau forum pelatihan. Forum pelatihan yang dimaksud mempunyai beberapa tingkatan; tingkat pertama itu Basic Training (Latihan Kader I), kemudian tingkat yang kedua Intermediate Training (Latihan Kader II) dan tingkat yang terakhir itu Advance Training (Latihan Kader III). Kemudian perkaderan model pendidikan yang kedua adalah Pendidikan Keluarga, Pendidikan jenis ini menekankan pada nilai-nilai kebersamaan yang menumbuhkan sikap saling bertanggung jawab dan saling menolong antara satu dengan lainnya. Pendidikan Keluarga ada tiga tahap, tahap pertama itu Pendidikan Keluarga semester pertama (PK 1), lalu tahap yang kedua itu Pendidikan Keluarga semester kedua (PK 2), dan tahap yang ketiga ialah Pendidikan Keluarga Lanjutan.
Kemudian perkaderan model pendidikan yang ketiga adalah Pendidikan Pelatihan Khusus, Jenis pendidikan ini berorientasi meletakkan dasar-dasar pembinaan dan pengembangan potensi kader melalui proses sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai yang menjadi landasan dalam membentuk pola pikir dan sikap. Pendidikan pelatihan khusus ini terbagi ke dalam dua macam, yang pertama itu ada pendidikan pelatihan pengader (senior course) dan yang kedua itu ada pendidikan pelatihan Kohati. Perkaderan model pendidikan yang keempat adalah Pendidikan Pelatihan Soft Skill. Pendidikan jenis ini adalah pendidikan yang melalui proses atau forum pelatihan yang menekankan pada peningkatan keahlian di wilayah minat dan bakat serta tanggungjawab pada diri dari seorang kader.
Dengan adanya pola pendidikan yang HMI muat di dalam sistem perkaderannya, itu berarti HMI hadir sebagai oase peradaban yang secara berkesinambungan membina dan melahirkan generasi-generasi yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan dalam mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran umat dan bangsa ini sebagai tatanan masyarakat yang diridhai Allah SWT.
[1] Ratna Wilis Dahar, Teori-Teori Belajar, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1996), hal. 56.
[2] Stephen P. Robbins, Teori Organisasi Struktur, Desain, dan Aplikasi, (Jakarta: Arcan, 1994), hal. 4.
[3] Rusdiyanto, MPO: ‘Anak Haram’ Orde Baru Pewaris Sah HMI, (Yogyakarta: Sulur Pustaka, 2019), hal. 17.
[4] Konstitusi HMI XXXII, Pedoman Perkaderan, (Kendari, 2020).
[5] Rusdiyanto, MPO: ‘Anak Haram’ Orde Baru Pewaris Sah HMI, (Yogyakarta: Sulur Pustaka, 2019), hal. 116.
[6] Konstitusi HMI XXXII, Pedoman Perkaderan, (Kendari, 2020).
[7] Konstitusi HMI XXXII, Pedoman Perkaderan, (Kendari, 2020).
[8] Konstitusi HMI XXXII, Pedoman Perkaderan, (Kendari, 2020).