Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 15 September 2023

Suara Demokrasi SMPN 96

Jumat, 15 September 2023 SMPN 96 Jakarta menggelar Selebrasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang bertemakan Suara Demokrasi. Pagelaran selebrasi P5 yang dilaksanakan tersebut bertepatan dengan Hari Demokrasi Internasional yang jatuh pada tanggal yang sama. Selebrasi P5 dengan tema Suara Demokrasi digelar dengan tujuan untuk mengenalkan peserta didik tentang sistem demokrasi di Indonesia, dewan guru SMPN 96 berikhtiar memberikan pemahaman terkait demokrasi kepada peserta didik agar nantinya para peserta didik tersebut mampu menjadi generasi yang membawa perubahan bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik. Sebab pada saat ini, Indonesia mengalami stagnasi sistem demokrasinya, menurut penelitian yang dilakukan oleh Economist Intelligence Unit (EIU), Indonesia memperoleh skor 6,71 pada Indeks Demokrasi tahun 2022. Skor ini sama dengan nilai yang diperoleh Indonesia pada Indeks Demokrasi tahun 2021, dan Indonesia masih tetap dikategorikan sebagai negara demokrasi yang memiliki cacat/kekurangan (flawed democracy). Meskipun nilai indeks tetap stabil, peringkat Indonesia dalam skala global mengalami penurunan dari posisi 52 menjadi 54.

Kamis, 07 September 2023

Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam

A. Pengertian Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam
    Nilai adalah suatu keyakinan dan kepercayaan yang menjadi dasar seseorang atau kelompok untuk memilih tindakannya, atau menilai suatu yang bermakna bagi kehidupannya.  Para ahli pendidikan menyebutkan bahwa pada umumnya pengajaran adalah bagian dari pada pendidikan. Akan tetapi pendidikan ruang lingkupnya lebih luas dari pengajaran. Jadi pendidikan juga meliputi pengajaran. Konsep pendidikan yang ada di atas ini dapat dijadikan sebagai penegas, bahwa setiap adanya interaksi antara peserta didik dan pendidik dan didukung dengan lingkungan yang memadai, maka kejadian seperti ini sudah dinamakan sebagai pendidikan.
    Dengan demikian pendidikan yang dalam hal ini adalah pembelajaran Pendidikan Agama Islam, tidak harus dalam bentuk pengajaran pengajaran formal. Karena yang sangat penting dalam pendidikan ini adalah pengertian tentang nilai-nilai agama dan harus diketehui adalah cara mengetahui dan memahami tentang nilai-nilai Agama, tidak harus melalui pendidikan atau pembelajaran yang bersifat formal, bahkan ada atau sebagian besar dari peserta didik yang merasakan bahwa pendidikan yang bersifat tidak sengaja dan terjadi didepan kita, maka itu akan mudah kita dapatkan dan dengan mudah dicerna oleh masing-masing individu.
    Pendidikan agama pada umumnya dan pendidikan agama Islam pada khususnya sangat diperlukan dalam membentuk manusia-manusia pembangunan yang ber-Pancasila dan untuk membentuk manusia Indonesia yang sehat, baik jasmani maupun rohani. Pendidikan agama Islam dicantumkan dalam urutan nomor satu dari sembilan bidang studi yang harus diselesaikan dalam perencanaan program pengajaran di sekolah dasar. Program studi pendidikan agama merupakan program wajib yang harus diikuti oleh setiap anak didik pada sepanjang tahun selama bersekolah.
    Nilai-nilai agama Islam pada hakikatnya adalah kumpulan dari prinsip-prinsip hidup, ajaran-ajaran tentang bagaimana manusia seharusnya menjalankan kehidupannya di dunia ini, yang satu prinsip dengan lainnya saling terkait membentuk satu kesatuan yang utuh tidak dapat dipisah-pisahkan. Jangan dikira bahwa ada satu nilai berdiri sendiri. Jadi Islam itu pada dasarnya adalah satu sistem, satu paket, paket nilai yang saling terkait satu sama lain, membentuk apa yang disebut sebagai teori-teori Islam yang baku.
    Aspek nilai-nilai ajaran Islam pada intinya dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu nilai-nilai ibadah, nilai-nilai aqidah, dan nilai-nilai akhlak. Dalam Al Qur’an terdapat nilai-nilai normative yang menjadi acuan dalam pendidikan Islam. Nilai yang dimaksud terdiri atas tiga pilar utama, yaitu:
  1. I’tiqadiyyah, yang berkaitan dengan pendidikan keimanan, seperti percaya kepada Allah, malaikat, rosul, kitab, hari akhir dan takdir, yang bertujuan untuk menata kepercayaan individu.
  2. Khuluqiyah, yang berkaitan dengan pendidikan etika, yang bertujuan untuk membersihkan diri dari perilaku rendah dan menghiasi dari dengan perilaku terpuji.
  3. Amaliyyah, yang berkaitan dengan pendidikan tingkah laku sehari-hari, baik berhubungan dengan `pendidikan ibadah dan pendidikan muamalah.
    Pengamalan konsep nilai-nilai ibadah akan melahirkan manusia-manusia yang adil, jujur, dan suka membantu sesamanya. Selanjutnya yang terakhir nilai-nilai akhlak mengajarkan kepada manusia untuk bersikap dan berperilaku yang baik sesuai norma atau adab yang benar dan baik, sehingga akan membawa pada kehidupan manusia yang tenteram, damai, harmonis, dan seimbang. Dengan demikian jelas bahwa nilainilai ajaran Islam merupakan nilai-nilai yang akan mampu membawa manusia pada kebahagiaan, kesejahteraan, dan keselamatan manusia baik dalam kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat kelak. Nilai-nilai agama Islam memuat Aturan-aturan Allah yang antara lain meliputi aturan yang mengatur tentang hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam secara keseluruhan.
    Secara umum ibadah memiliki arti segala sesuatu yang dilakukan manusia atas dasar patuh terhadap pencipta Nya sebagai jalan untuk mendekatka diri kepada Nya. Ibadah menurut bahasa (etimologis) adalah diambil dari kata ta’abbud yang berarti menundukkan dan mematuhi dikatakan thariqun mu’abbad yaitu : jalan yang ditundukkan yang sering dilalui orang. Ibadah dalam bahasa Arab berasal dari kata abda’ yang berarti menghamba. Jadi, meyakini bahwasanya dirinya hanyalah seorang hamba yang tidak memiliki keberdayaan apa- apa sehingga ibadah adalah bentuk taat dan hormat kepada Tuhan Nya.
    Pada dasarnya, tujuan akal dan pikiran adalah baik dan benar. Akan tetapi sebelum jalan akan dan fikiran itu diarahkan dengan baik, kebenaran dan kehendaknya itu belum tentu baik dan benar menurut Allah. Oleh sebab itulah manusia diberi beban atau taklif, yaitu perintah- perintah dan larangan- larangan menurut agama Allah SWT, yaitu agama Islam. Gunanya ialah untuk memperbaiki jalan akal pikirannya. 
    Ibadah merupakan perkara yang sakral. Artinya tidak ada suatu bentuk ibadah pun yang disyariatkan kecuali berdasarkan Al- Qur’an dan sunnah. Semua bentuk ibadah harus memiliki dasar apabila ingin melaksanakannya karena apa yang tidak disyariatkan berarti bid’ah, sebagaimana yang telah diketahui bahwa setiap bid’ah adalah sesat sehingga mana mungkin kita melaksanakan ibadah apabila tidak ada pedomannya? Sudah jelas, ibadah tersebut akan ditolak karena tidak sesuai dengan tuntunan dari Allah maupun Rasul Nya.
    Makna sesungguhnya dalam ibadah ketika seseorang diciptakan maka tidak semata- mata ada di dunia ini tanpa ada tujuan di balik penciptaannya tersebut Menumbuhkan kesadaran diri manusia bahwa ia adalah makhluk Allah SWT. yang diciptakan sebagai insan yang mengabdi kepada- Nya.
 
B. Sumber Nilai Agama Islam
    Nilai agama Islam sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial, tanpa nilai tersebut manusia akan turun tingkat kehidupan hewan yang amat rendah, karena agama megandung unsur kuratif terhadap perakit sosial. Nilai agama itu bersumber dari dua hal yaitu:
  1. Nilai Ilahi, yaitu nilai yang dititahkan Tuhan melalui Rosulnya yang berbentuk taqwa, iman, adil yang diabadikan dalam wahyu Illahi.AlQur’an dan sunnah merupakan sumber nilai ilahi, sehingga bersifat statis dan kebenarannya mutlak, sebagaimana firmannya dalam Al-Qur’an surat Al An’am ayat 115
  2. Nilai insaniah yaitu nilai yang tumbuh atas kesepakatan manusia serta hidup dan berkembang dari peradaban manusia. Nilai duniawi yang pertama bersumber dari ra’yu atau pemikiran yaitu memberikan penafsiran dan penjelasan terhadap Al-Qur’an dan Assunnah, hal yang berhubungan dengan kemasyarakatan yang tidak diatur dalam Al-Qur’an dan Assunnah. Yang bersumber dari adat istiadat seperti tata cara komunikasi, interaksi anatara sesama manusia dan sebagainya. Yang ketiga bersumber pada kenyataan alam seperti tata cara berpakaian, tata cara makan dan sebagainya. 
C. Macam-macam Nilai Agama Islam
    Mengkaji nilai-nilai agama Islam secara menyeluruh adalah tugas yang sangat besar, karena nilai-nilai Islam tersebut menyangkut berbagai aspek dan membutuhkan telaah yang luas. Pokok-pokok yang harus diperhatikan dalam ajaran agama Islam untuk mengetahui nilai-nilai agama Islam mencangkup tiga aspek, yaitu nilai tauhid, nilai syari’ah, dan nilai akhlak.
1. Nilai Tauhid/Akidah
    Akidah secara etimologi berarti yang terikat. Setelah terbentuk menjadi kata, akidah berarti perjanjian yang teguh dan kuat, terpatri dan tertanam di dalam lubuk hati yang paling dalam. Secara terminologis berarti credo, creed, keyakinan hidup iman dalam arti khas, yakni mengikrarkan yang bertolah dari hati. Dengan demikian akidah adalah urusan yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, menenteramkan jiwa, dan menjadi keyakinan yang tidak bercampur dengan keraguan.
      Karakteristik akidah Islam bersifat murni, baik dalam isi maupun prosesnya, dimana hanyalah Allah yang wajib diyakini, diakui dan disembah. Keyakinan tersebut sedikit menyekutukan (Musyrik) yang berdampak pada motivasi ibadah yang tidak sepenuhnya didasarkan pada panggilan Allah SWT. Dalam prosesnya, keyakinan tersebut harus langsung, tidak boleh melalui perantara. Akidah demikian yang akan melahirkan bentuk pengabdian hanya pada Allah, berjiwa bebas, merdeka dan tidak tunduk pada manusia dan pada makhluk tuhan yang lainnya.
    Akidah dalam Islam meliputi keyakinan dalam hati tentang Allah sebagai Tuhan yang wajib disembah, ucapan dengan lisan dalam bentuk dua kalimat syahadat, dan perbuatan dengan amal sholeh. Akidah dalam Islam mengandung arti bahwa dari seorang mukmin tidak ada rasa dalam hati, atau ucapan di mulut atau perbuatan melainkan secara keseluruhannya menggambarkan iman kepada 16 Allah, yakni tidak ada niat, ucapan dan perbuatan dalam diri seorang mukmin kecuali yang sejalan dengan kehendak Allah SWT.
    Akidah atau iman adalah pondasi kehidupan umat Islam, sedangkan ibadah adalah manifestasi dari iman. Kuat atau lemahnya ibadah seorang ditentukan oleh kualitas imannya. Dengan demikian iman harus mencangkup empat komponen yaitu: ucapan, perbuatan, niat (keyakinan), dan sesuai dengan sunnah Rasul. Sebab iman apabila hanya berbentuk usapan tanpa amal, berarti kafir, ucapan tanpa ada niat adalah munafik, sementara ucapan, amal niat, tapi tidak sesuai dengan sunnah Rasul adalah bid’ah.
Fungsi Akidah dalam kehidupan manusia adalah sebagai berikut:
a) Menuntun dan mengemban dasar ketuhanan yang dimiliki manusia sejak lahir. Manusia sejak lahir telah memiliki potensi kebergamaan (fitrah), sehingga sepanjang hidupnya membutuhkan agama dalam rangka mencari keyakinan terhadap Tuhan.
b) Memberikan ketenangan dan ketenteraman jiwa.
c) Memberikan dorongan hidup yang pasti.
Abu A’la al-Mahmudi dalam Muhammd Alim menyebutkan pengaruh akidah tauhid terhadapa kehidupan seorang muslim adalah sebgai berikut:
1) Menjauhkan manusia dari pandangan yang sempit dan picik.
2) Menanamkan kepercayaan terhadap diri sendidri dan tahu harga diri.
3) Membentuk manusia menjadi jujur dan adil.
4) Menghilangkan sifat murung dan putus asa dalam menghadapi setiappersoalan dan situasi.
5) Membentuk pendirian teguh, kesabaran, ketabahan dan optimisme.
6) Menanamkan sifat ksatria, semnagt dan berani, tidak gentar menghadapi resiko, bahkan tidak takut mati.
7) Menciptakan sikap hidup damai dan ridha.
8) Membentuk manusia menjadi patuh, taat dandisiplin menjalankan peraturan ilahi.
 
2. Nilai Akhlak
    Pengertian akhlak diambil dari bahasa arab berarti perangai, tabiat, adat, kejadian, buatan, ciptaan. Adapun pengertian akhlak secara terminologis, para ulama telah banyak mendefinisaikan, diantaranya Ibn Maskawih dalam buku Tahdzib al-Akhlaq, beliau mendefinisikan akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pikiran dan perimbangan. Selanjutnya Imam al-Ghozali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin menyatakan bahwa akhlak adalah gambaran tingkah laku dalam jiwa yang dari padanya lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan petimbangan. 
Nilai-nilai akhlak dapat dikatagorikan sebagai berikut:
a) Nilai Akhlak pada Allah
Akhlak kepada Allah dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk, kepada Tuhan sebagai Sang Khaliq. Ada beberapa alasan mengapa manusia perlu berakhlak kepada Allah yaitu:
  • Karena Allah telah menciptakan manusia
  • Karena Allah telah memberikan perlengkapan panca indera berupa pendengaran, penglihatan, akal pikiran dan hati nurani, disamping anggota badan kokoh dan sempurna
  • Karena Allah telah memuliakan manusia dengan diberikannya keilmuan serta kemampuan menguasai daratan dan lautan.
b) Nilai akhlak pada manusia
Akhlak kepada manusia adalah akhlak yang ditekankan pada setiap orang untuk selalu berbuat baik kepada tetangga, saudara dan orang lain yang belum dikenal. Nilai-nilai kepada manusia dapat dikatagorikan sebgai berikut:
  • Silaturahmi, yaitu pertalian rasa cinta kasih antara sesama manusia, khususnya antara saudara, kerabat, handai taulan, tetangga, dan seterusnya.
  • Persaudaraan, yaitu semnagat persaudaraan, tebih-lebih antar sesama kaum beriman (ukhuwah Islamiyah). Intinya agar manusia tidak mudah merendahkan golongan lain.
  • Persamaan, yaitu pandangan bahwa semua manusia sama harkat dan martabarnya.tanpa memandang jenis kelamin, ras ataupun suku bangsa.
  • Adil, yaitu wawasan yang seimbang dan memandang nilai atau menyikapi sesuatu atau seseseorang
  • Baik sangka, yaitu sikap penuh baik sangka kepada sesame manusia
  • Rendah Hati, yaitu sikap yang tumbuh karena keinsyafan bahwa segala kemuliaan hanya milik Allah
  • Tepat janji, yaitu salah satu sikap yang benar-benar beriman yang selalu menepati janji jika membuat perjanjian
  • Lapang dada (insyiraf), yaitu sikap penuh kesediaan menghargai pendapat dan pandangan orang lain
  • Dapat dipercaya (al-amanah). Salah satu konsekuensi iman ialah amanah atau pemampilan diri yang dapat dipercaya
  • Perwira, yaitu sikap penuh harga diri namun tidak sombong, tetap rendah hati, dan tidak mudah menunjukkan sikap memelas atau iba dengan maksud mengundang belas kasihan dan mengharap pertolongan orang lain
  • Hemat, yaitu sikap tidak boros dan tidak pula kikir dalam menggunakan harta, melainkan sedang diantara keduanya.
  • Dermawan, (menjalankan infaq), yaitu sikap kaum beriman yang memiliki kesediaan yang besar untuk menolong sesama manusia, terutama mereka yang kurang beruntung dengan mendermakan sebagian harta benda yang dikaruniakan dan diamanatkan Tuhan kepada mereka. 
c)    Nilai akhlak pada lingkungan
    Dalam pandangan Islam, seorang tidak dibenarkan mengambil buah matang, atau memetik bunga sebelum mekar, karena hal ini berarti tidak member kesempatan kepada makhluk untuk mencapai tujuan penciptaanya. Ini berarti manusia dituntut untuk mampu menghormati proses-proses yang sedang berjalan, dan terhadap semua proses yang sedang terjadi. Yang demikiaan mengantarkan manusia bertanggung jawab, sehingga ia tidak melalukan pengrusakan, bahkan dengan kata lain, setiap pengrusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai pengrusakan terhadap diri sendiri.

Suara Demokrasi SMPN 96

Jumat, 15 September 2023 SMPN 96 Jakarta menggelar Selebrasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang bertemakan Suara Demokrasi....