Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 15 September 2023

Suara Demokrasi SMPN 96

Jumat, 15 September 2023 SMPN 96 Jakarta menggelar Selebrasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang bertemakan Suara Demokrasi. Pagelaran selebrasi P5 yang dilaksanakan tersebut bertepatan dengan Hari Demokrasi Internasional yang jatuh pada tanggal yang sama. Selebrasi P5 dengan tema Suara Demokrasi digelar dengan tujuan untuk mengenalkan peserta didik tentang sistem demokrasi di Indonesia, dewan guru SMPN 96 berikhtiar memberikan pemahaman terkait demokrasi kepada peserta didik agar nantinya para peserta didik tersebut mampu menjadi generasi yang membawa perubahan bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik. Sebab pada saat ini, Indonesia mengalami stagnasi sistem demokrasinya, menurut penelitian yang dilakukan oleh Economist Intelligence Unit (EIU), Indonesia memperoleh skor 6,71 pada Indeks Demokrasi tahun 2022. Skor ini sama dengan nilai yang diperoleh Indonesia pada Indeks Demokrasi tahun 2021, dan Indonesia masih tetap dikategorikan sebagai negara demokrasi yang memiliki cacat/kekurangan (flawed democracy). Meskipun nilai indeks tetap stabil, peringkat Indonesia dalam skala global mengalami penurunan dari posisi 52 menjadi 54.

Kamis, 07 September 2023

Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam

A. Pengertian Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam
    Nilai adalah suatu keyakinan dan kepercayaan yang menjadi dasar seseorang atau kelompok untuk memilih tindakannya, atau menilai suatu yang bermakna bagi kehidupannya.  Para ahli pendidikan menyebutkan bahwa pada umumnya pengajaran adalah bagian dari pada pendidikan. Akan tetapi pendidikan ruang lingkupnya lebih luas dari pengajaran. Jadi pendidikan juga meliputi pengajaran. Konsep pendidikan yang ada di atas ini dapat dijadikan sebagai penegas, bahwa setiap adanya interaksi antara peserta didik dan pendidik dan didukung dengan lingkungan yang memadai, maka kejadian seperti ini sudah dinamakan sebagai pendidikan.
    Dengan demikian pendidikan yang dalam hal ini adalah pembelajaran Pendidikan Agama Islam, tidak harus dalam bentuk pengajaran pengajaran formal. Karena yang sangat penting dalam pendidikan ini adalah pengertian tentang nilai-nilai agama dan harus diketehui adalah cara mengetahui dan memahami tentang nilai-nilai Agama, tidak harus melalui pendidikan atau pembelajaran yang bersifat formal, bahkan ada atau sebagian besar dari peserta didik yang merasakan bahwa pendidikan yang bersifat tidak sengaja dan terjadi didepan kita, maka itu akan mudah kita dapatkan dan dengan mudah dicerna oleh masing-masing individu.
    Pendidikan agama pada umumnya dan pendidikan agama Islam pada khususnya sangat diperlukan dalam membentuk manusia-manusia pembangunan yang ber-Pancasila dan untuk membentuk manusia Indonesia yang sehat, baik jasmani maupun rohani. Pendidikan agama Islam dicantumkan dalam urutan nomor satu dari sembilan bidang studi yang harus diselesaikan dalam perencanaan program pengajaran di sekolah dasar. Program studi pendidikan agama merupakan program wajib yang harus diikuti oleh setiap anak didik pada sepanjang tahun selama bersekolah.
    Nilai-nilai agama Islam pada hakikatnya adalah kumpulan dari prinsip-prinsip hidup, ajaran-ajaran tentang bagaimana manusia seharusnya menjalankan kehidupannya di dunia ini, yang satu prinsip dengan lainnya saling terkait membentuk satu kesatuan yang utuh tidak dapat dipisah-pisahkan. Jangan dikira bahwa ada satu nilai berdiri sendiri. Jadi Islam itu pada dasarnya adalah satu sistem, satu paket, paket nilai yang saling terkait satu sama lain, membentuk apa yang disebut sebagai teori-teori Islam yang baku.
    Aspek nilai-nilai ajaran Islam pada intinya dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu nilai-nilai ibadah, nilai-nilai aqidah, dan nilai-nilai akhlak. Dalam Al Qur’an terdapat nilai-nilai normative yang menjadi acuan dalam pendidikan Islam. Nilai yang dimaksud terdiri atas tiga pilar utama, yaitu:
  1. I’tiqadiyyah, yang berkaitan dengan pendidikan keimanan, seperti percaya kepada Allah, malaikat, rosul, kitab, hari akhir dan takdir, yang bertujuan untuk menata kepercayaan individu.
  2. Khuluqiyah, yang berkaitan dengan pendidikan etika, yang bertujuan untuk membersihkan diri dari perilaku rendah dan menghiasi dari dengan perilaku terpuji.
  3. Amaliyyah, yang berkaitan dengan pendidikan tingkah laku sehari-hari, baik berhubungan dengan `pendidikan ibadah dan pendidikan muamalah.
    Pengamalan konsep nilai-nilai ibadah akan melahirkan manusia-manusia yang adil, jujur, dan suka membantu sesamanya. Selanjutnya yang terakhir nilai-nilai akhlak mengajarkan kepada manusia untuk bersikap dan berperilaku yang baik sesuai norma atau adab yang benar dan baik, sehingga akan membawa pada kehidupan manusia yang tenteram, damai, harmonis, dan seimbang. Dengan demikian jelas bahwa nilainilai ajaran Islam merupakan nilai-nilai yang akan mampu membawa manusia pada kebahagiaan, kesejahteraan, dan keselamatan manusia baik dalam kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat kelak. Nilai-nilai agama Islam memuat Aturan-aturan Allah yang antara lain meliputi aturan yang mengatur tentang hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam secara keseluruhan.
    Secara umum ibadah memiliki arti segala sesuatu yang dilakukan manusia atas dasar patuh terhadap pencipta Nya sebagai jalan untuk mendekatka diri kepada Nya. Ibadah menurut bahasa (etimologis) adalah diambil dari kata ta’abbud yang berarti menundukkan dan mematuhi dikatakan thariqun mu’abbad yaitu : jalan yang ditundukkan yang sering dilalui orang. Ibadah dalam bahasa Arab berasal dari kata abda’ yang berarti menghamba. Jadi, meyakini bahwasanya dirinya hanyalah seorang hamba yang tidak memiliki keberdayaan apa- apa sehingga ibadah adalah bentuk taat dan hormat kepada Tuhan Nya.
    Pada dasarnya, tujuan akal dan pikiran adalah baik dan benar. Akan tetapi sebelum jalan akan dan fikiran itu diarahkan dengan baik, kebenaran dan kehendaknya itu belum tentu baik dan benar menurut Allah. Oleh sebab itulah manusia diberi beban atau taklif, yaitu perintah- perintah dan larangan- larangan menurut agama Allah SWT, yaitu agama Islam. Gunanya ialah untuk memperbaiki jalan akal pikirannya. 
    Ibadah merupakan perkara yang sakral. Artinya tidak ada suatu bentuk ibadah pun yang disyariatkan kecuali berdasarkan Al- Qur’an dan sunnah. Semua bentuk ibadah harus memiliki dasar apabila ingin melaksanakannya karena apa yang tidak disyariatkan berarti bid’ah, sebagaimana yang telah diketahui bahwa setiap bid’ah adalah sesat sehingga mana mungkin kita melaksanakan ibadah apabila tidak ada pedomannya? Sudah jelas, ibadah tersebut akan ditolak karena tidak sesuai dengan tuntunan dari Allah maupun Rasul Nya.
    Makna sesungguhnya dalam ibadah ketika seseorang diciptakan maka tidak semata- mata ada di dunia ini tanpa ada tujuan di balik penciptaannya tersebut Menumbuhkan kesadaran diri manusia bahwa ia adalah makhluk Allah SWT. yang diciptakan sebagai insan yang mengabdi kepada- Nya.
 
B. Sumber Nilai Agama Islam
    Nilai agama Islam sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial, tanpa nilai tersebut manusia akan turun tingkat kehidupan hewan yang amat rendah, karena agama megandung unsur kuratif terhadap perakit sosial. Nilai agama itu bersumber dari dua hal yaitu:
  1. Nilai Ilahi, yaitu nilai yang dititahkan Tuhan melalui Rosulnya yang berbentuk taqwa, iman, adil yang diabadikan dalam wahyu Illahi.AlQur’an dan sunnah merupakan sumber nilai ilahi, sehingga bersifat statis dan kebenarannya mutlak, sebagaimana firmannya dalam Al-Qur’an surat Al An’am ayat 115
  2. Nilai insaniah yaitu nilai yang tumbuh atas kesepakatan manusia serta hidup dan berkembang dari peradaban manusia. Nilai duniawi yang pertama bersumber dari ra’yu atau pemikiran yaitu memberikan penafsiran dan penjelasan terhadap Al-Qur’an dan Assunnah, hal yang berhubungan dengan kemasyarakatan yang tidak diatur dalam Al-Qur’an dan Assunnah. Yang bersumber dari adat istiadat seperti tata cara komunikasi, interaksi anatara sesama manusia dan sebagainya. Yang ketiga bersumber pada kenyataan alam seperti tata cara berpakaian, tata cara makan dan sebagainya. 
C. Macam-macam Nilai Agama Islam
    Mengkaji nilai-nilai agama Islam secara menyeluruh adalah tugas yang sangat besar, karena nilai-nilai Islam tersebut menyangkut berbagai aspek dan membutuhkan telaah yang luas. Pokok-pokok yang harus diperhatikan dalam ajaran agama Islam untuk mengetahui nilai-nilai agama Islam mencangkup tiga aspek, yaitu nilai tauhid, nilai syari’ah, dan nilai akhlak.
1. Nilai Tauhid/Akidah
    Akidah secara etimologi berarti yang terikat. Setelah terbentuk menjadi kata, akidah berarti perjanjian yang teguh dan kuat, terpatri dan tertanam di dalam lubuk hati yang paling dalam. Secara terminologis berarti credo, creed, keyakinan hidup iman dalam arti khas, yakni mengikrarkan yang bertolah dari hati. Dengan demikian akidah adalah urusan yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, menenteramkan jiwa, dan menjadi keyakinan yang tidak bercampur dengan keraguan.
      Karakteristik akidah Islam bersifat murni, baik dalam isi maupun prosesnya, dimana hanyalah Allah yang wajib diyakini, diakui dan disembah. Keyakinan tersebut sedikit menyekutukan (Musyrik) yang berdampak pada motivasi ibadah yang tidak sepenuhnya didasarkan pada panggilan Allah SWT. Dalam prosesnya, keyakinan tersebut harus langsung, tidak boleh melalui perantara. Akidah demikian yang akan melahirkan bentuk pengabdian hanya pada Allah, berjiwa bebas, merdeka dan tidak tunduk pada manusia dan pada makhluk tuhan yang lainnya.
    Akidah dalam Islam meliputi keyakinan dalam hati tentang Allah sebagai Tuhan yang wajib disembah, ucapan dengan lisan dalam bentuk dua kalimat syahadat, dan perbuatan dengan amal sholeh. Akidah dalam Islam mengandung arti bahwa dari seorang mukmin tidak ada rasa dalam hati, atau ucapan di mulut atau perbuatan melainkan secara keseluruhannya menggambarkan iman kepada 16 Allah, yakni tidak ada niat, ucapan dan perbuatan dalam diri seorang mukmin kecuali yang sejalan dengan kehendak Allah SWT.
    Akidah atau iman adalah pondasi kehidupan umat Islam, sedangkan ibadah adalah manifestasi dari iman. Kuat atau lemahnya ibadah seorang ditentukan oleh kualitas imannya. Dengan demikian iman harus mencangkup empat komponen yaitu: ucapan, perbuatan, niat (keyakinan), dan sesuai dengan sunnah Rasul. Sebab iman apabila hanya berbentuk usapan tanpa amal, berarti kafir, ucapan tanpa ada niat adalah munafik, sementara ucapan, amal niat, tapi tidak sesuai dengan sunnah Rasul adalah bid’ah.
Fungsi Akidah dalam kehidupan manusia adalah sebagai berikut:
a) Menuntun dan mengemban dasar ketuhanan yang dimiliki manusia sejak lahir. Manusia sejak lahir telah memiliki potensi kebergamaan (fitrah), sehingga sepanjang hidupnya membutuhkan agama dalam rangka mencari keyakinan terhadap Tuhan.
b) Memberikan ketenangan dan ketenteraman jiwa.
c) Memberikan dorongan hidup yang pasti.
Abu A’la al-Mahmudi dalam Muhammd Alim menyebutkan pengaruh akidah tauhid terhadapa kehidupan seorang muslim adalah sebgai berikut:
1) Menjauhkan manusia dari pandangan yang sempit dan picik.
2) Menanamkan kepercayaan terhadap diri sendidri dan tahu harga diri.
3) Membentuk manusia menjadi jujur dan adil.
4) Menghilangkan sifat murung dan putus asa dalam menghadapi setiappersoalan dan situasi.
5) Membentuk pendirian teguh, kesabaran, ketabahan dan optimisme.
6) Menanamkan sifat ksatria, semnagt dan berani, tidak gentar menghadapi resiko, bahkan tidak takut mati.
7) Menciptakan sikap hidup damai dan ridha.
8) Membentuk manusia menjadi patuh, taat dandisiplin menjalankan peraturan ilahi.
 
2. Nilai Akhlak
    Pengertian akhlak diambil dari bahasa arab berarti perangai, tabiat, adat, kejadian, buatan, ciptaan. Adapun pengertian akhlak secara terminologis, para ulama telah banyak mendefinisaikan, diantaranya Ibn Maskawih dalam buku Tahdzib al-Akhlaq, beliau mendefinisikan akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pikiran dan perimbangan. Selanjutnya Imam al-Ghozali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin menyatakan bahwa akhlak adalah gambaran tingkah laku dalam jiwa yang dari padanya lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan petimbangan. 
Nilai-nilai akhlak dapat dikatagorikan sebagai berikut:
a) Nilai Akhlak pada Allah
Akhlak kepada Allah dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk, kepada Tuhan sebagai Sang Khaliq. Ada beberapa alasan mengapa manusia perlu berakhlak kepada Allah yaitu:
  • Karena Allah telah menciptakan manusia
  • Karena Allah telah memberikan perlengkapan panca indera berupa pendengaran, penglihatan, akal pikiran dan hati nurani, disamping anggota badan kokoh dan sempurna
  • Karena Allah telah memuliakan manusia dengan diberikannya keilmuan serta kemampuan menguasai daratan dan lautan.
b) Nilai akhlak pada manusia
Akhlak kepada manusia adalah akhlak yang ditekankan pada setiap orang untuk selalu berbuat baik kepada tetangga, saudara dan orang lain yang belum dikenal. Nilai-nilai kepada manusia dapat dikatagorikan sebgai berikut:
  • Silaturahmi, yaitu pertalian rasa cinta kasih antara sesama manusia, khususnya antara saudara, kerabat, handai taulan, tetangga, dan seterusnya.
  • Persaudaraan, yaitu semnagat persaudaraan, tebih-lebih antar sesama kaum beriman (ukhuwah Islamiyah). Intinya agar manusia tidak mudah merendahkan golongan lain.
  • Persamaan, yaitu pandangan bahwa semua manusia sama harkat dan martabarnya.tanpa memandang jenis kelamin, ras ataupun suku bangsa.
  • Adil, yaitu wawasan yang seimbang dan memandang nilai atau menyikapi sesuatu atau seseseorang
  • Baik sangka, yaitu sikap penuh baik sangka kepada sesame manusia
  • Rendah Hati, yaitu sikap yang tumbuh karena keinsyafan bahwa segala kemuliaan hanya milik Allah
  • Tepat janji, yaitu salah satu sikap yang benar-benar beriman yang selalu menepati janji jika membuat perjanjian
  • Lapang dada (insyiraf), yaitu sikap penuh kesediaan menghargai pendapat dan pandangan orang lain
  • Dapat dipercaya (al-amanah). Salah satu konsekuensi iman ialah amanah atau pemampilan diri yang dapat dipercaya
  • Perwira, yaitu sikap penuh harga diri namun tidak sombong, tetap rendah hati, dan tidak mudah menunjukkan sikap memelas atau iba dengan maksud mengundang belas kasihan dan mengharap pertolongan orang lain
  • Hemat, yaitu sikap tidak boros dan tidak pula kikir dalam menggunakan harta, melainkan sedang diantara keduanya.
  • Dermawan, (menjalankan infaq), yaitu sikap kaum beriman yang memiliki kesediaan yang besar untuk menolong sesama manusia, terutama mereka yang kurang beruntung dengan mendermakan sebagian harta benda yang dikaruniakan dan diamanatkan Tuhan kepada mereka. 
c)    Nilai akhlak pada lingkungan
    Dalam pandangan Islam, seorang tidak dibenarkan mengambil buah matang, atau memetik bunga sebelum mekar, karena hal ini berarti tidak member kesempatan kepada makhluk untuk mencapai tujuan penciptaanya. Ini berarti manusia dituntut untuk mampu menghormati proses-proses yang sedang berjalan, dan terhadap semua proses yang sedang terjadi. Yang demikiaan mengantarkan manusia bertanggung jawab, sehingga ia tidak melalukan pengrusakan, bahkan dengan kata lain, setiap pengrusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai pengrusakan terhadap diri sendiri.

Senin, 03 Juli 2023

Konsep Demo Ekskul Yang Efektif & Sederhana

 

Setiap sekolah di jenjang menengah pertama maupun atas, pada umumnya memiliki kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) yang menjadi wadah untuk mengembangkan potensi peserta didik di luar jam pelajaran, sehingga dapat menumbuhkan minat dan bakat peserta didik dalam pembentukan karakter dan pelatihan kepemimpinan. Pengertian ekstrakurikuler itu sendiri adalah kegiatan yang diselenggarakan di luar jam pelajaran dan tercantum dalam susunan program sesuai keadaan dan kebutuhan sekolah. Umumnya, kegiatan ekskul dirancang secara khusus sesuai dengan faktor minat dan bakat siswa. Untuk mengenalkan kegiatan ekskul kepada para peserta didik, biasanya disosialisasikan pada saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), ketika MPLS itu lah seluruh kegiatan ekskul di sekolah dikenalkan kepada peserta didik baru agar nantinya para peserta didik baru ini bisa memilih kegiatan ekskul yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Pengenalan kegiatan ekskul saat kegiatan MPLS itu dikemas dengan menampilkan demo ekskul yang menjelaskan dan mendemonstrasikan kegiatan atau program-program ekskul tersebut. Dalam menampilkan demo ekskul, masing-masing unit kegiatan ekskul mengemas demonstrasinya dengan pertunjukan yang merepresentasikan kegiatan ekskulnya, termasuk di antaranya itu ekskul Rohani Islam (Rohis). Kegiatan ekskul Rohis yang selalu berkenaan dengan kegiatan keagamaan di sekolah, patut disosialisasikan dengan baik dan efektif melalui penampilan demo ekskul saat MPLS. Oleh karenanya, pada blog ini akan diberikan konsep demo ekskul Rohis yang efektif dan sederhana melalui penampilan dialog perkenalan yang interaktif. Dibutuhkan dua orang yang tampil di depan menjadi pemeran, berikut contoh dialog perkenalan ekskul Rohis:

Upin dan Ipin mengucapkan salam secara bersama-sama “Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh.”

Upin      : hallo teman-teman semua, apa kabarnya nih? (menanyakan kabar kepada audiens peserta MPLS) wah pada semangat dan antusias ya semuanya, semoga senantiasa sehat dan bahagia hingga akhir MPLS nanti.. aaamiin.

Ipin        : oh iya Upin, kita ngapain ya kira-kira di depan sini?

Upin      : teman-teman semua, ada yang sudah tahu belum kami berdua di depan sini mau ngapain?

Ipin        : kalian semua mau tahu aja atau mau tahu banget nih???

Upin      : oke kami akan kasih tahu ya, jadi kami berdua di depan sini akan mengenalkan kepada kalian terkait ekstrakurikuler Rohis

Ipin        : wahh ekskul Rohis pin?, teman-teman sudah pernah dengar belum apa itu Rohis?

Upin      : jadi Rohis itu adalah singkatan dari Rohani Islam, yang mana ekskul Rohani Islam ini sebagai salah satu organisasi di sekolah yang berlandaskan ajaran Islam serta menjadi wadah pembelajaran agama bagi seluruh peserta didik yang muslim.

Ipin        : wah Masya Allah, jadi kehadiran Rohis ini juga sebagai wadah untuk memperdalam ilmu agama ya pin, hmm menurutku itu bagus banget si. Terus kalau tujuan Rohis itu sendiri apa si?

Upin      : tujuan rohis sendiri yaitu: Menjadi organisasi yang dapat membentuk pribadi siswa yang berakhlakul karimah, bertanggung jawab dan berprestasi. Serta mewujudkan generasi muslim yang beriman, berilmu dan bertakwa untuk memperoleh ridho Allah Subhanahu wata’ala.

Ipin        : waw Masya Allah, tujuannya sangat mulia ya pin. Terus kegiatan yang ada di dalam ekskul Rohis itu apa aja?

Upin      : di antaranya itu ada Kajian Keislaman, Belajar Al-Quran Tajwid, Peringatan Hari Besar Islam, Mentoring dan Konsultasi Agama. Nah itu kegiatan yang ada di dalam ekskul Rohis. Kalau kegiatan rohis yang paling kamu suka apa Ipin?

Ipin        : kegiatan rohis yang paling aku suka itu Peringatan Hari Besar Islam pin, karena pas PHBI itu banyak sekali event yang ada di sekolah, di antaranya itu ada tabligh akbar dan ada lomba keterampilan agama. Makanya aku senang banget kalau ada kegiatan PHBI, pasti aku ikut lombanya.

Upin      : wah iya ya, kamu kan sering ikut lomba tilawah al-quran ya, dan selalu dapet juara juga ya?

Ipin        : iya pin.. Alhamdulillah hehe J

Upin      : aku mau dengar tilawah al-quran kamu dong Ipin, spill aja sebentar.. hafalan surah yang juz 30 aja. Gimana teman-teman, kalian setuju kan kita dengerin hafalannya Ipin? (bertanya kepada audiens)

Ipin        : oke aku akan bacakan ya, tapi kalian harus mendengarkan ya jangan ada yang berisik.

Upin      : oke teman-teman kalian dengarkan dengan baik ya, jangan ada yang berbicara apalagi berisik, mari kita simak hafalan dari Ipin....

Ipin melantunkan hafalannya

Upin      : MasyaAllah bagus banget hafalan kamu Ipin, dan lancar banget lagi! Pantesan kamu juara lomba terus, gimana teman-teman bagus banget ya hafalannya Ipin? (bertanya kepada audiens) Kalau kalian ingin pintar dan lancar mengajinya silakan gabung ekskul Rohis ya teman-teman, kegiatan rutin rohis itu setiap hari Selasa jam 14.00 sepulang sekolah, dan setiap hari Jumat ada khataman Al-Quran juga sehabis shalat Jumat.

Ipin        : teman-teman yang berbahagia, sebagai seorang muslim kita diwajibkan untuk menuntut ilmu agama, karena ilmu agama itulah yang akan menjadi bekal kita ketika di akhirat nanti. Oleh sebab itu, ikutlah kegiatan rohani islam agar kita bisa belajar dan memperdalam ilmu agama.

Upin      : oh iya teman-teman, sebelum perkenalan ini kami akhiri, ada sedikit pantun yang ingin saya sampaikan ni, mau dengar tidak?? Oke dengarkan ya...

                                      Padi mati karena hama

Hama muncul di waktu malam

Jika ingin belajar agama

Ayo masuk Rohani Islam

Upin      : demikian perkenalan ekskul rohis yang kami sampaikan, lebih kurangnya mohon maaf

Upin dan Ipin kembali bersama-sama mengucapkan salam: “Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh.

Jumat, 03 Februari 2023

Himpunan Mahasiswa Islam


Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada hakikatnya bukanlah organisasi massa dalam pengertian fisik atau politik, melainkan wadah atas pendidikan dan alat perubahan. Dalam hal ini HMI menempatkan dirinya sebagai bagian umat Islam secara keseluruhan bukan sebagai sebuah kelompok yang merasa memiliki dan memonopoli kebenaran Islam. Pada proses pendidikan kader dan perubahan masyarakat dituntut untuk dapat menerima segala jenis individu yang memiliki keberagaman pemahaman keislaman serta dituntut untuk dapat berinteraksi dalam segala bentuk masyarakat yang memiliki keberagaman ideologi. Sebagai wadah pendidikan HMI berusaha dengan kesungguhan dan dengan totalitasnya membentuk mahasiswa yang dapat melakukan perbaikan masyarakat di segala medan perjuangan dan di segala waktu. Sebagai alat perubahan HMI secara tekun dan istiqomah melakukan perbaikan-perbaikan kehidupan masyarakat dengan melibatkan diri secara langsung dalam proses amar ma'ruf nahi munkar pada sistem sosial masyarakat umum.

Jumat, 11 Maret 2022

Adab Seorang Guru kepada Muridnya

 

Ada sekelompok anak muda sedang menghadiri resepsi pernikahan temannya, suatu ketika salah seorang dari mereka melihat guru SMA-nya. Kemudian murid itu langsung menyalami gurunya dengan penuh penghormatan, seraya berkata:

"Masih ingat saya kan, pak guru?”

Gurunya menjawab, “wah maaf, saya lupa."

Murid itu bertanya keheranan, "Masa sih, pak guru lupa dengan saya..?"

"Saya itu kan murid yang dahulu pernah mencuri jam tangan kepunyaan teman di kelas pak." Murid itu lanjut menceritakan

"Waktu itu ketika anak yang kehilangan jam itu menangis, pak guru menyuruh kami semua untuk berdiri, karena akan dilakukan penggeledahan dari saku murid semuanya."

"Saat itu saya berfikir, bahwa saya akan dipermalukan di hadapan para murid dan para guru, serta akan menjadi tumpahan ejekan dan hinaan, mereka akan memberikan gelar kepada saya: "pencuri" dan harga diri saya pasti akan hancur, selama hidup saya."

"Bapak menyuruh kami berdiri menghadap tembok dan menutup mata kami semua."

"Bapak menggeledah kantong kami, dan ketika tiba giliran saya, Bapak ambil jam tangan itu dari kantong saya, kemudian Bapak lanjutkan penggeledahan sampai murid terakhir."

"Setelah selesai, Pak guru menyuruh kami membuka penutup mata, dan kembali ke tempat duduk masing-masing."

"Saya takut Bapak akan membongkar perilaku saya dan mempermalukan saya di depan murid-murid lain yang semuanya itu adalah teman-teman saya."

"Bapak tunjukkan jam tangan itu dan Bapak berikan kepada pemiliknya, tanpa menyebutkan siapa yang mencurinya."

"Selama saya belajar di sekolah itu, Bapak tidak pernah bicara sepatah kata pun tentang kasus jam tangan itu, dan tidak ada seorang pun guru maupun murid yang bicara tentang pencurian jam tangan itu."

"Bapak masih ingat saya kan  pak..?"

"Bagaimana mungkin Bapak Lupa..??"

"Saya adalah murid Bapak, dan cerita itu adalah cerita pedih yang tak akan terlupakan selama hidup saya."

"Saya sangat mengagumi Bapak. Sejak peristiwa itu saya berubah menjadi orang yang baik dan benar hingga sekarang saya jadi orang sukses.

Saya mencontoh semua akhlak mulia dan perilaku baik Bapak."

Sang Guru itu pun menjawab :

"Sungguh aku tidak mengingatmu nak, karena pada saat menggeledah itu, aku sengaja menutup mataku, agar aku tidak mengenalmu."

"Karena aku tidak mau merasa kecewa atas perbuatan salah satu muridku, aku sangat mencintai semua murid-muridku..."

Minggu, 06 Februari 2022

Manusia & Suling Bambu

 

Maulana Jalaluddin Rumi mengibaratkan manusia itu seperti Suling Bambu..
Suling yg terbuat dari bambu sangat merindukan tempat asalnya, yakni pohon bambu yang rimbun..
Begitu pula manusia yang merindukan asalnya yakni Tuhan yang maha pencipta..
Alunan suara suling yang terdengar hakikatnya adalah suara rintihan kerinduan suling ketika masih menjadi bambu, begitu pula manusia yang hatinya bergemuruh kerinduan ketika jiwanya masih digenggaman sang pencipta..
"Sesungguhnya kita semua milik-Nya dan akan kembali kepada-Nya"

Rabu, 26 Januari 2022

Pola Pendidikan HMI

 Oleh : Wahido Amarsyah

Pendidikan merupakan investasi dalam pengembangan sumber daya manusia, di mana peningkatan kecakapan dan kemampuan diyakini sebagai faktor pendukung upaya manusia dalam mengarungi kehidupan yang semakin berkembang, oleh karenanya pendidikan bukan hanya ditujukan pada pembinaan keterampilan, melainkan pada pengembangan kecakapan serta kemampuan-kemampuan teoritis dan praktis berdasarkan konsep-konsep berfikir ilmiah. Dengan istilah sederhananya, pendidikan merupakan alat yang digunakan untuk mengembangkan kemampuan seseorang, baik dari sisi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pendidikan bisa didapatkan di dalam tiga lingkungan (tripusat pendidikan), yang di mana ketiga lingkungan itu merupakan sarana seorang individu untuk mendapatkan pendidikan, pertama di lingkungan keluarga (informal), kedua di lingkungan sekolah/kampus (formal), dan yang ketiga di lingkungan masyarakat atau organisasi kepemudaan (nonformal). Seseorang bisa bebas memilih jalur mana saja yang hendak ia jadikan jalan untuk menempa bakat dan potensi dalam dirinya, bahkan pada saat menempuh pendidikan formal pun seorang individu berhak juga ikut dalam kegiatan-kegiatan pendidikan nonformal.

Kegiatan pendidikan formal dapat berjalan beriringan dengan pendidikan nonformal, bahkan keduanya itu saling keterkaitan, bisa saling membutuhkan dan saling menguntungkan (simbiosis mutualisme). Contoh kasus pendidikan formal yang dapat berjalan beriringan dengan pendidikan nonformal ialah kampus dengan organisasi, kampus merupakan lembaga pendidikan yang di mana mahasiswa sebagai peserta didik di dalamnya diajarkan, dididik serta dikembangkan potensi akademiknya, dan organisasi merupakan lembaga nonformal atau wadah yang menunjang kebutuhan mahasiswa di luar bangku kuliahnya, yang di sana mahasiswa dapat mengembangkan kreativitas dan keterampilannya, mengasah minat dan bakatnya, lalu di organisasi pula mahasiswa dapat mengembangkan potensi dirinya. Oleh karena itu kampus dan organisasi saling keterkaitan dan saling membutuhkan, sebab ruang-ruang akademik seperti di kelas-kelas kampus dan laboratorium tidak akan cukup maksimal digunakan untuk mengembangkan bakat seseorang, sehingga seorang mahasiswa perlu mendapatkan pendidikan dan pengalaman lebih di luar bangku kuliah melalui organisasi yang di mana sebagai wadah untuk mengasah kemampuan dan bakat yang terpendam dalam diri mahasiswa.

Organisasi yang bisa menjadi wadah mahasiswa untuk mengasah kemampuan dan bakatnya dapat ditemukan ke dalam dua macam, yaitu: organisasi intra kampus dan organisasi mahasiswa ekstra kampus (omek). Organisasi itu sendiri mempunyai pengertian, yaitu merupakan bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama,[1] dalam pengertian lainnya Stephen P Robbins menyatakan bahwa organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.[2] Mahasiswa bebas memilih untuk bergabung ke organisasi mana yang dapat menjadi wadah untuk dia mengembangkan potensi dirinya serta belajar segala hal di luar bangku perkuliahan. Adapun organisasi intra kampus itu sendiri merupakan organisasi yang berdiri secara formal di dalam sebuah perguruan tinggi dan memiliki kedudukan resmi dan melekat dengan perguruan tinggi itu sendiri. Sedangkan organisasi mahasiswa ekstra kampus atau eksternal kampus merupakan organisasi yang tidak berada dibawah naungan perguruan tinggi melainkan berada di luar kampus, yang di mana organisasi ini banyak beraktifitas di luar kampus, dan memiliki jaringan serta kepengurusan yang berjenjang atau bertingkat hingga pengurus tingkat nasional bahkan tingkat internasional.

Tak hanya organisasi intra kampus, kini organisasi mahasiswa ekstra kampus (omek) pun sangat banyak keberadaannya di perguruan tinggi seluruh Indonesia dan rata-rata di setiap perguruan tinggi itu ada lebih dari satu omek, yang artinya mahasiswa disuguhkan pilihan untuk masuk ke dalam omek mana yang mereka inginkan, yang di mana sesuai dengan kriterianya untuk memenuhi kebutuhannya dalam menunjang pendidikannya maupun mengembangkan potensi dirinya. Kini mahasiswa yang memang memiliki keinginan untuk mengenyam pendidikan yang lebih melalui berorganisasi, sangatlah bebas dalam memilih organisasi mana yang ingin mereka masuki, baik itu organisasi intra kampus maupun organisasi mahasiswa ekstra kampus (omek). Dan jika dilihat pada posisi sekarang ini, sudah semakin banyak pertumbuhan omek di seluruh penjuru nusantara, salah satu di antaranya ialah Himpunan Mahasiswa Islam.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan organisasi mahasiswa muslim tertua di Indonesia, yang lahir pada hari Rabu tanggal 5 Februari 1947 di Sekolah Tinggi Islam (STI) Yogyakarta (sekarang bernama Universitas Islam Indonesia). Pada awal mula berdirinya, HMI memiliki tujuan awal yang sangat kental dengan nilai-nilai pendidikan yakni mempertegak dan mengembangkan ajaran agama Islam. Pada saat itu HMI sangat aktif dalam pengembangan ajaran Islam, yakni melalui aktivitas ceramah di surau-surau dan pelatihan-pelatihan yang dilaksanakan guna mendidik mahasiswa muslim agar senantiasa memahami dan mampu mengamalkan ajaran Islam di dalam kehidupannya sehari-hari.[3] Sebab pada dasarnya pendidikan bukan hanya sekedar transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) melainkan sekaligus juga transfer nilai (transfer of value), oleh karenanya penanaman nilai-nilai budaya dan karakter bangsa dalam pendidikan selalu HMI lakukan melalui sistem pendidikan yang HMI miliki sendiri. Sistem pendidikan yang ada di tubuh HMI itu mempunyai nama lain yakni perkaderan, melalui perkaderan lah HMI mendidik kader-kadernya agar dapat mencapai tujuan organisasi HMI yakni terbinanya mahasiswa Islam menjadi insan ulul albab yang turut bertanggung jawab atas terwujudnya tatanan masyarakat yang diridhai Allah Subhanahu wa ta’ala.

Upaya organisasi HMI dalam mewujudkan tujuannya yang dituang ke dalam bentuk pendidikan melalui sistem perkaderannya merupakan wujud kepedulian HMI dalam melahirkan dan membina sumber daya manusia (SDM) sebagai generasi-generasi yang pastinya akan menjadi pewaris peradaban yang diharapkan dan dibutuhkan bangsa ini. Upaya pendidikan tersebut, HMI kemas dalam entitas kaderisasi yang membawa nilai-nilai perkaderan dan perjuangan untuk mengakselerasi perubahan masyarakat yang konstruktif menuju tata sosial yang lebih baik. Karena itu, gerak HMI senantiasa mengarah pada cita ideal masyarakat yang diridhai Allah SWT sebagai perwujudan sosiologis tujuan HMI. SDM yang HMI lahirkan dalam membentuk tatanan masyarakat ideal adalah kader-kader berkualitas yang relevan dengan tugas dan tanggung jawabnya. Kader yang dikembangkan HMI adalah sosok kader ideal sebagaimana yang telah digambarkan dalam Al-Qur’an, yaitu sosok ulul albab. Untuk melahirkan sosok kader-kader semacam itu tentunya melalui proses pendidikan yang HMI muat dalam sistem perkaderan yang komprehensif dan dinamis, yang secara konseptual dan operasional tetap berpijak pada acuan dasar organisasi.

Proses pendidikan yang dimuat ke dalam sistem perkaderan di HMI memiliki pondasi kuat yang diformulasikan sebagai asas-asas perkaderan, asas perkaderan itu sendiri ialah prinsip-prinsip yang menjiwai semangat pelaksanaan pendidikan dan perkaderan HMI. Beberapa asas yang harus dikembangkan dalam proses perkaderan:

1.      Asas ketaqwaan, artinya perkaderan itu harus meningkatkan ketaqwaan pribadi kader.

2.      Asas kepejuangan, artinya bahwa perkaderan itu harus merupakan manifestasi dari perjuangan untuk menuju keadaan yang lebih baik.

3.      Asas keumatan, artinya bahwa perkaderan itu harus dapat memberi manfaat langsung ataupun tidak langsung terhadap peningkatan kehidupan umat. Selaras dengan prinsip pendidikan yang hadir sebagai pencerahan kehidupan umat dan bangsa.

4.      Asas kesinambungan, artinya perkaderan itu harus memproses secara terus menerus tidak terbatas pada dimensi ruang dan waktu, sekaligus mampu menopang kesinambungan perjuangan organisasi khususnya dan perjuangan Islam pada umumnya.

5.      Asas kemandirian, artinya bahwa perkaderan itu menciptakan kondisi yang dinamis untuk melahirkan kader-kader yang mandiri dalam bersikap, berfikir dan memutuskan sesuatu persoalan pribadi maupun kelembagaan.

6.      Asas persaudaraan, artinya bahwa perkaderan itu mampu menciptakan dan memperkuat ikatan persaudaraan (ukhuwah) di kalangan kader HMI itu sendiri dan dengan sesamanya.

7.      Asas keteladanan, artinya bahwa perkaderan itu harus memperhatikan aspek-aspek keteladanan sebagai faktor penting dalam proses perkaderan dan pendidikan di HMI.[4]

Adapun tujuan perkaderan ialah untuk membentuk Kader Cita HMI yang ideal. Karateristik ideal tersebut terformulasi dalam ungkapan Al-Qur’an sebagai ulul albab, dengan kualifikasi sebagai berikut:

1.      Hanya takut kepada Allah SWT:

a.       Berjiwa berani dalam menghadapi tantangan dalam bentuk apapun

b.      Tawakal kepada Allah SWT dan hanya mengharap ridha- Nya.

2.      Tekun beribadah:

a.       Taat menjalankan ibadah mahdhah yang diajarkan Rasulullah SAW

b.      Rajin mengerjakan amalan – amalan sunnah

c.       Suka bangun dan beribadah ditengah malam

3.      Memiliki ilmu dan hikmah:

a.       Berpengalaman luas, serta mampu berpikir rasional dan obyektif

b.      Memiliki kemampuan konseptual, sehingga dapat memformulasikan dan menjelaskan apa yang diketahui dan dirasakannya

c.       Sanggup mengantisipasi keadaan dan siap menghadapi segala perubahan, karena memiliki daya apresiasi, prediksi dan antisipasi yang tinggi

d.      Memiliki keterampilan praktikal yang menghasilkan karya–karya nyata.

4.      Kritis dan teguh pendirian

a.       Bersikap terbuka dan kritis terhadap berbagai macam pandangan

b.      Bersikap selektif dan apresiatif terhadap berbagai pandangan, serta inovatif untuk menciptakan karya-karya baru

c.       Sanggup sendirian (istiqomah) dan tidak terjebak pada pandangan mayoritas

5.      Progresif dalam berdakwah:

a.       Bersedia berdakwah dengan sungguh-sungguh

b.      Sanggup dan berani menghadapi segala bentuk resiko

c.       Kreatif dalam strategi dan taktik berdakwah

d.      Memiliki penampilan dan daya tahan fisik serta psikologis yang tinggi.

Dengan kualifikasi Insan Ulul Albab itu maka kader HMI diharapkan akan menjadi seorang:

1.      Mu’abid: Kader menjadi insan yang tekun beribadah, mulai dari ibadah yang terkait pada dirinya maupun terkait pada lingkungannya.

2.      Mujahid: Kader memiliki semangat juang yang tinggi sehingga ia memiliki pemahaman dan kemampuan berjihad dalam garis agama.

3.      Mujtahid: Kader mampu berijtihad sehingga segala tindakannya didasarkan pada pilihan sadar dari dalam dirinya.

4.      Mujaddid: Kader menjadi harapan atas usaha organisasi yang memiliki kemampuan dalam melakukan pembaharuan di lingkungan sekitarnya.[5]

Proses pendidikan yang dimuat dalam perkaderan HMI tentu memiliki fungsi, yakni sebagai motor penggerak organisasi yang melahirkan usaha-usaha yang terencana, sistematis, dan berkelanjutan menuju ke arah tercapainya tujuan organisasi dan kemaslahatan umat. Fungsi perkaderan, antara lain harus dapat melahirkan kondisi-kondisi sebagai berikuti:

1.      Kesinambungan dan peningkatan kualitas perjuangan misi Islam.

2.      Kesinambungan dan kedinamisan kepemimpinan HMI.

3.      Kesinambungan dan pengembangan perjuangan HMI.

4.      Konsistensi pemahaman perjuangan HMI.

5.      Peningkatan peran-peran personal kader dan kelembagaan

Kemudian perkaderan HMI sebagai salah satu bagian sistem organisasi, dalam pencapaian tujuan organisasi memiliki lingkup tersendiri yang berbeda dengan kelengkapan sistem organisasi lainnya. Ada satu ruang lingkup dalam Pedoman Perkaderan yang menjadi satu elemen utama dalam kehidupan organisasi, yaitu “Kader.” Di dalam pedoman perkaderan HMI membentuk kader dalam memposisikan kader pada beberapa wilayah, yaitu:

1.      Kader sebagai pribadi, kader HMI merupakan hamba Allah yang mukhlish, zuhud, dan tawadhu’, sehingga terimplementasi dalam sosok pribadi paripurna yang memiliki mentalitas cerdas, dan bijaksana sebagai manifestasi citra diri ulul albab.

2.      Kader sebagai pemuda, kader HMI memiliki sifat perjuangan yang senantiasa peka dan militan menjawab kehidupan lingkungan di skeitarnya, sehingga mampu tampil menjadi pelopor dan dinamisator bagi gerakan komunitas kaum muda untuk melakukan usaha amar ma’ruf nahi munkar secara ikhlas.

3.      Kader sebagai warga masyarakat, kader HMI merupakan warga yang selalu peduli dan peka terhadap aspirasi masyarakatnya, memiliki solidaritas yang tinggi dan senantiasa berpartisipasi aktif dalam dinamika masyarakat.

4.      Kader sebagai mahasiswa, kader HMI adalah orang yang berpendidikan dan memiliki jiwa dan kemampuan intelektual, dan mampu mendayagunakan untuk mempercepat transformasi masyarakat pada umumnya dan gerakan mahasiswa pada khususnya.

5.      Kader sebagai pemimpin, kader HMI adalah sosok figure yang memilki kemapuan untuk memimpin organisasi khususnya dan komunitas social pada umumnya, dengan berlandaskan pada sifat amanah, adil, jujur, dan benar serta penyeru, pengayom, dan penuntun bagi lingkungan social yang dipimpinnya.[6]

Adapun muatan perkaderan HMI merupakan semangat atau isi yang perlu diinternalisasikan, disosialisasikan atau dikembangkan dalam setiap bentuk/model perkaderan sesuai dengan proporsinya. Muatan perkaderan ini, merupakan arahan strategis sebagai derivasi dari tujuan perkaderan itu sendiri. Muatan perkaderan ini, dijabarkan ke dalam tema-tema, baik yang bersifat teoretis maupun praktis, dapat dikembangkan secara kreatif sesuai dengan bentuk/model dan jenjang perkaderan itu. Karenanya, muatan ini tidak bersifat membatasi, tetapi justru memberikan arahan dalam pengembangan sumber daya kader untuk menuju kualitas kader cita yang holistik. Beberapa muatan perkaderan itu adalah sebagai berikut:

1.      Muatan Ideologi

Muatan ini berisi nilai-nilai ideal universal seperti keadilan, persaudaraan persamaan kebebasan, kasih sayang, kearifan dan sebagainya yang kesemuanya itu merupakan nilai-nilai dasar pesan ajaran Islam. Muatan ideologi ini menjadi peletak dasar bagi pengembangan berbagai aspek kehidupan lainnya. Termasuk asumsi–asumsi dasar mengenai Allah SWT, manusia, alam semesta, hari akhir dan sebagainya.

2.      Muatan Kepribadian

Muatan ini berisi beberapa aspek yang akan membentuk kepribadian kader seperti sikap, mentalitas, intelektualitas, kebiasaan dsb-nya. Termasuk dalam hal ini yang mampu dikembangkan lewat proses perkaderan beserta kendala-kendalanya.

3.      Muatan Epistemologi

Muatan epistemologi berisi seputar kaidah-kaidah sains sebagai muatan yang memberikan landasan keilmuan bagi kader. Karena itu, dengan muatan ini, diharapkan kader HMI mampu memiliki kerangka analisis yang jelas dan tepat dalam menyikapi, menyiasati dan mencari solusi ber-bagai persoalan. Dengan demikian, setiap kader HMI mampu bersikap, berpikir dan berperilaku saintifik serta mampu mengembangkan potensi intelektual dalam bentuk karya-karya ilmiah secara optimal.

4.      Muatan Sosiologis-Politis

Muatan sosiologis-politis berisi seputar berbagai persoalan sosial, budaya, politik, ekonomi, sejarah dan budaya. Dengan muatan ini, maka kader HMI diharapkan mampu mengembangkan wawasan sosial yang luas, kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi, apresiatif terhadap berbagai fenomena sosial kemasyarakatan (keumatan). Lebih dari itu, dengan muatan ini maka kader HMI diproyeksikan mampu melakukan sosialisasi dan berintegrasi ke tengah komunitas sosial yang pluralistik, serta mengoptimalkan peran- peran sosial kependidikannya baik secara personal maupun kelembagaan dalam melakukan perubahan sosial yang kontruktif.

5.      Muatan Organisatoris

Muatan organisatoris berisi berbagai aspek yang berkaitan dengan seluk beluk keorganisasian HMI khususnya, misalnya mengangkat perkem-bangan dan peran-peran kesejarahan perjuangannya, dinamika organisasinya, konstitusinya, perkaderannya dan sebagainya. Dengan pemahaman muatan ini maka kader HMI diproyeksikan memiliki sense of belonging, rasa memiliki dan sadar sepenuhnya untuk berjuang lewat HMI.

6.      Muatan Skill-Profesionalitas

Muatan ini berisi pengetahuan praktis yang bersifat strategis atau pun teknis yang mampu membekali kader guna mengembangkan profesi secara profesional yang berdaya bagi pengembangan organisasi dan masa depan pribadi kader, misalnya akademisi, jurnalistik, kewirausahaan, teknologi informasi dan sebagainya.[7]

Kemudian HMI mengembangkan model-model perkaderan yang diharapkan mampu menciptakan standar kader cita HMI (Insan Ulul Albab), yang pada akhirnya kualitas kader tersebut akan menjadi sumber kekuatan efektif bagi organisasi dalam mewujudkan tatanan masyarakat yang diridhai Allah SWT, salah satu model perkaderan tersebut ialah model pendidikan. Model pendidikan merupakan peletakan dasar-dasar pembinaan dan pengembangan potensi kader melalui proses pembinaan, sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai yang membentuk pola pikir, sikap, mentalitas dan perilaku kader. Aplikasi model pendidikan ini meliputi aspek kognitif dan afeksi kader serta aspek psikomotorik. Tujuan model pendidikan adalah untuk menginternalisasikan nilai-nilai Islam dalam pembinaan sikap dan mentalitas kader. Sehingga kader mampu mempertegas citra, identitas dan peran-peran diri yang dibentuk untuk mencapai tujuan HMI.[8]

Pendidikan merupakan proses pembentukan pribadi manusia, pewarisan dan penciptaan nilai, pengetahuan dan keterampilan sehingga pribadi tersebut dapat mengembangkan diri secara optimal untuk menghadapi kehidupan nyata. Maka perkaderan pendidikan HMI diorientasikan pada pengembangan integritas pribadi kader secara menyeluruh sehingga mampu menjadi pemimpin yang adil, progresif serta inovatif. Sehingga perkaderan Model Pendidikan ini menyentuh aspek pemahaman dan pengamalan Islam yang termanifestasikan dalam sikap, mentalitas dan perilaku pribadi muslim, wawasan intelektual, kepekaan sosial, kemampuan dan keberanian memecahkan persoalan (pribadi, kemasyarakatan).

Perkaderan model pendidikan meliputi empat jenis. Pertama adalah adalah jenis Pendidikan Pelatihan Umum, Pendidikan jenis pertama ini menekankan pada penggalian dan pengembangan potensi kader dengan memberikan prinsip dasar keislaman, kepribadian, keilmuan, sosial kemasyarakatan dan keorganisasian melalui proses atau forum pelatihan. Forum pelatihan yang dimaksud mempunyai beberapa tingkatan; tingkat pertama itu Basic Training (Latihan Kader I), kemudian tingkat yang kedua Intermediate Training (Latihan Kader II) dan tingkat yang terakhir itu Advance Training (Latihan Kader III). Kemudian perkaderan model pendidikan yang kedua adalah Pendidikan Keluarga, Pendidikan jenis ini menekankan pada nilai-nilai kebersamaan yang menumbuhkan sikap saling bertanggung jawab dan saling menolong antara satu dengan lainnya. Pendidikan Keluarga ada tiga tahap, tahap pertama itu Pendidikan Keluarga semester pertama (PK 1), lalu tahap yang kedua itu Pendidikan Keluarga semester kedua (PK 2), dan tahap yang ketiga ialah Pendidikan Keluarga Lanjutan.

Kemudian perkaderan model pendidikan yang ketiga adalah Pendidikan Pelatihan Khusus, Jenis pendidikan ini berorientasi meletakkan dasar-dasar pembinaan dan pengembangan potensi kader melalui proses sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai yang menjadi landasan dalam membentuk pola pikir dan sikap. Pendidikan pelatihan khusus ini terbagi ke dalam dua macam, yang pertama itu ada pendidikan pelatihan pengader (senior course) dan yang kedua itu ada pendidikan pelatihan Kohati. Perkaderan model pendidikan yang keempat adalah Pendidikan Pelatihan Soft Skill. Pendidikan jenis ini adalah pendidikan yang melalui proses atau forum pelatihan yang menekankan pada peningkatan keahlian di wilayah minat dan bakat serta tanggungjawab pada diri dari seorang kader.

Dengan adanya pola pendidikan yang HMI muat di dalam sistem perkaderannya, itu berarti HMI hadir sebagai oase peradaban yang secara berkesinambungan membina dan melahirkan generasi-generasi yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan dalam mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran umat dan bangsa ini sebagai tatanan masyarakat yang diridhai Allah SWT.



[1] Ratna Wilis Dahar, Teori-Teori Belajar, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1996), hal. 56.

[2] Stephen P. Robbins, Teori Organisasi Struktur, Desain, dan Aplikasi, (Jakarta: Arcan, 1994), hal. 4.

[3] Rusdiyanto, MPO: ‘Anak Haram’ Orde Baru Pewaris Sah HMI, (Yogyakarta: Sulur Pustaka, 2019), hal. 17.

[4] Konstitusi HMI XXXII, Pedoman Perkaderan, (Kendari, 2020).

[5] Rusdiyanto, MPO: ‘Anak Haram’ Orde Baru Pewaris Sah HMI, (Yogyakarta: Sulur Pustaka, 2019), hal. 116.

[6] Konstitusi HMI XXXII, Pedoman Perkaderan, (Kendari, 2020).

[7] Konstitusi HMI XXXII, Pedoman Perkaderan, (Kendari, 2020).

[8] Konstitusi HMI XXXII, Pedoman Perkaderan, (Kendari, 2020).

Suara Demokrasi SMPN 96

Jumat, 15 September 2023 SMPN 96 Jakarta menggelar Selebrasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang bertemakan Suara Demokrasi....