Wikipedia

Hasil penelusuran

Selasa, 12 Oktober 2021

Perilaku Organisasi

 Oleh: Wahido Amarsyah

 

ABSTRAK

Perilaku organisasi adalah fungsi interaksi antara individu dengan lingkungannya. Makalah ini ditulis bertujuan untuk mengetahui makna perilaku organisasi, untuk mengetahui perilaku kelompok dalam organisasi, serta untuk memahami pentingnya perilaku organisasi. Makalah ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Tujuan penggunaan metode ini adalah untuk mengungkap fakta, mengurai fenomena, dan realitas secara apa adanya. Jenis ini digunakan untuk menafsirkan dan menuturkan data-data seperti apa makna perilaku organisasi itu.

Kata kunci: organisasi, perilaku organisasi, kelompok.

 

1.      PENDAHULUAN

Organisasi pada dasarnya merupakan wadah atau sarana untuk bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan sebelumnya. Setiap organisasi harus mempunyai tujuan yang harus dirumuskan secara jelas sehingga mudah dipahami, dengan adanya tujuan organisasi maka organisasi akan hidup, sebab organisasi adalah himpunan manusia untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Organisasi  didirikan  untuk  mencapai  suatu tujuan tertentu maka untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan aktivitas dan kerjasama, karena manusia pada dasarnya tidak dapat hidup hanya mengandalkan diri sendiri tetapi mereka merupakan makhluk yang saling bergantung satu sama lain dimana terdapat istilah bahwa manusia itu makhluk sosial. Hakikat organisasi pada dasarnya berorientasi terhadap aspirasi dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap organisasi. Organisasi menjadi sangat menentukan bagi manusia untuk berkarya dan menciptakan suatu pengharapan. Organisasi dapat dikondisikan menjadi lingkungan tempat kehidupan manusia yang berkaitan pada setiap aspek.

Organisasi dapat mempengaruhi perilaku manusia dan perilaku manusia dapat mengubah organisasi dengan membentuk suatu kebiasaan yang lama kelamaan bisa menjadi suatu budaya. Pada dasarnya perilaku organisasi adalah ilmu yang mempelajari determinan perilaku dan interaksi manusia dalam organisasi terkait dengan sikap dan perilaku individu, perilaku kelompok dan struktur dalam organisasi. Perilaku organisasi dapat juga dipahami sebagai suatu cara berpikir untuk memahami persoalan-persoalan organisasi dan menjelaskan secara nyata apa yang ditemukan dalam tingkah laku individu atau kelompok dalam organisasi berikut tindakan pemecahan yang diperlukan. Perilaku manusia banyak menekankan aspek aspek psikologi dari tingkah laku manusia dalam organisasi.

Perilaku manusia dalam organisasi menjadi perilaku organisasi memberikan arah dan petunjuk bagi pencapaian tujuan organisasi sesuai visi dan misi organisasi di mana manusia itu mendedikasikan dirinya. Misalnya organisasi bisnis, organisasi pemerintah, organisasi kemasyarakatan, organisasi pendidikan, organisasi sosial dan sejumlah organisasi lainnya sesuai ciri dan karakteristik organisasinya. Perilaku organisasi dipengaruhi oleh ciri dan karakter setiap organisasi dan akan ditentukan dari perilaku manusia yang ada dalam organisasi. Mengacu pada pemikiran tersebut, pada bagian ini akan dikaji mengenai tantangan dan peluang perilaku organisasi yang efektif.

2.      METODE

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Tujuan penggunaan metode ini adalah untuk mengungkap fakta, mengurai fenomena, dan realitas secara apa adanya. Jenis ini digunakan untuk menafsirkan dan menuturkan data-data seperti apa makna perilaku organisasi itu. Penelitian ini juga disertai dengan library research, yaitu penelitian kepustakaan guna mendapatkan referensi terkait dengan makna perilaku organisasi dari berbagai sumber.

 

3.      HASIL DAN PEMBAHASAN

3. 1. Pengertian Perilaku Organisasi

Organisasi adalah unit sosial yang saling sadar dikoordinasikan, terdiri dari 2 (dua) orang atau lebih yang berfungsi secara relatif berkelanjutan untuk mencapai tujuan bersama atau serangkaian tujuan.[1] Dikatakan pula bahwa organisasi adalah suatu sistem yang dikoordinasikan secara sadar dari aktifitas dua orang atau lebih.[2] Sedangkan perilaku organisasi adalah studi tentang apa yang orang pikirkan, rasakan dan lakukan di dalam dan sekitar organisasi. Perilaku organisasi adalah cara berfikir yang meneliti dampak perilaku dari individu, kelompok, dan struktur organisasi yang bertujuan untuk meraih pengetahuan dalam mengembangkan efektifitas organisasi. Dalam pengertian lain, perilaku organisasi adalah suatu studi tentang perilaku manusia dalam pengaturan organisasi, hubungan  antara  individu dengan organisasi, dan organisasi itu sendiri. Perilaku (Behaviour) merupakan sebuah fungsi dari variable-variabel individual (Individual), variabel-variabel keorganisasian (Organizational) dan variabel-variabel psikologikal (Psycological).[3]

Menurut Rivai dan Mulyadi secara formal studi mengenai perilaku organisasi dimulai sekitar tahun 1948 – 1952. Perilaku organisasi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang terus berkembang guna membantu suatu organisasi untuk meningkatkan produktivitasnya.[4] Mempelajari perilaku organisasi sifatnya agak abstrak, mempelajari perilaku organisasi sering kali menghasilkan atau menemui prinsip-prinsip yang kompleks dimana penjelasan atau analisanya bersifat situasional, pengertian perilaku organisasi untuk multi disiplin dapat digambarkan dalam beberapa hal yaitu:

Pertama           : Perilaku organisasi adalah cara berpikir, perilaku adalah aktivitas yang ada pada diri individu, kelompok, dan tingkat organisasi.

Kedua                          : Perilaku organisasi adalah multi disiplin yang mencangkup teori, metode dan prinsip-prinsip dari berbagai disiplin ilmu.

Ketiga              : Dalam organisasi terdapat suatu orientasi kemanusiaan, dimana terdapat perilaku, persepsi, perasaan, dan kapasitas pembelajar.

Keempat          : Perilaku organisasi berorientasi pada kinerja, tujuan organisasi adalah meningkatkan produktivitas, bagaimana perilaku organisasi ini dapat  mencapai tujuan tersebut.

Kelima             : Lingkungan eksternal sangat memberikan pengaruh terhadap perilaku organisasi

Keenam           : Untuk mempelajari perilaku organisasi ini perlu menggunakan metode ilmiah, karena perilaku organisasi ini sangat tergantung dari disiplin ilmu yang meliputinya.

Lingkup ilmu mengenai perilaku organisasi meliputi psikologi, sosiologi dan antropologi budaya di mana ilmu-ilmu tersebut telah memberikan kerangka dasar dan prinsip-prinsip pada bidang perilaku organisasi. Namun masing-masing ilmu pengetahuan memiliki tinjauan yang berbeda. Dalam mempelajari perilaku organisasi dapat dilakukan dengan tiga tingkat analisis, yaitu tingkat individu, kelompok, dan organisasi.[5]

3. 2. Perilaku Kelompok dalam Organisasi

Kelompok merupakan bagian dari kehidupan manusia. Tiap hari manusia akan terlibat dalam aktivitas kelompok. Masing-masing dari kita telah menjadi dan masih menjadi anggota kelompok-kelompok yang berbeda. Ada kelompok sekolah, kelompok kerja, kelompok keluarga, kelompok sosial, kelompok kegamaan, kelompok formal, dan kelompok informal.[6]

Demikian pula kelompok merupakan bagian dari kehidupan organisasi. Dalam organisasi akan banyak dijumpai kelompok-kelompok ini. Hampir pada umumnya manusia yang menjadi anggota dari suatu organisasi besar atau kecil adalah sangat kuat kecenderungannya untuk mencari keakraban dalam kelompok-kelompok tertentu. Dimulai dari adanya kesamaan tugas pekerjaan yang dilakukan, kedekatan tempat kerja, seringnya berjumpa, dan barangkali adanya kesamaan kesenangan bersama, maka timbullah kedekatan satu sama lain. Mulailah mereka berkelompok dalam organisasi tertentu.

Menurut Herman Sofyandi, kelompok tidak hanya terbentuk karena tindakan manajerial, tetapi juga karena adanya usaha-usaha inividu para manajer menciptakan kelompok-kelompok kerja untuk menangani tugas dan pekerjaan yang diberikan. Kelompok-kelompok semacam itu yang diciptakan oleh keputusan manajerial, disebut kelompok formal. Kelompok juga terbentuk sebagai konsekuensi dari tindakan para pegawai. Kelompok semacam itu disebut kelompok informal yang terbentuk karena kepentingan yang sama dan pergaulan.[7] Ada beberapa alasan mengapa manusia berkelompok dan berorganisasi. Robbins dan Judge yang dikutip dalam bukunya Sucipto dan Siswanto berpendapat bahwa manusia berkelompok untuk alasan:

a.      Rasa Aman

Rasa aman merupakan kebutuhan dasar manusia. Perasaan aman dapat berupa sesuatu yang bersifat material atau non material. Dengan berkelompok dan berorganisasi kebutuhan tersebut akan terpenuhi. Dapat dibayangkan bagaimana seseorang yang hidup sendiri, tidak bersosialisasi.

b.      Harga Diri

Dengan berkelompok dan masuk dalam organisasi akan memunculkan harga diri seseorang. Perasaan itu muncul karena dalam interaksi dengan kelompok terdapat saling ketergantungan.

c.       Afiliasi

Setiap manusia memiliki kecenderungan untuk berafiliasi. Afiliasi itu dapat terjadi karena memiliki kesamaan latar belakang, kepribadian, kecenderungan, hobi, dan kesenangan.

d.     Status

Manusia memiliki sifat dasar ingin dipuji, diperhatikan, dan diakui keberadaannya. Dengan berkelompok dan berorganisasi kebutuhan tersebut akan diperolehnya.

e.      Kekuatan

Manusia memiliki kemampuan yang terbatas. Kekurangan dan kelemahan yang dimiliki dapat ditutupi jika mendapat dukungan dari orang lain.

f.        Pencapaian Tujuan

Melalui organisasi tujuan akan mudah dicapai. Sebagai sasaran dan alat, organisasi dapat digunakan untuk mempercepat proses tujuan bersama.[8]

3. 3. Pentingnya Perilaku Organisasi

Terdapat sejumlah alasan di antara para pakar, mengapa perlu perilaku organisasi. Namun, dari semua pendapat yang ada menunjukkan bahwa terdapat peningkatan perhatian pada kepentingan sumber daya manusia sebagai tenaga kerja dalam organisasi. Apabila sumber daya manusia diperhatikan pada gilirannya akan memberikan kontribusi lebih tinggi bagi organisasi. Antara lain dikemukakan adanya tiga alasan mengapa perlu mempelajari perilaku organisasi seperti yang dikemukakan oleh Vecchio yang dikutip oleh Wibowo yaitu:[9]

a.      Practical Application

Dalam kenyataan riil organisasi, ada beberapa manfaat memahami perilaku organisasi, antara lain berkenaan dengan pengembangan gaya kepemimpinan, pemilihan strategi dalam mengatasi persoalan, seleksi pekerjaan yang tepat, peningkatan kinerja dan sebagainya.

b.      Personal Growth

Dengan memahami perilaku organisasi dapat lebih memahami orang lain. Memahami orang lain akan memeberikan pengetahuan diri dan wawasan diri lebih besar. Dengan memahami orang lain, atasan dapat menilai apa yang diperlukan bawahan untuk mengembangkan diri sehingga pada gilirannya meningkatkan kontribusi pada organisasi.

c.       Increased knowledge

Dengan perilaku organisasi dapat menggabungkan pengetahuan tentang manusia dalam pekerjakan. Studi perilaku organisasi dapat membantu orang untuk berfikir tentang masalah yang berhubungan dengan pengalaman kerja. Kemampuan berpikir kritis dapat bermanfaat dalam menganalisis baik masalah pekerjaan maupun personal. Winardi menyebutkan Edgar H. Schein, seorang psikolog keorganisasian terkenal berpendapat bahwa semua organisasi memiliki empat macam ciri atau karakteristik sebagai berikut:[10]

1)      Koordinasi upaya

Para individu yang bekerja sama dan mengkoordinasi upaya mental atau fisikal mereka dapat mencapai banyak hal yang hebat dan yang menakjubkan. Contohnya piramida-piramida di Mesir, tembok besar di RRC. Koordinasi upaya memperbesar kontribusi–kontribusi individual.

2)      Tujuan umum bersama

Koordinasi upaya tidak mungkin terjadi, kecuali apabila pihak yang telah bersatu mencapai persetujuan untuk berupaya mencapai sesuatu yang merupakan kepentingan bersama. Sebuah tujuan umum bersama memberikan anggota organisasi sebuah rangsangan untuk bertindak.

3)      Pembagian kerja

Dengan jalan membagi-bagi tugas yang masih kompleks menjadi pekerjaan-pekerjaan yang terspesifikasi, maka suatu organisasi dapat memanfaatkan sumber–sumber daya manusianya secara efisien. Pembagian kerja memungkinkan para anggota-anggota organisasi menjadi lebih terampil dan mampu karena tugas-tugas terspesialisasi dilaksanakan berulang-ulang.

4)      Hierarki otoritas

Menurut teori organisasi tradisional, apabila ingin dicapai sesuatu hasil melalui upaya kolektif formal, harus ada orang yang diberi otoritas untuk melaksanakan kegiatan. Hal itu agar tujuan-tujuan yang diinginkan dilaksanakan secara efektif dan efisien.

Kotze melihat pentingnya mempelajari perilaku karena berkaitan dengan kinerja sumber daya manusia. Kinerja sumber daya manusia akan dapat meningkat apabila perilakunya sesuai dengan tuntutan pekerjaan. Oleh karenanya Kotze mendukung perlunya Behaviour Kinetics yang merupakan pendekatan saintifik pada perubahan perilaku karena dapat menunjukkan empat fungsi penting sain: (a) mendeskripsikan, (b) menjelaskan, (c) memprediksi, dan (d) mengontrol.[11] Selain itu perhatian organisasi pada sumber daya manusia menunjukkan kecenderungan semakin meningkat. Pekerja mendapatkan kepercayaan, diberdayakan dan didengar pendapatnya. Organisasi yang demikian ini dinamakan sebagai people-centerd organization, yang ditunjukkan oleh adanya ciri-ciri sebagai berikut:

a.      Terjaminnya keamanan kerja sehingga menghilangkan rasa ketakutan akan tejadinya pemecatan.

b.      Penerimaan sumber daya manusia dilakukan secara berhatihati, dengan menekankan pada kecocokan dengan budaya organisasi.

c.       Kekuasaan semakin didorong kepada orang di tingkat bawah, melalui desentralisasi dan self-managed teams.

d.     Pembayaran berdasar kinerja, bukan sekadar pada senioritas.

e.      Banyak memberikan kesempatan pelatihan.

f.        Kurang menekankan pada status, tetapi membangun perasaan sebagai “kita”.

g.      Membangun kepercayaan, melalui berbagi informasi penting.

Perilaku manusia itu sebenarnya bisa ditelusuri dari awal periode sejarah. Spekulasi tentang fisik manusia ini misalnya, dapat dijumpai lewat buah karya filosof Yunani Plato. Filosof ini acap kali membicarakan mengenai jiwa manusia dibagi atas tiga bagian yaitu: Philosophic, yang merupakan suatu alat untuk mencapai ilmu pengetahuan dan pengertian. Spireted, yaitu suatu aspek dari jiwa manusia ini yang berusaha untuk mencari kekuasaan dan ambisi. Dan Appetitie, yaitu keinginan untuk memenuhi selera seperti misalnya makan, minum, dan uang.[12]

Thoha menerangkan pada sekitar awal abad ke-20, perhatian mengenai penataan organisasi mencapai titik momentumnya. Oleh sebab perhatian ini timbul dalam berbagai perkara, maka amat sulit untuk menerangkan secara menyeluruh kekuatan-kekuatan mana yang membentuk ilmu perilaku organisasi. Suatu unsur yang mengendalikan suatu organisasi dan yang mayakinkan bahwa suatu prosedur dipatuhi adalah otoritas dan rasa tanggung jawab yang dipunyai oleh para pejabatnya.[13] Dalam hal ini Waber sangat tertarik mengenai bagaimana para pejabat tersebut memperoleh otoritas mereka, dan ia mengidentifikasikan sumber-sumber otoritas sebagai berikut:

a.        Otoritas yang rasional dan sah, hal ini diciptakan oleh tingkat dan posisi yang dipegang oleh seseorang pejabat di dalam suatu hierarki.

b.       Otoritas yang tradisional, ini diciptakan oleh kelas-kelas dalam masyarakat dan juga oleh adat kebiasaan.

c.        Otoritas yang kharismatik, ini ditimbulkan oleh potensi kepribadian dari pejabat

 

4.      KESIMPULAN

Organisasi adalah suatu sistem yang dikoordinasikan secara sadar dari aktifitas dua orang atau lebih yang berfungsi secara berkelanjutan untuk mencapai tujuan bersama atau serangkaiaan tujuan. Perilaku organisasi adalah studi tentang apa yang orang pikirkan, rasakan dan lakukan di dalam dan sekitar organisasi. Perilaku organisasi adalah cara berfikir yang meneliti dampak perilaku dari individu, kelompok, dan struktur organisasi yang bertujuan untuk meraih pengetahuan dalam mengembangkan efektifitas organisasi. Dalam kenyataan riil organisasi, ada beberapa manfaat memahami perilaku organisasi, antara lain berkenaan dengan pengembangan gaya kepemimpinan, pemilihan strategi dalam mengatasi persoalan, seleksi pekerjaan yang tepat, peningkatan kinerja dan sebagainya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ivancevich, M J dan Matteson, M. T. Perilaku dan Manajemen Organisasi, Jakarta: Erlangga, 2006.

Kotze. Performence, Harlow: Education Limited, 2006.

Kreitner, R dan Kinicki, A. Perilaku Organisasi, Jakarta: Salemba Empat, 2007.

Rivai, V dan Mulyadi, D. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, Jakarta: Rajawali Press, 2012.

Robbins, P S dan Jugge, T A. Perilaku Organisasi, Edisi 12, Jakarta: Salemba Empat, 2012.

Sucipto dan Siswanto, Teori dan Perilaku Organisasi Sebuah Tinjauan Integratif, Malang: UIN Malang Press, 2008.

Sofyandi, Herman, dan Garniwa. Perilaku Organisasional, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007.

Thoha, M. Perilaku Organisasi, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2000.

_________. Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya, Jakarta: Rajawali Pers, 2011.

Wibowo. Perilaku Dalam Organisasi, Jakarta: Rajawali Pers, 2014.

Wijaya, Candra. Perilku Organisasi, Medan: Lembaga Peduli Pengembangan Pendidikan Indonesia (LPPPI), 2017.

Winardi, J. Manajemen Perilaku Organisasi, Jakarta: Prenada Media Group, 2014.



[1] Robbins dan Jugge, Perilaku Organisasi, Edisi 12, (Jakarta: Salemba Empat, 2012), h. 36.

[2] Kreitner dan Kinicki, Perilaku Organisasi, (Jakarta: Salemba Empat, 2007), h. 5.

[3] Winardi, Manajemen Perilaku Organisasi, (Jakarta: Prenada Media Group, 2014), h. 199.

[4] Rivai dan Mulyadi, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, (Jakarta: Rajawali Press, 2012), h. 172.

[5] Candra Wijaya, Perilku Organisasi, (Medan: Lembaga Peduli Pengembangan Pendidikan Indonesia (LPPPI), 2017), h. 3.

[6] Ivancevich dan Matteson, Perilaku dan Manajemen Organisasi, (Jakarta: Erlangga, 2006), h. 5.

[7] Herman Sofyandi dan Garniwa, Perilaku Organisasional, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007), h. 19.

[8] Sucipto dan Siswanto, Teori dan Perilaku Organisasi Sebuah Tinjauan Integratif, (Malang: UIN Malang Press, 2008), h. 58-59.

[9] Wibowo, Perilaku Dalam Organisasi, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), h. 3.

[10] Winardi, Manajemen Perilaku Organisasi, (Jakarta: Prenada Media Group, 2014), h. 27-28.

[11] Kotze, Performence, (Harlow: Education Limited, 2006), h. 13.

[12] M Thoha, Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), h. 11.

[13] M Thoha, Perilaku Organisasi, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2000), h. 11.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Suara Demokrasi SMPN 96

Jumat, 15 September 2023 SMPN 96 Jakarta menggelar Selebrasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang bertemakan Suara Demokrasi....