Wikipedia

Hasil penelusuran

Minggu, 12 Januari 2020

Makalah Filsafat


MAKALAH FILSAFAT UMUM DAN ISLAM
“Filsafat Plato”
Diajukan guna memenuhi nilai UAS mata kuliah Filsafat Umum dan Islam
Dosen Pengampu: Dr. Sandi Santosa, M.Si




Disusun oleh:
WAHIDO AMARSYAH
NIM: 161311644




Fakultas Tarbiyah
Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an Jakarta
Jalan Batan I No.63, Pasar Jumat, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan 12440


KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah serta inayah-Nya kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Filsafat Umum dan Islam ini.
            Makalah ini saya buat dengan semaksimal mungkin dan mendapat bantuan dari berbagai pihak sehingga memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu saya haturkan beribu-ribu terima kasih kepada semua pihak yang berkontirbusi, khususnya kepada dosen Filsafat saya bapak Dr. Sandi Santosa, M.Si.
            Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat atau tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka saya menerima segala kritik dan saran yang bersifat membangun.







Jakarta, 10 Januari 2018

             Penulis



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sebagian besar orang mengatakan bahwa filsafat itu sangat susah dan sulit, namun demikian orang-orang tersebut tidak menyadari bahwa keseharian mereka diisi dengan filsafat, atau bisa dikatakan mereka telah berfilsafat dalam kehidupannya. Pemikiran seperti ini didasari karena pemahaman mereka tentang filsafat masih sangat sedikit dan bahkan belum tau tentang filsafat itu apa.
Orang-orang terdahulu hingga sekarang yang mencintai filsafat atau para filosof mengartikan filsafat yaitu mencintai kebijaksanaan, sehingga ketika berfilsafat berarti mereka telah mencintai kebijaksaan, namun bukan berarti merasa dirinya sudah benar. Cinta kebijaksanaan berarti akan selalu mencari bagaimana mendapatkan kebijaksaan itu, karena hal yang kita cintai tentulah ada usaha untuk mendapatkan hal tersebut.
Sejarah tentang filsafat ini membawa kita untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang pemikiran-pemikiran para filosof terdahulu. Dengan hasrat ingin mengetahui pemikiran tersebut membawa kita untuk lebih dalam lagi mengkaji tentang pemikiran filosof-filosof itu.
Perlunya mengkaji pemikiran tersebut adalah sebagai sarana untuk merangsang pikiran kita agar bisa lebih berkembang lagi dan lebih luas lagi. Dari sekian banyak pemikiran tersebut pemakalah akan mengangkat tentang pemikiran filosof Plato. Pemikiran Plato ini sangat menarik untuk dibahas karena sebagaimana kita ketahui bahwa Plato dikenal sebagai bapak filsafat.
Atas dasar pemikiran Plato inilah yang menjadi latar belakang pembuatan makalah ini, karena sangat menarik untuk dikaji terlebih lagi dengan julukannya sebagai bapak filsafat dan juga dikenal sebagai filosof pertama kali yang menuangkan pemikiran-pemikirannya dalam sebuah tulisan atau buku. Sejarah filosof dari thales sampai socrates belum pernah terdengar bahwa mereka menuangkan pemikiran mereka ke dalam sebuah tulisan, karna mereka lebih bersifat dialektika. Namun setelah masuk zamannya Plato, pemikiran-pemikiran filsafat itu pun dibukukan, sehingga ada sebuah pedoman atau bahan untuk generasi berikutnya yang ingin mengkaji tentang pemikiran para filosof terdahulu.
Di dalam makalah ini tentu akan lebih banyak kita temukan tentang Plato dan pemikirannya, karena yang menjadi titik acuan pemakalah adalah Plato dan pemikirannya. Namun, walaupun sedikit menyinggung tentang pemikiran sebelum Plato diantaranya Socrates yakni guru dari Plato, dimana tolak acuan pemikiran dari Plato adalah pemikiran gurunya sendiri walaupun terdapat juga sedikit perbedaan. Plato juga sedikit mengambil pemikiran dari filosof sebelum gurunya, seperti Heraclitus dan filosof-filosof Yunani lainnya.
B.     Rumusan Masalah
Adapun masalah-masalah yang saya angkat di dalam makalah ini sebagai berikut:
1.      Siapakah Plato?
2.      Dari manakah sumber-sumber filsafat Plato?
3.      Apa itu Idealisme Plato?
C.    Tujuan
Setiap pembuatan sesuatu tentulah memiliki maksud ataupun tujuan, seperti halnya pembuatan mobil bertujuan untuk sebagai alat transportasi, begitu pun halnya pembuatan makalah ini juga memiliki beberapa tujuan, yakni selain untuk memenuhi nilai tugas dari dosen juga sekaligus menambah wawasan saya tentang filosof Plato.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Kelahiran dan Silsilah Plato
Tempat dan tahun kelahiran Plato yang sesungguhnya tidak diketahui dengan pasti. Ada yang mengatakan Plato lahir di Athena, ada juga yang mengatakan ia lahir di pulau Aegina. Demikian juga dengan tahun kelahirannya, ada yang mengatakan ia lahir 428 SM, ada juga yang mengatakan ia lahir 427 SM. Yang pasti ialah, Plato lahir dalam suatu keluarga aristokrat Athena yang turun-temurun memiliki peranan yang amat penting dalam kehidupan politik di Athena. Ayahnya bernama Ariston, seorang bangsawan keturunan raja Kodrus, raja terakhir Athena yang hidup sekitar 1068 SM yang sangat dikagumi rakyatnya oleh karena kecakapan dan kebijaksanaannya memerintah Athena. Ibunya bernama Periktione keturunan Solon, tokoh legendaris dan negarawan agung Athena yang hidup sekitar seratus tahun lebih awal dari Periktione.
Nama Plato yang sebenarnya ialah Aristokles. Karena dahi dan bahunya yang amat lebar, ia memperoleh julukan “Plato” dari seorang pelatih senamnya. Plato dalam bahasa Yunani berasal dari kata benda Platos (kelebarannya/lebarnya) yang dibentuk dari kata sifat Platus yang berarti “lebar”. Dengan demikian, nama Plato berarti “si lebar”, julukan yang diberikan oleh pelatih senamnya itu begitu cepat populer dan menjadi panggilannya sehari-hari, bahkan kemudian menjadi nama resmi yang diabadikannya lewat seluruh karyanya.
Ketika Plato masih kecil, ayahnya meninggal. Ibunya kemudian menikah kembali dengan paman Plato yang bernama Pyrilampes. Paman yang menjadi ayah tiri Plato itu adalah seorang tokoh yang disegani di Athena karena ia adala seorang politikus yang dekat dengan Pericles, pemimpin dan negarawan besar Athena yang baru saja meninggal (427 SM). Plato dibesarkan dan dididik oleh Pyrilampes. Plato kemudian meninggal di Athena pada usia delapan pulih tahun dan selama hidupnya ia tidak pernah menikah.
B.     Karya-karya Plato
Lewat hasil karya tulisnya yang cukup banyak dan yang sebagian besar ditulis dalam bentuk dengan gaya bahasa yang sangat indah dan menawan hati, Plato bukan hanya terkenal sebagai seorang filsuf yang agung melainkan juga sebagai seorang sastrawan yang mengagumkan. Semua karya tulis plato yang diwariskannya kepada kita masih cukup lengkap dan dalam kondisi yang baik.
Ada sebuah daftar karya tulis Plato yang disusun oleh Thrasyllos (meninggal 36 M). Dalam daftarnya itu, Thrasyllos membagi semua karya tulis Plato ke dalam sembilan kelompok dan setiap kelompok terdiri dari eampat karya tulis (tetralogies), itu berarti bahwa bagi Thrasyllos semua karya tulis Plato berjumlah tiga puluh enam buah. Namun oleh para sarjana modern, karya berikut:
Alkibiades II, Minos, Theages, Erastae atau Amatores, Axiokhus, Eryxias, Hipparkhos, Tentang Kebajikan, Tentang Keadilan dan Definisi-definisi bukanlah hasil karya tulis Plato.
Sedangkan karya:
Alkibiades I, Epinomis, Kleitphon, Hippias Maior, dan Hippias Minor masih diragukan otentisitasnya.
            Berbagai upaya telah dilakukan oleh para sarjana, khususnya sejak Schleiermacher (1768-1834), menyusun secara kronologis semua hasil karya tulis Plato, namun hingga sekarang ini hasilnya kurang memuaskan dan pada umumnya belum dapat diterima oleh semua ahli.
            Pada 1578 terbitlah di Paris satu edisi karya Plato yang disunting dan diterbitkan oleh H. Stephanus yang kemudian menjadi referensi bagi para sarjana modern bila mengutip tulisan-tulisan Plato. Setiap bagian dinyatakan oleh nomor halaman sedangkan lokasinya dalam kolom-kolom ditunjukkan dengan huruf-huruf A-E. Sebagai contoh, apabila kita hendak mengutip karya tulis Plato yang berjudul Republic di halaman 339 mulai kolom B sampai halaman 340 kolom C maka kutipan itu ditulis sebagai berikut: Plato, Republic 339B-40C. Pada masa kini sudah cukup banyak terjemahan karya tulis Plato ke dalam bahasa Inggris yang begitu baik dan lebih teliti dari terjemahan sebelumnya yang tidak menggunakan sistem Stephanus.
C.    Sumber-sumber Filsafat Plato
Guru filsafat yang amat dikagumi, dihormati, dan dicintai Plato ialah Socrates. Bagi Plato, Socraes adalah guru dan sahabat,
. . . .the noblest and the wisest and most just.[1]
. . . .yang paling mulia, yang paling bijaksana dan yang paling tulus.
Ungkapan itu menunjukkan bahwa Socrates memiliki tempat yang paling khusus dalam kehidupan Plato dan hal itu nampak jelas lewat karya-karya filsafatinya. Hampir seluruh karya filsafati Plato menggunakan “metode sokratik”, yaitu metode yang dikembangkan oleh Socrates yang dikenal juga dengan nama “metode dialektis” atau yang sering kali juga disebut “elenkhus”. Metode itu terwujud ke dalam suatu bentuk tanya jawab atau dialog sebagai suatu upaya untuk meraih kebenaran dan pengetahuan. Plato berhasil menyempurnakan metode sokratik dengan menuliskan dialog-dialognya ke dalam suatu bentuk kesusastraan yang mampu mempesona begitu banyak orang dari abad ke abad. Dalam hampir semua dialog Plato, kecuali yang ditulis menjelang akhir hidupnya, Socrates senantiasa ditempatkannya sebagai pelaku utama. Lewat seluruh karya filsafatinya, Plato seolah hendak mengabadikan nama gurunya yang sangat dicintainya itu. Kendati demikian, itu tdak berarti Plato semata-mata hanya mewarisi filsafat Socrates. Memang dari Socrates Plato mengenal nilai-nilai kesusilaan yang menjadi norma-norma dalam diri dan kehidupan manusia, tetapi filsafat Plato tidak hanya tertuju pada persoalan manusia dan etika saja. Lewat filsafat, Plato ingin mengetahui segala sesuatu serta menetapkan hakikat dari segala sesuatu itu.
            Sesungguhnya Plato tidak hanya dipengaruhi Socrates, tetapi juga dipengaruhi oleh filsuf sebelumnya yang dikenal sebagai filsuf pra-sokratik. Sebelum Plato menjadi murid Socrates, Plato telah belajar filsafat dari Kratylos. Kratylos adalah murid Herakleitos, si gelap (ho skoteinos) yang meraih gelar demikian itu oleh karena filsafatnya yang sulit difahami. Herskleitos mengajarkan bahwa segala sesuatu senantiasa bergerak dan berubah. Tidak ada sesuatu pun yang tetap dan tak berubah. Karena segala sesuatu itu senantiasa bergerak maka pada dasarnya seluruh realitas senantiasa berada dalam proses menjadi yang terus-menerus. Bagaikan api yang selalu bergerak, demikianlah pula segala sesuatu itu terus-menersu bergerak dan berubah-ubah. Plato membenakan pemikiran Herakleitos dan Krylatos, namun kebenaran pemikiran mereka itu hanya berlaku dalam hal yang indrawi semata-mata. Secara indrawi segala sesuatu selalu bergerak dan berubah, mengalir, berlalu dan meniada tetapi juga senantiasa menjadi.
            Plato pun mengenal ajaran Parmenides yang bertolak belakang dengan pemikiran Herakleitos. Bagi Parmenides yang ada itu ada dan yang tidak ada itu tidaka ada. Parmenides mengatakan tidak ada yang bergerak, tidak ada yang berubah, tidak ada yang mengalir dan berlalu serta meniada dan dengan demikian tentu saja tidak ada yang menjadi. Yang ada itu ada dan adanya itu abadi. Plato mengakui kebenaran ajaran Parmenides, namun kebenaran ajaran Parmenides itu tidak berlaku di dunia indrawi. Plato mengatakan, keberadaan ada yang tidak dapat berubah dan yang bersifat abadi itu berlaku di dalam dunia ide. Di dalam dunia ide itulah karakter fundamental dari realitas itu permanen dan tidak berubah-ubah.
            Plato juga mengetahui dengan baik ajaran Orphisme atau yang sering disebut sebagai Mysteri Orphik, yakni suatu gerakan agamis dan filsafati yang tersebar di Yunani pada awal abad ke-6 SM dan yang begitu mempengaruhi serta menarik perhatian para penganut Pythagoreanisme di Italia Selatan. Orphisme mengajarkan dualisme tubuh dan jiwa manusia. Jiwa terpenjara dalam tubuh dan adalah tugas manusia untuk membebaskan jiwa dari penjara tubuh itu. Pembebasan jiwa itu hanya mungkin tercapai lewat upacara kudus dan pertarakan yang ketat, bahkan hubungan seksual pun dilarang. Penganut Orphisme meyakini akan adanya kehidupan setelah kematian. Elemen utama ajaran Orphisme itu tampak juga dalam konsep Plato tentang manusia. Menurut Plato, manusia memang terdiri dari tubuh dan jiwa. Tubuh dan jiwa itu senantiasa berada dalam ketegangan dan saling tarik-menarik. Tubuh adalah musuh jiwa karena tubuh penuh dengan berbagai kejahatan[2] dan oleh sebab itu tubuh merupakan penjara bagi jiwa[3]. Mengapa jiwa terpenjara dalam tubuh? Plato menjawab pertanyaan itu dengan mengatakan bahwa jiwa manusia dalam keberadaannya di dunia ini terdiri dari tiga bagian. Bagian yang pertama ialah fikiran atau akal (nous)yang merupakan bagian rasional dan yang kedua ialah bagian semangat atau keberanian (thumos), sedangkan yang ketiga ialah bagian keinginan atau nafsu (epithumia). Karena pengaruh bagian terakhir itulah maka jiwa manusia terpenjara dalam tubuh.
            Plato juga mengenal konsep Pythagoreanisme tentang tubuh dan jiwa sebagai soma-sema yang artinya tubuh (soma) adalah kubur (sema) jiwa[4], namun sesudah ia menggumulinya, Plato menolak konsep itu. Plato tidak dapat menerima ajaran Pythagoreanisme yang mengatakan bahwa tubuh adalah  kubur jiwa oleh karena menurut Plato tubuh tidak dapat mematikan jiwa. Tubuh hanya dapat menahan jiwa untuk sementara waktu dan itulah sebabnya Plato mengatakan bahwa tubuh hanyalah penjara jiwa dan buka kubur jiwa.
Filsafat Plato bukan hanya bersumber dari pemikiran para filsuf pra-sokratik, tetapi juga pada ajaran para Sofis, walaupun lebih banyak secara negatif, yakni merupakan kecaman terhadap pemikiran para Sofis itu. Plato sangat menentang skepitisime dan relativisme moral yang disebar luaskan oleh para Sofis.


D.    Idealisme Plato
Di dalam filsafat, idealisme adalah doktrin yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat difahami dalam kebergantungannya pada jiwa (mind) dan spirit (roh). Istilah ini diambil dari “idea”, yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Keyakinan ini ada pada Plato.[5]
Seluruh filsafat Plato bertumpu pada ajarannya tentang ide. Plato percaya bahwa ide adalah realitas yang sebenarnya dari segala sesuatu yang ada yang dapat dikenal lewat panca indra. Pohon, bunga, manusia, hewan, dan lain-lain sebagainya akan mati dan berubah, tetapi ide pohon, bunga, manusia, hewan, tidak akan pernah berubah. Karena ide adalah realitas yang sebenarnya atau keberadaan ada yang sesungguhnya, maka bagi Plato ide bukanlah sekedar gagasan atau gambaran yang hanya berada di dalam pemikiran manusia. Ide bukanlah sesuatu yang subjektif yang tercipta oleh daya fikir manusia dan oleh sebab itu keberadaan ide itu lalu bergantung pada daya fikir manusia. Sebagai realitas yang sebenarnya, bagi Plato ide bersifat objektif. Keberadaan ide tidak bergantung pada daya fikir manusia, ide itu mandiri, sempurna, abadi dan tidak berubah-ubah.
Apabila ide merupakan realitas yang sebenarnya, lalu bagaimanakah dengan alam fisik yang dikenal manusia lewat panca indra? Kenyataan menunjukkan bahwa alam indrawi itu senantiasa berada dalam perubahan, tidak tetap, tidak sempurna, tidak abadi, majemuk, dan puspa ragam. Bagi Plato kenyataan yang demikian itu membuktikan bahwa dunia indrawi bukanlah realitas yang sebenarnya. Dunia indrawi itu hanyalah bayangan atau gambaran yang tidak lengkap dan tidak sempurna dari dunia ide. Beraneka ragam kursi di dunia indrawi hanyalah bayangan yang tidak lengkap dari kursi yang sempurna yang ada di dunia ide. Kursi yang sempurna yang ada di dunia ide itu hanya satu, sedangkan kursi yang ada di dunia indrawi bermacam-macam karena sebagai bayangan atau gambaran yang tidak sempurna ia justru menggambarkan yang sempurna itu lewat aneka bentuk dan berbagai rupa.
Plato mengakui bahwa dunia indrawi yang serba majemuk dan puspa ragam adalah juga suatu realitas, namun bukanlah realitas sebenarnya, dunia indrawi hanyalah tiruan sementara dari dunia ide. Oleh sebab itu yang paling utama bagi Plato adalah dunia ide. Tetapi itu tidak berarti dunia indrawi harus disangkal keberadaannya, kedua dunia itu tetap merupakan realitas sendiri-sendiri kendati pun yang indrawi hanyalah merupakan tiruan dari dunia ide. Ada dua cara untuk mengenal kedua dunia itu, dunia indrawi dikenal lewat panca indra, sedangkan dunia ide dikenal lewat akal budi. Sebagai contoh: lewat panca indra manusia mengenal kursi yang bermacam-macam, dengan akal budi manusia memasuki dunia ide dan di sana ia mengenal ide kursi yang sempurna, tunggal dan abadi.
Apabila dikatakan bahwa di dunia ide tiada yang serba majemuk dan puspa ragam, itu tidak berarti bahwa di dunia ide hanya ada satu ide saja. Di dunia ide ada banyak ide, namun masing-masing ide itu hanya ada satu. Hanya ada satu ide kursi, hanya ada satu ide segitiga, hanya ada satu ide ide kuda, hanya ada satu ide yang baik, hanya ada satu ide yang indah dan lain sebagainya. Ide ada yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya dan menyatu dalam satu realitas, misalnya ide kursi menyatu dengan ide bagus, ide segiempat dan ide tinggi. Ide manusia menyatu dengan ide wanita, ide cantik, ide ramah, dan ide lembut. Penyatuan ide ke dalam satu realitas ada yang demikian itu disebut persekutuan (bahasa Yunani: koinonia). Selain ide bisa menyatu dalam satu persekutuan ide, mereka juga memiliki susunan tingkatan atau hirarki. Yang berada di puncak susunan tingkatan ide itu ialah ide yang baik dan menerangi seluruh ide yang ada di dunia ide.
Bagaimanakah manusia dapat mengetahui bahwa apa yang ada di dunia indrawi adalah gambar dan bayang dari apa yang ada di dunia ide? Dalam hal itu, jiwa tampil sebagai penghubung yang menghubungkan dunia ide dengan dunia indrawi. Sebelum jiwa manusia terpenjara oleh tubuh, ia berada di dunia ide dan oleh sebab itu ia mengenal segala sesuatu yang ada di dunia ide. Sesudah jiwa masuk ke dalam dunia indrawi dan terpenjara oleh tubuh, maka setiap kali ia mengamati benda-benda fisik yang berada di dunia indrawi ini ia teringat akan ide benda itu, yang asli dan yang sempurna yang ada di dunia ide. Oleh sebab itu, bagi Plato Pengetahuan adalah ingatan. Mengetahui berarti mengingat, upaya untuk memperoleh pengetahuan berarti upaya untuk kembali memasuki dunia ide lewat ingatan. Dengan filsafat, manusia (baca: jiwa) berupaya untuk mengenal kembali dengan sebaik mungkin apa yang dahulu pernah diketahuinya dengan sempurna di dunia ide.
Dari uraian yang telah dipaparkan di atas, jelas terlihat bahwa idealisme Plato berbeda dengan idealisme modern. Dunia ide bagi Plato merupakan suatu realitas yang objektif, karena itu idealisme Plato sering disebut sebagai idealisme realistis, sedangkan idealisme modern bersifat subjektif oleh sebab itu sering disebut idealisme subjektif.
E.     Etika
Etika atau filsafat prilaku sebagai satu cabang filsafat yang membicarakan tindakan manusia, dengan penekanan yang baik dan yang buruk. Terdapat dua hal permasalahan, yaitu yang menyangkut tindakan dan baik-buruk. Apabila permasalahan jatuh pada tindakan, maka etika disebut sebagai filsafat praktis sedangkan jika jatuh pada baik-buruk, maka etika disebut filsafat normatif.[6]
Apakah tujuan hidup manusia? Bagi Plato tujuan hidup manusia ialah kehidupan yang senang dan bahagia, manusia harus mengupayakan kesenangan dan kebahagiaan hidup itu. Tetapi apakah kesenangan dan kebahagiaan hidup itu? Menurut Plato kesenangan dan kebahagiaan hidup itu bukanlah pemuasan hawa nafsu selama hidup di dunia indrawi. Plato konsekuen dengan ajarannya tentang dua dunia. Karena itu keenangan dan kebahagiaan hidup haruslah dilihat dalam hubungan kedua dunia itu.
Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, dunia yang sesungguhnya bagi Plsto ialah dunia ide. Semua ide dengan ide yang baik atau ide kebaikan dan ide kebajikan sebagai ide yang tertinggi yang ada di dunia ide adalah realitas sebenarnya. Sedangkan segala sesuatu yang ada di dunia indrawi hanyalah merupakan realitas bayangan. Jiwa manusia sebelum terpenjara oleh tubuh, berasal dari dunia ide,oleh sebab itu ia harus kembali ke dunia ide untuk menetap di sana. Manusia (baca: jiwa) hanya sementara berada di dunia indrawi. Selama manusia berada di dunia indrawi, ia senantiasa rindu untuk naik ke atas ke dunia ide. Agar ia siap kembali ke dunia ide, maka selama ia hidup di dunia indrawi ia harus memiliki pengetahuan yang disempurnakan oleh pengertian uang seluas-luasnya dan yang sedalam-dalamnya. Selama ia hidup di dunia indrawi ia senantiasa harus mengupayakan dengan semaksimal mungkin untuk meraih pengetahuan yang benar, karena hanya orang yang memiliki pengetahuan yang benar yang disebut bijaksana dan berbudi baik. Hanya orang yang bijaksana dan berbudi baik yang akan dapat memahami segala sesuatu yang begitu beraneka ragam dan yang berubah-ubah yang ada di dunia indrawi. Pemahaman lewat pengetahuan yang benar itu, akan menuntun mereka yang bijaksana dan berbudi baik itu sampai  kepada pengenalan akan ide-ide yang merupakan kebenaran yang sejati. Siapa yang dapat menyelami segala sesuatu itu sampai kepada idenya dengan ide kebaikan dan kebajikan sebagai ide yang tertinggi, maka ia akan mencintai ide itu dan ia akan senantiasa terarah kepada yang baik atau yang bajik itu. Ia pasti tidak akan berbuat yang jahat. Bagi yang berpengetahuan, yakni mereka yang bijaksana dan berbudi baik, berbuat yang baik akan mendatangkan kesenangan dan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Mereka itulah yang walaupun berada di dunia indrawi akan sanggup hidup seolah-olah berada di dunia ide, lebih dari itu mereka akan senantiasa berupaya untuk menghadirkan dunia ide dengan ide tertingginya yaitu ide kebajikan dan kebaikan di tengah-tengah kehidupannya di dunia indrawi. Upaya yang demikian itu hanya mungkin terwujud apabila mereka memiliki pengetahuan yang benar. Itulah sebabnya mereka harus berupaya untuk memperoleh pengetahuan yang benar dan itulah pulakunci untuk meraih kesenangan dan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Dengan demikian jelas terlihat bahwa etika Plato adalah etika yang didasarkan pada pengetahuan, sedangkan pengetahuan hanya mungkin diraih dan dimiliki lewat dan oleh akal budi. Maka itulah sebabnya etika Plato disebut juga sebagai etika rasional.
F.     Perumpamaan Tentang Gua
Untuk menjelaskan teorinya mengenal manusia, dunia indrawi, dunia ide dan pengetahuan, Plato membuat suatu perumpamaan yang sangat indah dan amat terkenal yang terdapat di awal buku ketujuh dalam karyanya yang berjudul Republic, yaitu perumpamaan tentang orang-orang tahanan yang terbelanggu di dalam sebuah gua.
Konon di dalam sebuah gua di bawah tanah, ditempatkanlah orang-orang tahanan yang terbelenggu sejak masa kecil mereka. Leher dan kaki mereka terbelenggu sedemkian rupa sehingga mereka tidak dapat berpindah tempat bahkan kepala mereka pun tidak dapat bergerak sehingga mereka hanya dapat memandang ke depan dinding gua. Mereka duduk membelakangi lubang masuk gua yang terbuka bagi cahaya dari luar untuk menorobos masuk ke dalam gua waktu siang. Namun sumber cahaya tetap bagi mereka berasal dari api unggun yang terus menerus menyala yang terletak di tempat yang agak tinggi, sedikit jauh di belakang mereka, berada di atas lubang masuk gua. Di antara api unggun dan para tahanan itu ada jalan yang letaknya lebih rendah dari api unggun, namun lebih tinggi dari tempat para tahanan itu terbelenggu. Jalan itu senantiasa dipenuhi oleh orang-orang yang hilir-mudik menjunjung berjenis-jenis benda seperti patung-patung manusia, hewan dan bentuk pohon-pohon yang terbuat dari batu atau kayu dan juga barang lainnya. Karena letak jalan yang dipenuhi oleh orang-orang yang hilir mudik itu lebih rendah dari letak api ungggun, maka bayangan yang terpantul ke tembok di depan para tahanan itu hanyalah bayangan dari berbagai jenis benda yang dijunjung oleh orang-orang yang hilir-mudik itu saja. Dan bayangan itu sajalah yang setiap saat dilihat oleh para tahanan itu selama hidup mereka, sehingga semakin lama mereka akan semakin percaya bahwa bayangan itulah realitas yang sebenarya.
Gua yang berada di bawah tanah itu tidak lain dari pada dunia yang dapat dilihat dan diraba. Gua itu melukiskan dunia indrawi. Para tahanan adalah gambaran manusia yang terbelenggu oleh tubuhnya dengan perlengkapan panca indra yang terbatas, sedangkan beyangan-bayangan yang mereka lihat setiap saat itu adalah kenyataan-kenyataan indrawi.
Selanjutnya, Plato melukiskan apa yang akan terjadi seandainya salah seorang dari tahanan itu dilepaskan dari belenggunya dan diperkenankan keluar dari gua itu. Pada mulanya ia menyangka  bahwa ia telah keluar dari dunia nyata dan memasuki dunia bayangan atau dunia impian. Namnun lambat laun ia menyadari bahwa sesungguhnya apa yang ia lihat di dalam gua di bawah tanah itu hanyalah bayangan belaka, sedangkan segala sesuatu yang berada di luar gua adalah kenyataan yang sebenarnya.
Kenyataan yang sebenarnya ialah realitas yang ada di dalam dunia ide, sedangkan orang yang mengetahui realitas yang sebenarnya itu adalah orang yang telah terlepas dari belenggu di dalam gua itu, yaitu orang yang memiliki pengetahuan. Orang itu ialah filsuf, pecinta kebenaran. Ia akan senantiasa berusaha memperoleh pengetahuan yang benar dan tidak mau ditipu oleh berbagai bayangan tiruan yang tertangkap oleh panca indra. Hanya orang yang telah terlepas dari belenggu itu yang mengetahui bahwa apa yang terlihat di dalam gua itu bukanlah realitas yang sebenarnya.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Plato lahir dalam suatu keluarga aristokrat Athena yang turun menurun memiliki peranan yang amat penting dalam kehidupan politik di Athena, ayahnya bernama Ariston dan ibunya bernama Periktione. Nama asli Plato ialah Aristokles, karena dahi dan bahunya yang lebar maka pelatih senamnya menjulukinya Plato yang berarti “Si Lebar”.
Guru filsafat yang sangat dikagumi dan dihormati Plato ialah Socrates, Socrates memiliki tempat istimewa dan paling khusus di kehidupan Plato, dan hal itu nampak jelas lewat karya-karya Plato yang menggunakan metode Sokratik.
Seluruh filsafat Plato bertumpu pada ajarannya tentang ide, Plato percaya bahwa ide adalah realitas yang sebenarnya dari segala sesuatu yang ada yang dapat dikenal lewat panca indra. Sebagai realitas yang sebenarnya, bagi Plato ide bersifat objektif, karena itu idealisme Plato sering disebut idealisme realistis, sedangkan idealisme modern bersifat subjektif.

DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, Asmoro. Filsafat Umum, (Jakarta: Rajawali Pers, 2001)
Hendrik, Rapar, Jan. Filsafat Politik Plato, (Jakarta: Rajawali Pers, 1991)
Tafsir, Ahmad. Filsafat Umum Akal dan Hati sejak Thales sampai Capra, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009)


[1] Phaedo, halaman 597
[2] Ibid., 66B
[3] Ibid., 82B
[4] Lihat Gorgias 493A.
[5] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati sejak Thales sampai Capra, (Bandung: PT Remaja Rosdaa Karya, 2009), h. 144.
[6] Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, (Jakarta: Rajawali Pers, 2001), h. 16.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Suara Demokrasi SMPN 96

Jumat, 15 September 2023 SMPN 96 Jakarta menggelar Selebrasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang bertemakan Suara Demokrasi....