MAKALAH
FILSAFAT UMUM DAN ISLAM
“Filsafat Plato”
“Filsafat Plato”
Diajukan
guna memenuhi nilai UAS mata kuliah Filsafat Umum dan Islam
Dosen Pengampu: Dr. Sandi Santosa, M.Si
Dosen Pengampu: Dr. Sandi Santosa, M.Si
Disusun
oleh:
WAHIDO
AMARSYAH
NIM: 161311644
NIM: 161311644
Fakultas
Tarbiyah
Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an Jakarta
Jalan Batan I No.63, Pasar Jumat, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan 12440
Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an Jakarta
Jalan Batan I No.63, Pasar Jumat, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan 12440
KATA
PENGANTAR
Segala
puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah serta inayah-Nya
kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah
Filsafat Umum dan Islam ini.
Makalah ini saya buat dengan
semaksimal mungkin dan mendapat bantuan dari berbagai pihak sehingga
memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu saya haturkan beribu-ribu terima
kasih kepada semua pihak yang berkontirbusi, khususnya kepada dosen Filsafat saya
bapak Dr. Sandi Santosa, M.Si.
Terlepas dari semua itu, saya
menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat
atau tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka saya menerima segala
kritik dan saran yang bersifat membangun.
Jakarta,
10 Januari 2018
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sebagian
besar orang mengatakan bahwa filsafat itu sangat susah dan sulit, namun
demikian orang-orang tersebut tidak menyadari bahwa keseharian mereka diisi
dengan filsafat, atau bisa dikatakan mereka telah berfilsafat dalam
kehidupannya. Pemikiran seperti ini didasari karena pemahaman mereka tentang
filsafat masih sangat sedikit dan bahkan belum tau tentang filsafat itu apa.
Orang-orang
terdahulu hingga sekarang yang mencintai filsafat atau para filosof mengartikan
filsafat yaitu mencintai kebijaksanaan, sehingga ketika berfilsafat berarti
mereka telah mencintai kebijaksaan, namun bukan berarti merasa dirinya sudah
benar. Cinta kebijaksanaan berarti akan selalu mencari bagaimana mendapatkan
kebijaksaan itu, karena hal yang kita cintai tentulah ada usaha untuk
mendapatkan hal tersebut.
Sejarah
tentang filsafat ini membawa kita untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang
pemikiran-pemikiran para filosof terdahulu. Dengan hasrat ingin mengetahui
pemikiran tersebut membawa kita untuk lebih dalam lagi mengkaji tentang
pemikiran filosof-filosof itu.
Perlunya
mengkaji pemikiran tersebut adalah sebagai sarana untuk merangsang pikiran kita
agar bisa lebih berkembang lagi dan lebih luas lagi. Dari sekian banyak pemikiran
tersebut pemakalah akan mengangkat tentang pemikiran filosof Plato. Pemikiran
Plato ini sangat menarik untuk dibahas karena sebagaimana kita ketahui bahwa
Plato dikenal sebagai bapak filsafat.
Atas
dasar pemikiran Plato inilah yang menjadi latar belakang pembuatan makalah ini,
karena sangat menarik untuk dikaji terlebih lagi dengan julukannya sebagai
bapak filsafat dan juga dikenal sebagai filosof pertama kali yang menuangkan
pemikiran-pemikirannya dalam sebuah tulisan atau buku. Sejarah filosof dari thales
sampai socrates belum pernah terdengar bahwa mereka menuangkan pemikiran mereka
ke dalam sebuah tulisan, karna mereka lebih bersifat dialektika. Namun setelah
masuk zamannya Plato, pemikiran-pemikiran filsafat itu pun dibukukan, sehingga
ada sebuah pedoman atau bahan untuk generasi berikutnya yang ingin mengkaji
tentang pemikiran para filosof terdahulu.
Di
dalam makalah ini tentu akan lebih banyak kita temukan tentang Plato dan
pemikirannya, karena yang menjadi titik acuan pemakalah adalah Plato dan pemikirannya.
Namun, walaupun sedikit menyinggung tentang pemikiran sebelum Plato diantaranya
Socrates yakni guru dari Plato, dimana tolak acuan pemikiran dari Plato adalah
pemikiran gurunya sendiri walaupun terdapat juga sedikit perbedaan. Plato juga
sedikit mengambil pemikiran dari filosof sebelum gurunya, seperti Heraclitus
dan filosof-filosof Yunani lainnya.
B. Rumusan
Masalah
Adapun
masalah-masalah yang saya angkat di dalam makalah ini sebagai berikut:
1. Siapakah
Plato?
2. Dari
manakah sumber-sumber filsafat Plato?
3. Apa
itu Idealisme Plato?
C. Tujuan
Setiap
pembuatan sesuatu tentulah memiliki maksud ataupun tujuan, seperti halnya
pembuatan mobil bertujuan untuk sebagai alat transportasi, begitu pun halnya
pembuatan makalah ini juga memiliki beberapa tujuan, yakni selain untuk
memenuhi nilai tugas dari dosen juga sekaligus menambah wawasan saya tentang
filosof Plato.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Kelahiran
dan Silsilah Plato
Tempat
dan tahun kelahiran Plato yang sesungguhnya tidak diketahui dengan pasti. Ada
yang mengatakan Plato lahir di Athena, ada juga yang mengatakan ia lahir di
pulau Aegina. Demikian juga dengan tahun kelahirannya, ada yang mengatakan ia
lahir 428 SM, ada juga yang mengatakan ia lahir 427 SM. Yang pasti ialah, Plato
lahir dalam suatu keluarga aristokrat Athena yang turun-temurun memiliki
peranan yang amat penting dalam kehidupan politik di Athena. Ayahnya bernama
Ariston, seorang bangsawan keturunan raja Kodrus, raja terakhir Athena yang
hidup sekitar 1068 SM yang sangat dikagumi rakyatnya oleh karena kecakapan dan
kebijaksanaannya memerintah Athena. Ibunya bernama Periktione keturunan Solon,
tokoh legendaris dan negarawan agung Athena yang hidup sekitar seratus tahun
lebih awal dari Periktione.
Nama
Plato yang sebenarnya ialah Aristokles. Karena dahi dan bahunya yang
amat lebar, ia memperoleh julukan “Plato” dari seorang pelatih senamnya. Plato
dalam bahasa Yunani berasal dari kata benda Platos (kelebarannya/lebarnya)
yang dibentuk dari kata sifat Platus yang berarti “lebar”. Dengan
demikian, nama Plato berarti “si lebar”, julukan yang diberikan oleh pelatih
senamnya itu begitu cepat populer dan menjadi panggilannya sehari-hari, bahkan
kemudian menjadi nama resmi yang diabadikannya lewat seluruh karyanya.
Ketika
Plato masih kecil, ayahnya meninggal. Ibunya kemudian menikah kembali dengan
paman Plato yang bernama Pyrilampes. Paman yang menjadi ayah tiri Plato itu
adalah seorang tokoh yang disegani di Athena karena ia adala seorang politikus
yang dekat dengan Pericles, pemimpin dan negarawan besar Athena yang baru saja
meninggal (427 SM). Plato dibesarkan dan dididik oleh Pyrilampes. Plato
kemudian meninggal di Athena pada usia delapan pulih tahun dan selama hidupnya
ia tidak pernah menikah.
B. Karya-karya
Plato
Lewat
hasil karya tulisnya yang cukup banyak dan yang sebagian besar ditulis dalam
bentuk dengan gaya bahasa yang sangat indah dan menawan hati, Plato bukan hanya
terkenal sebagai seorang filsuf yang agung melainkan juga sebagai seorang
sastrawan yang mengagumkan. Semua karya tulis plato yang diwariskannya kepada
kita masih cukup lengkap dan dalam kondisi yang baik.
Ada
sebuah daftar karya tulis Plato yang disusun oleh Thrasyllos (meninggal 36 M).
Dalam daftarnya itu, Thrasyllos membagi semua karya tulis Plato ke dalam
sembilan kelompok dan setiap kelompok terdiri dari eampat karya tulis
(tetralogies), itu berarti bahwa bagi Thrasyllos semua karya tulis Plato
berjumlah tiga puluh enam buah. Namun oleh para sarjana modern, karya berikut:
Alkibiades
II, Minos, Theages, Erastae atau Amatores, Axiokhus, Eryxias, Hipparkhos,
Tentang Kebajikan, Tentang Keadilan dan Definisi-definisi bukanlah hasil karya
tulis Plato.
Sedangkan
karya:
Alkibiades
I, Epinomis, Kleitphon, Hippias Maior, dan Hippias Minor masih diragukan
otentisitasnya.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh
para sarjana, khususnya sejak Schleiermacher (1768-1834), menyusun secara
kronologis semua hasil karya tulis Plato, namun hingga sekarang ini hasilnya
kurang memuaskan dan pada umumnya belum dapat diterima oleh semua ahli.
Pada 1578 terbitlah di Paris satu
edisi karya Plato yang disunting dan diterbitkan oleh H. Stephanus yang
kemudian menjadi referensi bagi para sarjana modern bila mengutip
tulisan-tulisan Plato. Setiap bagian dinyatakan oleh nomor halaman sedangkan lokasinya
dalam kolom-kolom ditunjukkan dengan huruf-huruf A-E. Sebagai contoh, apabila
kita hendak mengutip karya tulis Plato yang berjudul Republic di halaman
339 mulai kolom B sampai halaman 340 kolom C maka kutipan itu ditulis sebagai
berikut: Plato, Republic 339B-40C. Pada masa kini sudah cukup banyak terjemahan
karya tulis Plato ke dalam bahasa Inggris yang begitu baik dan lebih teliti
dari terjemahan sebelumnya yang tidak menggunakan sistem Stephanus.
C. Sumber-sumber
Filsafat Plato
Guru
filsafat yang amat dikagumi, dihormati, dan dicintai Plato ialah Socrates. Bagi
Plato, Socraes adalah guru dan sahabat,
.
. . .the noblest and the wisest and most just.[1]
.
. . .yang paling mulia, yang paling bijaksana dan yang paling tulus.
Ungkapan
itu menunjukkan bahwa Socrates memiliki tempat yang paling khusus dalam
kehidupan Plato dan hal itu nampak jelas lewat karya-karya filsafatinya. Hampir
seluruh karya filsafati Plato menggunakan “metode sokratik”, yaitu metode yang
dikembangkan oleh Socrates yang dikenal juga dengan nama “metode dialektis”
atau yang sering kali juga disebut “elenkhus”. Metode itu terwujud ke dalam
suatu bentuk tanya jawab atau dialog sebagai suatu upaya untuk meraih kebenaran
dan pengetahuan. Plato berhasil menyempurnakan metode sokratik dengan
menuliskan dialog-dialognya ke dalam suatu bentuk kesusastraan yang mampu
mempesona begitu banyak orang dari abad ke abad. Dalam hampir semua dialog
Plato, kecuali yang ditulis menjelang akhir hidupnya, Socrates senantiasa
ditempatkannya sebagai pelaku utama. Lewat seluruh karya filsafatinya, Plato
seolah hendak mengabadikan nama gurunya yang sangat dicintainya itu. Kendati
demikian, itu tdak berarti Plato semata-mata hanya mewarisi filsafat Socrates.
Memang dari Socrates Plato mengenal nilai-nilai kesusilaan yang menjadi
norma-norma dalam diri dan kehidupan manusia, tetapi filsafat Plato tidak hanya
tertuju pada persoalan manusia dan etika saja. Lewat filsafat, Plato ingin
mengetahui segala sesuatu serta menetapkan hakikat dari segala sesuatu itu.
Sesungguhnya Plato tidak hanya
dipengaruhi Socrates, tetapi juga dipengaruhi oleh filsuf sebelumnya yang
dikenal sebagai filsuf pra-sokratik. Sebelum Plato menjadi murid
Socrates, Plato telah belajar filsafat dari Kratylos. Kratylos adalah murid
Herakleitos, si gelap (ho skoteinos) yang meraih gelar demikian itu oleh
karena filsafatnya yang sulit difahami. Herskleitos mengajarkan bahwa segala
sesuatu senantiasa bergerak dan berubah. Tidak ada sesuatu pun yang tetap dan
tak berubah. Karena segala sesuatu itu senantiasa bergerak maka pada dasarnya
seluruh realitas senantiasa berada dalam proses menjadi yang terus-menerus.
Bagaikan api yang selalu bergerak, demikianlah pula segala sesuatu itu
terus-menersu bergerak dan berubah-ubah. Plato membenakan pemikiran Herakleitos
dan Krylatos, namun kebenaran pemikiran mereka itu hanya berlaku dalam hal yang
indrawi semata-mata. Secara indrawi segala sesuatu selalu bergerak dan berubah,
mengalir, berlalu dan meniada tetapi juga senantiasa menjadi.
Plato pun mengenal ajaran Parmenides
yang bertolak belakang dengan pemikiran Herakleitos. Bagi Parmenides yang ada
itu ada dan yang tidak ada itu tidaka ada. Parmenides mengatakan tidak ada yang
bergerak, tidak ada yang berubah, tidak ada yang mengalir dan berlalu serta
meniada dan dengan demikian tentu saja tidak ada yang menjadi. Yang ada itu ada
dan adanya itu abadi. Plato mengakui kebenaran ajaran Parmenides, namun
kebenaran ajaran Parmenides itu tidak berlaku di dunia indrawi. Plato
mengatakan, keberadaan ada yang tidak dapat berubah dan yang bersifat abadi itu
berlaku di dalam dunia ide. Di dalam dunia ide itulah karakter fundamental dari
realitas itu permanen dan tidak berubah-ubah.
Plato juga mengetahui dengan baik
ajaran Orphisme atau yang sering disebut sebagai Mysteri Orphik, yakni
suatu gerakan agamis dan filsafati yang tersebar di Yunani pada awal abad ke-6
SM dan yang begitu mempengaruhi serta menarik perhatian para penganut
Pythagoreanisme di Italia Selatan. Orphisme mengajarkan dualisme tubuh dan jiwa
manusia. Jiwa terpenjara dalam tubuh dan adalah tugas manusia untuk membebaskan
jiwa dari penjara tubuh itu. Pembebasan jiwa itu hanya mungkin tercapai lewat
upacara kudus dan pertarakan yang ketat, bahkan hubungan seksual pun dilarang.
Penganut Orphisme meyakini akan adanya kehidupan setelah kematian. Elemen utama
ajaran Orphisme itu tampak juga dalam konsep Plato tentang manusia. Menurut
Plato, manusia memang terdiri dari tubuh dan jiwa. Tubuh dan jiwa itu
senantiasa berada dalam ketegangan dan saling tarik-menarik. Tubuh adalah musuh
jiwa karena tubuh penuh dengan berbagai kejahatan[2]
dan oleh sebab itu tubuh merupakan penjara bagi jiwa[3].
Mengapa jiwa terpenjara dalam tubuh? Plato menjawab pertanyaan itu dengan
mengatakan bahwa jiwa manusia dalam keberadaannya di dunia ini terdiri dari
tiga bagian. Bagian yang pertama ialah fikiran atau akal (nous)yang
merupakan bagian rasional dan yang kedua ialah bagian semangat atau keberanian (thumos),
sedangkan yang ketiga ialah bagian keinginan atau nafsu (epithumia).
Karena pengaruh bagian terakhir itulah maka jiwa manusia terpenjara dalam
tubuh.
Plato juga mengenal konsep
Pythagoreanisme tentang tubuh dan jiwa sebagai soma-sema yang artinya
tubuh (soma) adalah kubur (sema) jiwa[4],
namun sesudah ia menggumulinya, Plato menolak konsep itu. Plato tidak dapat
menerima ajaran Pythagoreanisme yang mengatakan bahwa tubuh adalah kubur jiwa oleh karena menurut Plato tubuh
tidak dapat mematikan jiwa. Tubuh hanya dapat menahan jiwa untuk sementara
waktu dan itulah sebabnya Plato mengatakan bahwa tubuh hanyalah penjara jiwa
dan buka kubur jiwa.
Filsafat
Plato bukan hanya bersumber dari pemikiran para filsuf pra-sokratik, tetapi
juga pada ajaran para Sofis, walaupun lebih banyak secara negatif, yakni
merupakan kecaman terhadap pemikiran para Sofis itu. Plato sangat menentang
skepitisime dan relativisme moral yang disebar luaskan oleh para Sofis.
D. Idealisme
Plato
Di
dalam filsafat, idealisme adalah doktrin yang mengajarkan bahwa hakikat dunia
fisik hanya dapat difahami dalam kebergantungannya pada jiwa (mind) dan spirit
(roh). Istilah ini diambil dari “idea”, yaitu sesuatu yang hadir dalam
jiwa. Keyakinan ini ada pada Plato.[5]
Seluruh
filsafat Plato bertumpu pada ajarannya tentang ide. Plato percaya bahwa ide
adalah realitas yang sebenarnya dari segala sesuatu yang ada yang dapat dikenal
lewat panca indra. Pohon, bunga, manusia, hewan, dan lain-lain sebagainya akan
mati dan berubah, tetapi ide pohon, bunga, manusia, hewan, tidak akan pernah
berubah. Karena ide adalah realitas yang sebenarnya atau keberadaan ada yang sesungguhnya,
maka bagi Plato ide bukanlah sekedar gagasan atau gambaran yang hanya berada di
dalam pemikiran manusia. Ide bukanlah sesuatu yang subjektif yang tercipta oleh
daya fikir manusia dan oleh sebab itu keberadaan ide itu lalu bergantung pada
daya fikir manusia. Sebagai realitas yang sebenarnya, bagi Plato ide bersifat
objektif. Keberadaan ide tidak bergantung pada daya fikir manusia, ide itu
mandiri, sempurna, abadi dan tidak berubah-ubah.
Apabila
ide merupakan realitas yang sebenarnya, lalu bagaimanakah dengan alam fisik
yang dikenal manusia lewat panca indra? Kenyataan menunjukkan bahwa alam
indrawi itu senantiasa berada dalam perubahan, tidak tetap, tidak sempurna,
tidak abadi, majemuk, dan puspa ragam. Bagi Plato kenyataan yang demikian itu
membuktikan bahwa dunia indrawi bukanlah realitas yang sebenarnya. Dunia
indrawi itu hanyalah bayangan atau gambaran yang tidak lengkap dan tidak
sempurna dari dunia ide. Beraneka ragam kursi di dunia indrawi hanyalah
bayangan yang tidak lengkap dari kursi yang sempurna yang ada di dunia ide.
Kursi yang sempurna yang ada di dunia ide itu hanya satu, sedangkan kursi yang
ada di dunia indrawi bermacam-macam karena sebagai bayangan atau gambaran yang
tidak sempurna ia justru menggambarkan yang sempurna itu lewat aneka bentuk dan
berbagai rupa.
Plato
mengakui bahwa dunia indrawi yang serba majemuk dan puspa ragam adalah juga suatu
realitas, namun bukanlah realitas sebenarnya, dunia indrawi hanyalah tiruan
sementara dari dunia ide. Oleh sebab itu yang paling utama bagi Plato adalah
dunia ide. Tetapi itu tidak berarti dunia indrawi harus disangkal
keberadaannya, kedua dunia itu tetap merupakan realitas sendiri-sendiri kendati
pun yang indrawi hanyalah merupakan tiruan dari dunia ide. Ada dua cara untuk
mengenal kedua dunia itu, dunia indrawi dikenal lewat panca indra, sedangkan
dunia ide dikenal lewat akal budi. Sebagai contoh: lewat panca indra manusia
mengenal kursi yang bermacam-macam, dengan akal budi manusia memasuki dunia ide
dan di sana ia mengenal ide kursi yang sempurna, tunggal dan abadi.
Apabila
dikatakan bahwa di dunia ide tiada yang serba majemuk dan puspa ragam, itu
tidak berarti bahwa di dunia ide hanya ada satu ide saja. Di dunia ide ada
banyak ide, namun masing-masing ide itu hanya ada satu. Hanya ada satu ide
kursi, hanya ada satu ide segitiga, hanya ada satu ide ide kuda, hanya ada satu
ide yang baik, hanya ada satu ide yang indah dan lain sebagainya. Ide ada yang
saling berkaitan satu dengan yang lainnya dan menyatu dalam satu realitas,
misalnya ide kursi menyatu dengan ide bagus, ide segiempat dan ide tinggi. Ide
manusia menyatu dengan ide wanita, ide cantik, ide ramah, dan ide lembut.
Penyatuan ide ke dalam satu realitas ada yang demikian itu disebut persekutuan
(bahasa Yunani: koinonia). Selain ide bisa menyatu dalam satu
persekutuan ide, mereka juga memiliki susunan tingkatan atau hirarki. Yang
berada di puncak susunan tingkatan ide itu ialah ide yang baik dan menerangi
seluruh ide yang ada di dunia ide.
Bagaimanakah
manusia dapat mengetahui bahwa apa yang ada di dunia indrawi adalah gambar dan
bayang dari apa yang ada di dunia ide? Dalam hal itu, jiwa tampil sebagai
penghubung yang menghubungkan dunia ide dengan dunia indrawi. Sebelum jiwa
manusia terpenjara oleh tubuh, ia berada di dunia ide dan oleh sebab itu ia
mengenal segala sesuatu yang ada di dunia ide. Sesudah jiwa masuk ke dalam
dunia indrawi dan terpenjara oleh tubuh, maka setiap kali ia mengamati
benda-benda fisik yang berada di dunia indrawi ini ia teringat akan ide benda
itu, yang asli dan yang sempurna yang ada di dunia ide. Oleh sebab itu, bagi
Plato Pengetahuan adalah ingatan. Mengetahui berarti mengingat, upaya untuk
memperoleh pengetahuan berarti upaya untuk kembali memasuki dunia ide lewat
ingatan. Dengan filsafat, manusia (baca: jiwa) berupaya untuk mengenal kembali
dengan sebaik mungkin apa yang dahulu pernah diketahuinya dengan sempurna di
dunia ide.
Dari
uraian yang telah dipaparkan di atas, jelas terlihat bahwa idealisme Plato
berbeda dengan idealisme modern. Dunia ide bagi Plato merupakan suatu realitas
yang objektif, karena itu idealisme Plato sering disebut sebagai idealisme
realistis, sedangkan idealisme modern bersifat subjektif oleh sebab itu sering
disebut idealisme subjektif.
E. Etika
Etika
atau filsafat prilaku sebagai satu cabang filsafat yang membicarakan tindakan
manusia, dengan penekanan yang baik dan yang buruk. Terdapat dua hal
permasalahan, yaitu yang menyangkut tindakan dan baik-buruk. Apabila
permasalahan jatuh pada tindakan, maka etika disebut sebagai filsafat praktis
sedangkan jika jatuh pada baik-buruk, maka etika disebut filsafat normatif.[6]
Apakah
tujuan hidup manusia? Bagi Plato tujuan hidup manusia ialah kehidupan yang
senang dan bahagia, manusia harus mengupayakan kesenangan dan kebahagiaan hidup
itu. Tetapi apakah kesenangan dan kebahagiaan hidup itu? Menurut Plato
kesenangan dan kebahagiaan hidup itu bukanlah pemuasan hawa nafsu selama hidup
di dunia indrawi. Plato konsekuen dengan ajarannya tentang dua dunia. Karena
itu keenangan dan kebahagiaan hidup haruslah dilihat dalam hubungan kedua dunia
itu.
Sebagaimana
yang telah dikemukakan sebelumnya, dunia yang sesungguhnya bagi Plsto ialah
dunia ide. Semua ide dengan ide yang baik atau ide kebaikan dan ide kebajikan
sebagai ide yang tertinggi yang ada di dunia ide adalah realitas sebenarnya.
Sedangkan segala sesuatu yang ada di dunia indrawi hanyalah merupakan realitas
bayangan. Jiwa manusia sebelum terpenjara oleh tubuh, berasal dari dunia
ide,oleh sebab itu ia harus kembali ke dunia ide untuk menetap di sana. Manusia
(baca: jiwa) hanya sementara berada di dunia indrawi. Selama manusia berada di
dunia indrawi, ia senantiasa rindu untuk naik ke atas ke dunia ide. Agar ia
siap kembali ke dunia ide, maka selama ia hidup di dunia indrawi ia harus memiliki
pengetahuan yang disempurnakan oleh pengertian uang seluas-luasnya dan yang
sedalam-dalamnya. Selama ia hidup di dunia indrawi ia senantiasa harus
mengupayakan dengan semaksimal mungkin untuk meraih pengetahuan yang benar,
karena hanya orang yang memiliki pengetahuan yang benar yang disebut bijaksana
dan berbudi baik. Hanya orang yang bijaksana dan berbudi baik yang akan dapat
memahami segala sesuatu yang begitu beraneka ragam dan yang berubah-ubah yang
ada di dunia indrawi. Pemahaman lewat pengetahuan yang benar itu, akan menuntun
mereka yang bijaksana dan berbudi baik itu sampai kepada pengenalan akan ide-ide yang merupakan
kebenaran yang sejati. Siapa yang dapat menyelami segala sesuatu itu sampai
kepada idenya dengan ide kebaikan dan kebajikan sebagai ide yang tertinggi,
maka ia akan mencintai ide itu dan ia akan senantiasa terarah kepada yang baik
atau yang bajik itu. Ia pasti tidak akan berbuat yang jahat. Bagi yang
berpengetahuan, yakni mereka yang bijaksana dan berbudi baik, berbuat yang baik
akan mendatangkan kesenangan dan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Mereka
itulah yang walaupun berada di dunia indrawi akan sanggup hidup seolah-olah
berada di dunia ide, lebih dari itu mereka akan senantiasa berupaya untuk
menghadirkan dunia ide dengan ide tertingginya yaitu ide kebajikan dan kebaikan
di tengah-tengah kehidupannya di dunia indrawi. Upaya yang demikian itu hanya
mungkin terwujud apabila mereka memiliki pengetahuan yang benar. Itulah sebabnya
mereka harus berupaya untuk memperoleh pengetahuan yang benar dan itulah
pulakunci untuk meraih kesenangan dan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Dengan
demikian jelas terlihat bahwa etika Plato adalah etika yang didasarkan pada
pengetahuan, sedangkan pengetahuan hanya mungkin diraih dan dimiliki lewat dan
oleh akal budi. Maka itulah sebabnya etika Plato disebut juga sebagai etika
rasional.
F. Perumpamaan
Tentang Gua
Untuk
menjelaskan teorinya mengenal manusia, dunia indrawi, dunia ide dan
pengetahuan, Plato membuat suatu perumpamaan yang sangat indah dan amat
terkenal yang terdapat di awal buku ketujuh dalam karyanya yang berjudul Republic,
yaitu perumpamaan tentang orang-orang tahanan yang terbelanggu di dalam sebuah
gua.
Konon
di dalam sebuah gua di bawah tanah, ditempatkanlah orang-orang tahanan yang
terbelenggu sejak masa kecil mereka. Leher dan kaki mereka terbelenggu
sedemkian rupa sehingga mereka tidak dapat berpindah tempat bahkan kepala
mereka pun tidak dapat bergerak sehingga mereka hanya dapat memandang ke depan
dinding gua. Mereka duduk membelakangi lubang masuk gua yang terbuka bagi
cahaya dari luar untuk menorobos masuk ke dalam gua waktu siang. Namun sumber
cahaya tetap bagi mereka berasal dari api unggun yang terus menerus menyala
yang terletak di tempat yang agak tinggi, sedikit jauh di belakang mereka,
berada di atas lubang masuk gua. Di antara api unggun dan para tahanan itu ada
jalan yang letaknya lebih rendah dari api unggun, namun lebih tinggi dari
tempat para tahanan itu terbelenggu. Jalan itu senantiasa dipenuhi oleh
orang-orang yang hilir-mudik menjunjung berjenis-jenis benda seperti
patung-patung manusia, hewan dan bentuk pohon-pohon yang terbuat dari batu atau
kayu dan juga barang lainnya. Karena letak jalan yang dipenuhi oleh orang-orang
yang hilir mudik itu lebih rendah dari letak api ungggun, maka bayangan yang
terpantul ke tembok di depan para tahanan itu hanyalah bayangan dari berbagai
jenis benda yang dijunjung oleh orang-orang yang hilir-mudik itu saja. Dan
bayangan itu sajalah yang setiap saat dilihat oleh para tahanan itu selama
hidup mereka, sehingga semakin lama mereka akan semakin percaya bahwa bayangan
itulah realitas yang sebenarya.
Gua
yang berada di bawah tanah itu tidak lain dari pada dunia yang dapat dilihat
dan diraba. Gua itu melukiskan dunia indrawi. Para tahanan adalah gambaran
manusia yang terbelenggu oleh tubuhnya dengan perlengkapan panca indra yang
terbatas, sedangkan beyangan-bayangan yang mereka lihat setiap saat itu adalah
kenyataan-kenyataan indrawi.
Selanjutnya,
Plato melukiskan apa yang akan terjadi seandainya salah seorang dari tahanan
itu dilepaskan dari belenggunya dan diperkenankan keluar dari gua itu. Pada
mulanya ia menyangka bahwa ia telah
keluar dari dunia nyata dan memasuki dunia bayangan atau dunia impian. Namnun
lambat laun ia menyadari bahwa sesungguhnya apa yang ia lihat di dalam gua di
bawah tanah itu hanyalah bayangan belaka, sedangkan segala sesuatu yang berada di
luar gua adalah kenyataan yang sebenarnya.
Kenyataan
yang sebenarnya ialah realitas yang ada di dalam dunia ide, sedangkan orang
yang mengetahui realitas yang sebenarnya itu adalah orang yang telah terlepas
dari belenggu di dalam gua itu, yaitu orang yang memiliki pengetahuan. Orang
itu ialah filsuf, pecinta kebenaran. Ia akan senantiasa berusaha memperoleh
pengetahuan yang benar dan tidak mau ditipu oleh berbagai bayangan tiruan yang
tertangkap oleh panca indra. Hanya orang yang telah terlepas dari belenggu itu
yang mengetahui bahwa apa yang terlihat di dalam gua itu bukanlah realitas yang
sebenarnya.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Plato
lahir dalam suatu keluarga aristokrat Athena yang turun menurun memiliki
peranan yang amat penting dalam kehidupan politik di Athena, ayahnya bernama
Ariston dan ibunya bernama Periktione. Nama asli Plato ialah Aristokles, karena
dahi dan bahunya yang lebar maka pelatih senamnya menjulukinya Plato yang
berarti “Si Lebar”.
Guru
filsafat yang sangat dikagumi dan dihormati Plato ialah Socrates, Socrates
memiliki tempat istimewa dan paling khusus di kehidupan Plato, dan hal itu
nampak jelas lewat karya-karya Plato yang menggunakan metode Sokratik.
Seluruh
filsafat Plato bertumpu pada ajarannya tentang ide, Plato percaya bahwa ide
adalah realitas yang sebenarnya dari segala sesuatu yang ada yang dapat dikenal
lewat panca indra. Sebagai realitas yang sebenarnya, bagi Plato ide bersifat
objektif, karena itu idealisme Plato sering disebut idealisme realistis,
sedangkan idealisme modern bersifat subjektif.
DAFTAR
PUSTAKA
Achmadi, Asmoro.
Filsafat Umum, (Jakarta: Rajawali Pers, 2001)
Hendrik, Rapar, Jan.
Filsafat Politik Plato, (Jakarta: Rajawali Pers, 1991)
Tafsir, Ahmad. Filsafat
Umum Akal dan Hati sejak Thales sampai Capra, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2009)
[1] Phaedo,
halaman 597
[2] Ibid.,
66B
[3] Ibid.,
82B
[4] Lihat
Gorgias 493A.
[5] Ahmad
Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati sejak Thales sampai Capra, (Bandung:
PT Remaja Rosdaa Karya, 2009), h. 144.
[6] Asmoro Achmadi,
Filsafat Umum, (Jakarta: Rajawali Pers, 2001), h. 16.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar