Wikipedia

Hasil penelusuran

Rabu, 21 Oktober 2020

Pandemi dan Santri Masa Kini

Pada awal bulan Maret lalu bangsa Indonesia digemparkan oleh penyebaran wabah virus Corona (Covid-19) yang sudah masuk ke bumi Nusantara. Awal mula Covid-19 ini ditemukan di negara China pada akhir tahun 2019, dan dikatakan oleh para peneliti bahwa virus ini penyebarannya begitu cepat dan cukup berbahaya. Dan kemudian Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mendeklarasikan wabah Covid-19 ini sebagai Kesehatan Masyarakat Darurat Internasional atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) pada tanggal 30  Januari 2020, lalu berlanjut menjadi Pandemi pada tanggal 11 Maret 2020.  Pandemi itu sendiri ialah penyebaran penyakit atau virus baru yang telah menyebar ke seluruh dunia sehingga mempengaruhi banyak orang. Ketika masyarakat tahu bahwa Covid-19 mulai masuk ke Indonesia, ialah setelah mendengar berita Presiden Joko Widodo mengumumkan ada dua orang Warga Negara Indonesia (WNI)  yang telah terjangkit Covid-19, lebih tepatnya di kota Depok, Jawa Barat.

Setelah dua WNI tersebut positif terjangkit Covid-19, mulailah virus ini menyebar luas ke penduduk-penduduk Indonesia. Covid-19 ini cukup cepat penyebarannya di Bumi Pertiwi ini, mulai dari jumlah korban puluhan, ratusan, bahkan hingga ribuan, virus ini tiada henti hinggap di tubuh penduduk negeri. Sampai-sampai pemerintah mengeluarkan pernyataan bahwa seluruh penduduk Indonesia harus menghindar untuk berkerumun, senantiasa memakai masker dan mencuci tangan, hingga pada akhirnya ketika jumlah korban yang terjangkit Covid-19 tetap bertambah dan tidak terbendung, pemerintah menerapkan lockdown di setiap kota di Indonesia yang makin parah terpapar Covid-19, yaitu menutup ruang publik dan mengharuskan penduduknya agar tidak keluar rumah, artinya segala pekerjaan dilakukan dari rumah, baik itu bekerja, beribadah, belanja kebutuhan sehari-hari, sampai anak sekolah pun belajarnya harus di rumah tidak pergi ke sekolah. Hal yang demikian itu merupakan usaha pemerintah supaya masyarakat tidak berkerumun dan melakukan kontak fisik guna menekan jumlah korban yang terjangkit Covid-19 agar tidak terus meningkat.

Kebijakan pemerintah untuk menekan angka korban terjangkit Covid-19 dengan menutup semua ruang publik seperti, mall, swalayan, perkantoran, rumah ibadah, tempat rekreasi, sekolah, dan lain sebagainya tentu menimbulkan dampak yang besar bagi masyarakat luas. Di mana masyarakat dibatasi keluar dari rumahnya dan dituntut melakukan semuanya hanya dari rumah dengan memanfaatkan berbagai media sosial untuk berhubungan dengan orang lain. Artinya masyarakat mau tidak mau harus melek teknologi karena segala sesuatunya dikerjakan melalui jejaring sosial, demi menghindar dari kontak langsung dengan orang lain. Dampak lockdown yang begitu besar dirasakan masyarakat karena dituntut mengerjakan sesuatunya dengan online pun berimbas ke berbagai sektor, salah satunya sektor pendidikan. Di mana sekolah yang menjadi lembaga pendidikan tak luput dari penutupan yang pemerintah lakukan, dan semua kegiatan pendidikan di sekolah beralih dikerjakan melalui online/daring. Dengan hal yang demikian itu pelaku pendidikan seperti guru dan siswa harus beradaptasi terhadap pembelajaran yang diterapkan secara online.

Kegiatan pendidikan yang dilaksanakan secara online sekalipun tetap dalam tujuannya yaitu untuk mengembangkan potensi peserta didik baik dari segi intelektualnya maupun spiritualnya, seperti yang telah dirumuskan dalam UU No. 20 tahun 2003 Pasal 3 tentang sistem pendidikan nasional bahwasannya tujuan pendidikan adalah “Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta tanggung jawab. Di dalam tujuan pendidikan yang tadi telah disebutkan pada UU No. 20 tahun 2003 No. 3, ada tujuan yang diantaranya menyebutkan kreatif dan mandiri, tentu tujuan untuk menjadi kreatif dan mandiri adalah agar peserta didik bisa bersaing di era globalisasi dan modernisasi seperti sekarang ini, terlebih pada saat ini dihadapkan oleh sebuah Pandemi yang mengaruskan semua kegiatan pendidikan dilaksanakan secara online/daring.

Para tenaga pendidik di lembaga pendidikan seperti sekolah, kampus, maupun pondok pesantren, telah banyak yang menerapkan pembelajaran online/daring yang kreatif dan solutif. Di mana pembelajaran tidak selalu medengarkan guru dalam menjelaskan mareri pelajarannya di depan layar komputer/gadget, karena jika selalu begitu akan membuat peserta didik kurang memperhatikan pelajaran yang disampaikan, terlebih lagi pembelajaran online yang di mana guru tidak bisa sepenuhnya memperhatikan keadaan peserta didiknya. Pembelajaran kreatif dan solutif di sini yang dapat dilihat adalah pembelajaran yang di mana guru tidak banyak berceramah tentang isi materi pelajarannya, namun cukup menjelaskan garis besarnya sampai peserta didik paham, lalu memberikan tugas kepada peserta didik untuk membuat video yang berisikan tentang materi pelajaran yang dijabarkan menggunakan bahasa peserta didik sendiri. Dengan demikian pembelajaran yang kreatif dan solutif dapat membentuk peserta didik yang kreatif dan mandiri.

Pondok Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang menjunjung tinggi pendidikan agama pun telah banyak yang menerapkan pembelajaran yang kreatif dan berbeda seperti biasanya, tak bisa dipungkiri lagi itu karena Pandemi yang membuat keadaan di mana pembelajaran pesantren tidak dilaksanakan secara langsung tatap mukan, walau masih ada beberapa pesantren yang telah membuka pembelajaran secara langsung tatap muka. Pondok pesantren yang menggunakan pembelajaran online/daring awal mulanya tentu akan beradaptasi dengan keadaan yang baru dihadapi, di mana biasanya santri melakukan ngaji kitab kuning dengan metode sorogan bisa talaqqi langsung dengan kyainya. Adaptasi yang dihadapi oleh pondok pesantren akan begitu mudah dan cepat bilamana memiliki tenaga pendidik/ustadz dan ustadzah yang tak hanya berkompeten dalam intekeltualnya, namun juga memiliki kreativitas dalam mengajarnya. Begitupun para santrinya akan mudah beradaptasi bilamana mendapatkan penjelasan, bimbingan dan motivasi dari para ustadz/ustadzah maupun orang tuanya. Jadi yang demikian itu, adaptasi yang dihadapi oleh pelaku pendidikan pesantren baik itu dari mudirnya, ustadz dan ustadzahnya, maupun dari santrinya akan terasa mudah dan ringan bila satu samalain bersinergi dalam menciptakan pembelajaran pesantren yang kreatif dan efektif, sekalipun pembelajaran itu dilaksanakan secara online.

Di era pandemi saat ini, banyak pondok pesantren yang terkena dampak dari adanya pandemi itu sendiri, tentu dampak yang besarnya ialah ditutupnya pondok pesantren dan ditiadakannya kegiatan belajar mengajar secara langsung tatap muka di pesantren yang kemudian para santrinya diperintahkan belajar dari rumah melalui daring/online. Salah satu pondok pesantren yang menyelenggrakan pembelajaran online adalah Pondok Pesantren Qotrun Nada Depok, guna mencegah penyebaran wabah Covid-19 para santri belajar dari rumah melalui daring/online. Pembelajaran online yang pesantren lakukan dapat menjadi solusi agar para santri tetap produktif dan giat belajar belajar dari rumah, bilamana metode dan stretegi pembelajarannya tepat. Metode dan strategi pembelajaran yang tepat memang sangat penting untuk ustadz terapkan dalam kegiatan belajar dan mengajarnya. Seperti tidak terlalu monoton dalam menjelaskan materi ajar kepada santri, dan memberi tugas yang sedikit ada modifikasi atau berbeda dengan biasanya, seperti memberikan tugas kepada santri untuk membuat video tentang membaca kitab ta’lim muta’allim dan diberi kebebasan mengedit videonya sekreatif mungkin, itu akan mengasah kemandirian santri serta membuat santri semakin kreatif dalam belajar dan tetap produktif walau harus di rumah saja. Pemberian tugas pelajaran memang sangat berpengaruh pada meningkatkan kemandirian belajar santri, kreatifitas santri serta memupuk produktifitas santri selama pandemi, jika pemberian tugas dari ustadz dibarengi oleh perhatian yang orang tua berikan itu semua akan berjalan bersamaan.

Kreatifitas santri jika sudah terasah tidak akan hanya dipakai ketika mengerjakan tugas saja, namun akan berkembang ke segala macam karya, terlebih pada saat ini banyak media sosial yang menjadi wadah untuk menyebarluaskan karya yang santri buat. Dari yang mulanya santri membuat video tugas membaca kitab, kemudian santri akan tertarik membuat video yang lain, seperti salah satunya membuat video cover shalawat. Sebab dapat ditemukan bahwa akhir-akhir ini sedang tren di kalangan pegiat medsos (netizen) akan suatu shalawat yang banyak sekali orang lantunkan di berbagai media sosial, yakni shalawat yang berjudul Allahul Kafi yang sedang tranding di banyak platfrom sosial media, seperti di antaranya Facebook, Instagram, Tiktok dan lain  sebagainya. Tak bisa dipungkiri karena dari nada shalawatnya yang indah dan mudah untuk disenandungkan, maka banyak dari netizen yang mengcover shalawat ini dan menguploadnya di media sosial, tak terkecuali dari santri-santri yang memang sudah tak asing lagi dengan shalawat tersebut, sehingga banyak dari santri yang mengcover shalawat tersebut dengan menambahkan instrumen alat musik yang membuat semakin indah lantunan shalawat tersebut. Oleh karena itu dengan media sosial yang ada, ternyata santri-santri pun turut andil dalam berkarya atau mengasah kreatifitasnya dalam menyiarkan ajaran Islam, yang awal mulanya hanya mengisi waktu kosong karna di rumah saja, lambat laun menjadi suatu manfaat karena menjadi penyebab jutaan orang semakin kenal, semakin suka akan berbagai shalawat maupun ajaran agama Islam lainnya. Bahkan pada momen hari santri Nasional seperti sekarang ini, banyak pondok pesantren yang memanfaatkan sosial media untuk mengadakan lomba secara online dalam rangka memeriahkan Hari Santri Nasional 2020, salah satunya ialah Pondok Pesantren Darus-Sunnah, yaitu pesantren hadis pertama di Indonesia yang terletak di Ciputat, Tangerang Selatan. Pondok Pesantren Darus-Sunnah mengadakan lomba keagamaan dalam memeriahkan Hari Santri Nasional 2020 secara online, yang salah satu lombanya ada musabaqah qiroatil kutub atau lomba membaca kitab kuning. Lomba membaca kitab kuning tersebut dilakukan secara online dengan mekanisme, peserta membuat video membaca kitab Bidayatul Mujtahid dan menjelaskannya apa yang telah dibaca, kemudian diharuskan untuk menguploadnya ke IG TV milik peserta pribadi. Dengan yang demikian itu, media sosial menjadi suatu alat syiar ajaran agama Islam di tangan santri melalui washilah lomba Hari Santri Nasional 2020 yang diadakan oleh Pondok Pesantren Darus-Sunnah. Tak bisa dipungkiri walau Pandemi mengharuskan semuanya serba online dan berkegiatan harus dari rumah saja, namun hal itu tidak bisa menghalangi para santri untuk tetap produktif, terlebih lagi untuk memeriahkan momen hari santri Nasional ini.

Selama santri produktif akan selalu menciptakan suatu karya yang lahir dari tangannya yang kreatif, baik itu karya di kancah media sosial maupun karya di kehidupan nyata. Di kehidupan bermasyarakat santri pun banyak berperan, mulai dari lingkup kecil maupun lingkup besar pasti ada peran santri di sana, seperti misalnya mengimami shalat berjamaah di masjid ataupun memimpin majelis ta’lim di lingkungan RT. Terlebih lagi ketika pandemi, seorang santri akan menjadi tumpuan keluarganya dalam beribadah, anak santri akan membimbing ayah dan ibunya dalam beribadah, seperti mengimami shalat serta kemudian menjadi pembimbing adik maupun kakaknya seperti mengajarkan membaca Al-Quran, mengajarkan tajwidnya, menjelaskan tafsirnya, dan tak lupa akan mengajarkan tahsinnya. Dengan demikian, suatu karya dan usaha yang dihasilkan oleh santri pasti ada manfaat yang dirasakan oleh orang di sekitarnya, baik itu keluarganya maupun masyarakat di lingkungannya. Memang segala sesuatu yang terkena imbas dari wabah Covid-19 akan dapat diambil hikmah di dalamnya jika manusia bisa lebih berpikir jernih. Produktifitas dan kreatifitas pula lahir dari pikiran yang jernih, yang senantiasa melihat ke arah yang positif.

-Selamat Hari Santri Nasional (22 Oktober 2020)-
“Santri Sehat, Indonesia Kuat”

*Wahido Amarsyah (https://instagram.com/wahidoska)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Suara Demokrasi SMPN 96

Jumat, 15 September 2023 SMPN 96 Jakarta menggelar Selebrasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang bertemakan Suara Demokrasi....