Wikipedia

Hasil penelusuran

Rabu, 26 Januari 2022

Pola Pendidikan HMI

 Oleh : Wahido Amarsyah

Pendidikan merupakan investasi dalam pengembangan sumber daya manusia, di mana peningkatan kecakapan dan kemampuan diyakini sebagai faktor pendukung upaya manusia dalam mengarungi kehidupan yang semakin berkembang, oleh karenanya pendidikan bukan hanya ditujukan pada pembinaan keterampilan, melainkan pada pengembangan kecakapan serta kemampuan-kemampuan teoritis dan praktis berdasarkan konsep-konsep berfikir ilmiah. Dengan istilah sederhananya, pendidikan merupakan alat yang digunakan untuk mengembangkan kemampuan seseorang, baik dari sisi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pendidikan bisa didapatkan di dalam tiga lingkungan (tripusat pendidikan), yang di mana ketiga lingkungan itu merupakan sarana seorang individu untuk mendapatkan pendidikan, pertama di lingkungan keluarga (informal), kedua di lingkungan sekolah/kampus (formal), dan yang ketiga di lingkungan masyarakat atau organisasi kepemudaan (nonformal). Seseorang bisa bebas memilih jalur mana saja yang hendak ia jadikan jalan untuk menempa bakat dan potensi dalam dirinya, bahkan pada saat menempuh pendidikan formal pun seorang individu berhak juga ikut dalam kegiatan-kegiatan pendidikan nonformal.

Kegiatan pendidikan formal dapat berjalan beriringan dengan pendidikan nonformal, bahkan keduanya itu saling keterkaitan, bisa saling membutuhkan dan saling menguntungkan (simbiosis mutualisme). Contoh kasus pendidikan formal yang dapat berjalan beriringan dengan pendidikan nonformal ialah kampus dengan organisasi, kampus merupakan lembaga pendidikan yang di mana mahasiswa sebagai peserta didik di dalamnya diajarkan, dididik serta dikembangkan potensi akademiknya, dan organisasi merupakan lembaga nonformal atau wadah yang menunjang kebutuhan mahasiswa di luar bangku kuliahnya, yang di sana mahasiswa dapat mengembangkan kreativitas dan keterampilannya, mengasah minat dan bakatnya, lalu di organisasi pula mahasiswa dapat mengembangkan potensi dirinya. Oleh karena itu kampus dan organisasi saling keterkaitan dan saling membutuhkan, sebab ruang-ruang akademik seperti di kelas-kelas kampus dan laboratorium tidak akan cukup maksimal digunakan untuk mengembangkan bakat seseorang, sehingga seorang mahasiswa perlu mendapatkan pendidikan dan pengalaman lebih di luar bangku kuliah melalui organisasi yang di mana sebagai wadah untuk mengasah kemampuan dan bakat yang terpendam dalam diri mahasiswa.

Organisasi yang bisa menjadi wadah mahasiswa untuk mengasah kemampuan dan bakatnya dapat ditemukan ke dalam dua macam, yaitu: organisasi intra kampus dan organisasi mahasiswa ekstra kampus (omek). Organisasi itu sendiri mempunyai pengertian, yaitu merupakan bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama,[1] dalam pengertian lainnya Stephen P Robbins menyatakan bahwa organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.[2] Mahasiswa bebas memilih untuk bergabung ke organisasi mana yang dapat menjadi wadah untuk dia mengembangkan potensi dirinya serta belajar segala hal di luar bangku perkuliahan. Adapun organisasi intra kampus itu sendiri merupakan organisasi yang berdiri secara formal di dalam sebuah perguruan tinggi dan memiliki kedudukan resmi dan melekat dengan perguruan tinggi itu sendiri. Sedangkan organisasi mahasiswa ekstra kampus atau eksternal kampus merupakan organisasi yang tidak berada dibawah naungan perguruan tinggi melainkan berada di luar kampus, yang di mana organisasi ini banyak beraktifitas di luar kampus, dan memiliki jaringan serta kepengurusan yang berjenjang atau bertingkat hingga pengurus tingkat nasional bahkan tingkat internasional.

Tak hanya organisasi intra kampus, kini organisasi mahasiswa ekstra kampus (omek) pun sangat banyak keberadaannya di perguruan tinggi seluruh Indonesia dan rata-rata di setiap perguruan tinggi itu ada lebih dari satu omek, yang artinya mahasiswa disuguhkan pilihan untuk masuk ke dalam omek mana yang mereka inginkan, yang di mana sesuai dengan kriterianya untuk memenuhi kebutuhannya dalam menunjang pendidikannya maupun mengembangkan potensi dirinya. Kini mahasiswa yang memang memiliki keinginan untuk mengenyam pendidikan yang lebih melalui berorganisasi, sangatlah bebas dalam memilih organisasi mana yang ingin mereka masuki, baik itu organisasi intra kampus maupun organisasi mahasiswa ekstra kampus (omek). Dan jika dilihat pada posisi sekarang ini, sudah semakin banyak pertumbuhan omek di seluruh penjuru nusantara, salah satu di antaranya ialah Himpunan Mahasiswa Islam.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan organisasi mahasiswa muslim tertua di Indonesia, yang lahir pada hari Rabu tanggal 5 Februari 1947 di Sekolah Tinggi Islam (STI) Yogyakarta (sekarang bernama Universitas Islam Indonesia). Pada awal mula berdirinya, HMI memiliki tujuan awal yang sangat kental dengan nilai-nilai pendidikan yakni mempertegak dan mengembangkan ajaran agama Islam. Pada saat itu HMI sangat aktif dalam pengembangan ajaran Islam, yakni melalui aktivitas ceramah di surau-surau dan pelatihan-pelatihan yang dilaksanakan guna mendidik mahasiswa muslim agar senantiasa memahami dan mampu mengamalkan ajaran Islam di dalam kehidupannya sehari-hari.[3] Sebab pada dasarnya pendidikan bukan hanya sekedar transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) melainkan sekaligus juga transfer nilai (transfer of value), oleh karenanya penanaman nilai-nilai budaya dan karakter bangsa dalam pendidikan selalu HMI lakukan melalui sistem pendidikan yang HMI miliki sendiri. Sistem pendidikan yang ada di tubuh HMI itu mempunyai nama lain yakni perkaderan, melalui perkaderan lah HMI mendidik kader-kadernya agar dapat mencapai tujuan organisasi HMI yakni terbinanya mahasiswa Islam menjadi insan ulul albab yang turut bertanggung jawab atas terwujudnya tatanan masyarakat yang diridhai Allah Subhanahu wa ta’ala.

Upaya organisasi HMI dalam mewujudkan tujuannya yang dituang ke dalam bentuk pendidikan melalui sistem perkaderannya merupakan wujud kepedulian HMI dalam melahirkan dan membina sumber daya manusia (SDM) sebagai generasi-generasi yang pastinya akan menjadi pewaris peradaban yang diharapkan dan dibutuhkan bangsa ini. Upaya pendidikan tersebut, HMI kemas dalam entitas kaderisasi yang membawa nilai-nilai perkaderan dan perjuangan untuk mengakselerasi perubahan masyarakat yang konstruktif menuju tata sosial yang lebih baik. Karena itu, gerak HMI senantiasa mengarah pada cita ideal masyarakat yang diridhai Allah SWT sebagai perwujudan sosiologis tujuan HMI. SDM yang HMI lahirkan dalam membentuk tatanan masyarakat ideal adalah kader-kader berkualitas yang relevan dengan tugas dan tanggung jawabnya. Kader yang dikembangkan HMI adalah sosok kader ideal sebagaimana yang telah digambarkan dalam Al-Qur’an, yaitu sosok ulul albab. Untuk melahirkan sosok kader-kader semacam itu tentunya melalui proses pendidikan yang HMI muat dalam sistem perkaderan yang komprehensif dan dinamis, yang secara konseptual dan operasional tetap berpijak pada acuan dasar organisasi.

Proses pendidikan yang dimuat ke dalam sistem perkaderan di HMI memiliki pondasi kuat yang diformulasikan sebagai asas-asas perkaderan, asas perkaderan itu sendiri ialah prinsip-prinsip yang menjiwai semangat pelaksanaan pendidikan dan perkaderan HMI. Beberapa asas yang harus dikembangkan dalam proses perkaderan:

1.      Asas ketaqwaan, artinya perkaderan itu harus meningkatkan ketaqwaan pribadi kader.

2.      Asas kepejuangan, artinya bahwa perkaderan itu harus merupakan manifestasi dari perjuangan untuk menuju keadaan yang lebih baik.

3.      Asas keumatan, artinya bahwa perkaderan itu harus dapat memberi manfaat langsung ataupun tidak langsung terhadap peningkatan kehidupan umat. Selaras dengan prinsip pendidikan yang hadir sebagai pencerahan kehidupan umat dan bangsa.

4.      Asas kesinambungan, artinya perkaderan itu harus memproses secara terus menerus tidak terbatas pada dimensi ruang dan waktu, sekaligus mampu menopang kesinambungan perjuangan organisasi khususnya dan perjuangan Islam pada umumnya.

5.      Asas kemandirian, artinya bahwa perkaderan itu menciptakan kondisi yang dinamis untuk melahirkan kader-kader yang mandiri dalam bersikap, berfikir dan memutuskan sesuatu persoalan pribadi maupun kelembagaan.

6.      Asas persaudaraan, artinya bahwa perkaderan itu mampu menciptakan dan memperkuat ikatan persaudaraan (ukhuwah) di kalangan kader HMI itu sendiri dan dengan sesamanya.

7.      Asas keteladanan, artinya bahwa perkaderan itu harus memperhatikan aspek-aspek keteladanan sebagai faktor penting dalam proses perkaderan dan pendidikan di HMI.[4]

Adapun tujuan perkaderan ialah untuk membentuk Kader Cita HMI yang ideal. Karateristik ideal tersebut terformulasi dalam ungkapan Al-Qur’an sebagai ulul albab, dengan kualifikasi sebagai berikut:

1.      Hanya takut kepada Allah SWT:

a.       Berjiwa berani dalam menghadapi tantangan dalam bentuk apapun

b.      Tawakal kepada Allah SWT dan hanya mengharap ridha- Nya.

2.      Tekun beribadah:

a.       Taat menjalankan ibadah mahdhah yang diajarkan Rasulullah SAW

b.      Rajin mengerjakan amalan – amalan sunnah

c.       Suka bangun dan beribadah ditengah malam

3.      Memiliki ilmu dan hikmah:

a.       Berpengalaman luas, serta mampu berpikir rasional dan obyektif

b.      Memiliki kemampuan konseptual, sehingga dapat memformulasikan dan menjelaskan apa yang diketahui dan dirasakannya

c.       Sanggup mengantisipasi keadaan dan siap menghadapi segala perubahan, karena memiliki daya apresiasi, prediksi dan antisipasi yang tinggi

d.      Memiliki keterampilan praktikal yang menghasilkan karya–karya nyata.

4.      Kritis dan teguh pendirian

a.       Bersikap terbuka dan kritis terhadap berbagai macam pandangan

b.      Bersikap selektif dan apresiatif terhadap berbagai pandangan, serta inovatif untuk menciptakan karya-karya baru

c.       Sanggup sendirian (istiqomah) dan tidak terjebak pada pandangan mayoritas

5.      Progresif dalam berdakwah:

a.       Bersedia berdakwah dengan sungguh-sungguh

b.      Sanggup dan berani menghadapi segala bentuk resiko

c.       Kreatif dalam strategi dan taktik berdakwah

d.      Memiliki penampilan dan daya tahan fisik serta psikologis yang tinggi.

Dengan kualifikasi Insan Ulul Albab itu maka kader HMI diharapkan akan menjadi seorang:

1.      Mu’abid: Kader menjadi insan yang tekun beribadah, mulai dari ibadah yang terkait pada dirinya maupun terkait pada lingkungannya.

2.      Mujahid: Kader memiliki semangat juang yang tinggi sehingga ia memiliki pemahaman dan kemampuan berjihad dalam garis agama.

3.      Mujtahid: Kader mampu berijtihad sehingga segala tindakannya didasarkan pada pilihan sadar dari dalam dirinya.

4.      Mujaddid: Kader menjadi harapan atas usaha organisasi yang memiliki kemampuan dalam melakukan pembaharuan di lingkungan sekitarnya.[5]

Proses pendidikan yang dimuat dalam perkaderan HMI tentu memiliki fungsi, yakni sebagai motor penggerak organisasi yang melahirkan usaha-usaha yang terencana, sistematis, dan berkelanjutan menuju ke arah tercapainya tujuan organisasi dan kemaslahatan umat. Fungsi perkaderan, antara lain harus dapat melahirkan kondisi-kondisi sebagai berikuti:

1.      Kesinambungan dan peningkatan kualitas perjuangan misi Islam.

2.      Kesinambungan dan kedinamisan kepemimpinan HMI.

3.      Kesinambungan dan pengembangan perjuangan HMI.

4.      Konsistensi pemahaman perjuangan HMI.

5.      Peningkatan peran-peran personal kader dan kelembagaan

Kemudian perkaderan HMI sebagai salah satu bagian sistem organisasi, dalam pencapaian tujuan organisasi memiliki lingkup tersendiri yang berbeda dengan kelengkapan sistem organisasi lainnya. Ada satu ruang lingkup dalam Pedoman Perkaderan yang menjadi satu elemen utama dalam kehidupan organisasi, yaitu “Kader.” Di dalam pedoman perkaderan HMI membentuk kader dalam memposisikan kader pada beberapa wilayah, yaitu:

1.      Kader sebagai pribadi, kader HMI merupakan hamba Allah yang mukhlish, zuhud, dan tawadhu’, sehingga terimplementasi dalam sosok pribadi paripurna yang memiliki mentalitas cerdas, dan bijaksana sebagai manifestasi citra diri ulul albab.

2.      Kader sebagai pemuda, kader HMI memiliki sifat perjuangan yang senantiasa peka dan militan menjawab kehidupan lingkungan di skeitarnya, sehingga mampu tampil menjadi pelopor dan dinamisator bagi gerakan komunitas kaum muda untuk melakukan usaha amar ma’ruf nahi munkar secara ikhlas.

3.      Kader sebagai warga masyarakat, kader HMI merupakan warga yang selalu peduli dan peka terhadap aspirasi masyarakatnya, memiliki solidaritas yang tinggi dan senantiasa berpartisipasi aktif dalam dinamika masyarakat.

4.      Kader sebagai mahasiswa, kader HMI adalah orang yang berpendidikan dan memiliki jiwa dan kemampuan intelektual, dan mampu mendayagunakan untuk mempercepat transformasi masyarakat pada umumnya dan gerakan mahasiswa pada khususnya.

5.      Kader sebagai pemimpin, kader HMI adalah sosok figure yang memilki kemapuan untuk memimpin organisasi khususnya dan komunitas social pada umumnya, dengan berlandaskan pada sifat amanah, adil, jujur, dan benar serta penyeru, pengayom, dan penuntun bagi lingkungan social yang dipimpinnya.[6]

Adapun muatan perkaderan HMI merupakan semangat atau isi yang perlu diinternalisasikan, disosialisasikan atau dikembangkan dalam setiap bentuk/model perkaderan sesuai dengan proporsinya. Muatan perkaderan ini, merupakan arahan strategis sebagai derivasi dari tujuan perkaderan itu sendiri. Muatan perkaderan ini, dijabarkan ke dalam tema-tema, baik yang bersifat teoretis maupun praktis, dapat dikembangkan secara kreatif sesuai dengan bentuk/model dan jenjang perkaderan itu. Karenanya, muatan ini tidak bersifat membatasi, tetapi justru memberikan arahan dalam pengembangan sumber daya kader untuk menuju kualitas kader cita yang holistik. Beberapa muatan perkaderan itu adalah sebagai berikut:

1.      Muatan Ideologi

Muatan ini berisi nilai-nilai ideal universal seperti keadilan, persaudaraan persamaan kebebasan, kasih sayang, kearifan dan sebagainya yang kesemuanya itu merupakan nilai-nilai dasar pesan ajaran Islam. Muatan ideologi ini menjadi peletak dasar bagi pengembangan berbagai aspek kehidupan lainnya. Termasuk asumsi–asumsi dasar mengenai Allah SWT, manusia, alam semesta, hari akhir dan sebagainya.

2.      Muatan Kepribadian

Muatan ini berisi beberapa aspek yang akan membentuk kepribadian kader seperti sikap, mentalitas, intelektualitas, kebiasaan dsb-nya. Termasuk dalam hal ini yang mampu dikembangkan lewat proses perkaderan beserta kendala-kendalanya.

3.      Muatan Epistemologi

Muatan epistemologi berisi seputar kaidah-kaidah sains sebagai muatan yang memberikan landasan keilmuan bagi kader. Karena itu, dengan muatan ini, diharapkan kader HMI mampu memiliki kerangka analisis yang jelas dan tepat dalam menyikapi, menyiasati dan mencari solusi ber-bagai persoalan. Dengan demikian, setiap kader HMI mampu bersikap, berpikir dan berperilaku saintifik serta mampu mengembangkan potensi intelektual dalam bentuk karya-karya ilmiah secara optimal.

4.      Muatan Sosiologis-Politis

Muatan sosiologis-politis berisi seputar berbagai persoalan sosial, budaya, politik, ekonomi, sejarah dan budaya. Dengan muatan ini, maka kader HMI diharapkan mampu mengembangkan wawasan sosial yang luas, kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi, apresiatif terhadap berbagai fenomena sosial kemasyarakatan (keumatan). Lebih dari itu, dengan muatan ini maka kader HMI diproyeksikan mampu melakukan sosialisasi dan berintegrasi ke tengah komunitas sosial yang pluralistik, serta mengoptimalkan peran- peran sosial kependidikannya baik secara personal maupun kelembagaan dalam melakukan perubahan sosial yang kontruktif.

5.      Muatan Organisatoris

Muatan organisatoris berisi berbagai aspek yang berkaitan dengan seluk beluk keorganisasian HMI khususnya, misalnya mengangkat perkem-bangan dan peran-peran kesejarahan perjuangannya, dinamika organisasinya, konstitusinya, perkaderannya dan sebagainya. Dengan pemahaman muatan ini maka kader HMI diproyeksikan memiliki sense of belonging, rasa memiliki dan sadar sepenuhnya untuk berjuang lewat HMI.

6.      Muatan Skill-Profesionalitas

Muatan ini berisi pengetahuan praktis yang bersifat strategis atau pun teknis yang mampu membekali kader guna mengembangkan profesi secara profesional yang berdaya bagi pengembangan organisasi dan masa depan pribadi kader, misalnya akademisi, jurnalistik, kewirausahaan, teknologi informasi dan sebagainya.[7]

Kemudian HMI mengembangkan model-model perkaderan yang diharapkan mampu menciptakan standar kader cita HMI (Insan Ulul Albab), yang pada akhirnya kualitas kader tersebut akan menjadi sumber kekuatan efektif bagi organisasi dalam mewujudkan tatanan masyarakat yang diridhai Allah SWT, salah satu model perkaderan tersebut ialah model pendidikan. Model pendidikan merupakan peletakan dasar-dasar pembinaan dan pengembangan potensi kader melalui proses pembinaan, sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai yang membentuk pola pikir, sikap, mentalitas dan perilaku kader. Aplikasi model pendidikan ini meliputi aspek kognitif dan afeksi kader serta aspek psikomotorik. Tujuan model pendidikan adalah untuk menginternalisasikan nilai-nilai Islam dalam pembinaan sikap dan mentalitas kader. Sehingga kader mampu mempertegas citra, identitas dan peran-peran diri yang dibentuk untuk mencapai tujuan HMI.[8]

Pendidikan merupakan proses pembentukan pribadi manusia, pewarisan dan penciptaan nilai, pengetahuan dan keterampilan sehingga pribadi tersebut dapat mengembangkan diri secara optimal untuk menghadapi kehidupan nyata. Maka perkaderan pendidikan HMI diorientasikan pada pengembangan integritas pribadi kader secara menyeluruh sehingga mampu menjadi pemimpin yang adil, progresif serta inovatif. Sehingga perkaderan Model Pendidikan ini menyentuh aspek pemahaman dan pengamalan Islam yang termanifestasikan dalam sikap, mentalitas dan perilaku pribadi muslim, wawasan intelektual, kepekaan sosial, kemampuan dan keberanian memecahkan persoalan (pribadi, kemasyarakatan).

Perkaderan model pendidikan meliputi empat jenis. Pertama adalah adalah jenis Pendidikan Pelatihan Umum, Pendidikan jenis pertama ini menekankan pada penggalian dan pengembangan potensi kader dengan memberikan prinsip dasar keislaman, kepribadian, keilmuan, sosial kemasyarakatan dan keorganisasian melalui proses atau forum pelatihan. Forum pelatihan yang dimaksud mempunyai beberapa tingkatan; tingkat pertama itu Basic Training (Latihan Kader I), kemudian tingkat yang kedua Intermediate Training (Latihan Kader II) dan tingkat yang terakhir itu Advance Training (Latihan Kader III). Kemudian perkaderan model pendidikan yang kedua adalah Pendidikan Keluarga, Pendidikan jenis ini menekankan pada nilai-nilai kebersamaan yang menumbuhkan sikap saling bertanggung jawab dan saling menolong antara satu dengan lainnya. Pendidikan Keluarga ada tiga tahap, tahap pertama itu Pendidikan Keluarga semester pertama (PK 1), lalu tahap yang kedua itu Pendidikan Keluarga semester kedua (PK 2), dan tahap yang ketiga ialah Pendidikan Keluarga Lanjutan.

Kemudian perkaderan model pendidikan yang ketiga adalah Pendidikan Pelatihan Khusus, Jenis pendidikan ini berorientasi meletakkan dasar-dasar pembinaan dan pengembangan potensi kader melalui proses sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai yang menjadi landasan dalam membentuk pola pikir dan sikap. Pendidikan pelatihan khusus ini terbagi ke dalam dua macam, yang pertama itu ada pendidikan pelatihan pengader (senior course) dan yang kedua itu ada pendidikan pelatihan Kohati. Perkaderan model pendidikan yang keempat adalah Pendidikan Pelatihan Soft Skill. Pendidikan jenis ini adalah pendidikan yang melalui proses atau forum pelatihan yang menekankan pada peningkatan keahlian di wilayah minat dan bakat serta tanggungjawab pada diri dari seorang kader.

Dengan adanya pola pendidikan yang HMI muat di dalam sistem perkaderannya, itu berarti HMI hadir sebagai oase peradaban yang secara berkesinambungan membina dan melahirkan generasi-generasi yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan dalam mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran umat dan bangsa ini sebagai tatanan masyarakat yang diridhai Allah SWT.



[1] Ratna Wilis Dahar, Teori-Teori Belajar, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1996), hal. 56.

[2] Stephen P. Robbins, Teori Organisasi Struktur, Desain, dan Aplikasi, (Jakarta: Arcan, 1994), hal. 4.

[3] Rusdiyanto, MPO: ‘Anak Haram’ Orde Baru Pewaris Sah HMI, (Yogyakarta: Sulur Pustaka, 2019), hal. 17.

[4] Konstitusi HMI XXXII, Pedoman Perkaderan, (Kendari, 2020).

[5] Rusdiyanto, MPO: ‘Anak Haram’ Orde Baru Pewaris Sah HMI, (Yogyakarta: Sulur Pustaka, 2019), hal. 116.

[6] Konstitusi HMI XXXII, Pedoman Perkaderan, (Kendari, 2020).

[7] Konstitusi HMI XXXII, Pedoman Perkaderan, (Kendari, 2020).

[8] Konstitusi HMI XXXII, Pedoman Perkaderan, (Kendari, 2020).

Selasa, 12 Oktober 2021

Perilaku Organisasi

 Oleh: Wahido Amarsyah

 

ABSTRAK

Perilaku organisasi adalah fungsi interaksi antara individu dengan lingkungannya. Makalah ini ditulis bertujuan untuk mengetahui makna perilaku organisasi, untuk mengetahui perilaku kelompok dalam organisasi, serta untuk memahami pentingnya perilaku organisasi. Makalah ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Tujuan penggunaan metode ini adalah untuk mengungkap fakta, mengurai fenomena, dan realitas secara apa adanya. Jenis ini digunakan untuk menafsirkan dan menuturkan data-data seperti apa makna perilaku organisasi itu.

Kata kunci: organisasi, perilaku organisasi, kelompok.

 

1.      PENDAHULUAN

Organisasi pada dasarnya merupakan wadah atau sarana untuk bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan sebelumnya. Setiap organisasi harus mempunyai tujuan yang harus dirumuskan secara jelas sehingga mudah dipahami, dengan adanya tujuan organisasi maka organisasi akan hidup, sebab organisasi adalah himpunan manusia untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Organisasi  didirikan  untuk  mencapai  suatu tujuan tertentu maka untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan aktivitas dan kerjasama, karena manusia pada dasarnya tidak dapat hidup hanya mengandalkan diri sendiri tetapi mereka merupakan makhluk yang saling bergantung satu sama lain dimana terdapat istilah bahwa manusia itu makhluk sosial. Hakikat organisasi pada dasarnya berorientasi terhadap aspirasi dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap organisasi. Organisasi menjadi sangat menentukan bagi manusia untuk berkarya dan menciptakan suatu pengharapan. Organisasi dapat dikondisikan menjadi lingkungan tempat kehidupan manusia yang berkaitan pada setiap aspek.

Organisasi dapat mempengaruhi perilaku manusia dan perilaku manusia dapat mengubah organisasi dengan membentuk suatu kebiasaan yang lama kelamaan bisa menjadi suatu budaya. Pada dasarnya perilaku organisasi adalah ilmu yang mempelajari determinan perilaku dan interaksi manusia dalam organisasi terkait dengan sikap dan perilaku individu, perilaku kelompok dan struktur dalam organisasi. Perilaku organisasi dapat juga dipahami sebagai suatu cara berpikir untuk memahami persoalan-persoalan organisasi dan menjelaskan secara nyata apa yang ditemukan dalam tingkah laku individu atau kelompok dalam organisasi berikut tindakan pemecahan yang diperlukan. Perilaku manusia banyak menekankan aspek aspek psikologi dari tingkah laku manusia dalam organisasi.

Perilaku manusia dalam organisasi menjadi perilaku organisasi memberikan arah dan petunjuk bagi pencapaian tujuan organisasi sesuai visi dan misi organisasi di mana manusia itu mendedikasikan dirinya. Misalnya organisasi bisnis, organisasi pemerintah, organisasi kemasyarakatan, organisasi pendidikan, organisasi sosial dan sejumlah organisasi lainnya sesuai ciri dan karakteristik organisasinya. Perilaku organisasi dipengaruhi oleh ciri dan karakter setiap organisasi dan akan ditentukan dari perilaku manusia yang ada dalam organisasi. Mengacu pada pemikiran tersebut, pada bagian ini akan dikaji mengenai tantangan dan peluang perilaku organisasi yang efektif.

2.      METODE

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Tujuan penggunaan metode ini adalah untuk mengungkap fakta, mengurai fenomena, dan realitas secara apa adanya. Jenis ini digunakan untuk menafsirkan dan menuturkan data-data seperti apa makna perilaku organisasi itu. Penelitian ini juga disertai dengan library research, yaitu penelitian kepustakaan guna mendapatkan referensi terkait dengan makna perilaku organisasi dari berbagai sumber.

 

3.      HASIL DAN PEMBAHASAN

3. 1. Pengertian Perilaku Organisasi

Organisasi adalah unit sosial yang saling sadar dikoordinasikan, terdiri dari 2 (dua) orang atau lebih yang berfungsi secara relatif berkelanjutan untuk mencapai tujuan bersama atau serangkaian tujuan.[1] Dikatakan pula bahwa organisasi adalah suatu sistem yang dikoordinasikan secara sadar dari aktifitas dua orang atau lebih.[2] Sedangkan perilaku organisasi adalah studi tentang apa yang orang pikirkan, rasakan dan lakukan di dalam dan sekitar organisasi. Perilaku organisasi adalah cara berfikir yang meneliti dampak perilaku dari individu, kelompok, dan struktur organisasi yang bertujuan untuk meraih pengetahuan dalam mengembangkan efektifitas organisasi. Dalam pengertian lain, perilaku organisasi adalah suatu studi tentang perilaku manusia dalam pengaturan organisasi, hubungan  antara  individu dengan organisasi, dan organisasi itu sendiri. Perilaku (Behaviour) merupakan sebuah fungsi dari variable-variabel individual (Individual), variabel-variabel keorganisasian (Organizational) dan variabel-variabel psikologikal (Psycological).[3]

Menurut Rivai dan Mulyadi secara formal studi mengenai perilaku organisasi dimulai sekitar tahun 1948 – 1952. Perilaku organisasi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang terus berkembang guna membantu suatu organisasi untuk meningkatkan produktivitasnya.[4] Mempelajari perilaku organisasi sifatnya agak abstrak, mempelajari perilaku organisasi sering kali menghasilkan atau menemui prinsip-prinsip yang kompleks dimana penjelasan atau analisanya bersifat situasional, pengertian perilaku organisasi untuk multi disiplin dapat digambarkan dalam beberapa hal yaitu:

Pertama           : Perilaku organisasi adalah cara berpikir, perilaku adalah aktivitas yang ada pada diri individu, kelompok, dan tingkat organisasi.

Kedua                          : Perilaku organisasi adalah multi disiplin yang mencangkup teori, metode dan prinsip-prinsip dari berbagai disiplin ilmu.

Ketiga              : Dalam organisasi terdapat suatu orientasi kemanusiaan, dimana terdapat perilaku, persepsi, perasaan, dan kapasitas pembelajar.

Keempat          : Perilaku organisasi berorientasi pada kinerja, tujuan organisasi adalah meningkatkan produktivitas, bagaimana perilaku organisasi ini dapat  mencapai tujuan tersebut.

Kelima             : Lingkungan eksternal sangat memberikan pengaruh terhadap perilaku organisasi

Keenam           : Untuk mempelajari perilaku organisasi ini perlu menggunakan metode ilmiah, karena perilaku organisasi ini sangat tergantung dari disiplin ilmu yang meliputinya.

Lingkup ilmu mengenai perilaku organisasi meliputi psikologi, sosiologi dan antropologi budaya di mana ilmu-ilmu tersebut telah memberikan kerangka dasar dan prinsip-prinsip pada bidang perilaku organisasi. Namun masing-masing ilmu pengetahuan memiliki tinjauan yang berbeda. Dalam mempelajari perilaku organisasi dapat dilakukan dengan tiga tingkat analisis, yaitu tingkat individu, kelompok, dan organisasi.[5]

3. 2. Perilaku Kelompok dalam Organisasi

Kelompok merupakan bagian dari kehidupan manusia. Tiap hari manusia akan terlibat dalam aktivitas kelompok. Masing-masing dari kita telah menjadi dan masih menjadi anggota kelompok-kelompok yang berbeda. Ada kelompok sekolah, kelompok kerja, kelompok keluarga, kelompok sosial, kelompok kegamaan, kelompok formal, dan kelompok informal.[6]

Demikian pula kelompok merupakan bagian dari kehidupan organisasi. Dalam organisasi akan banyak dijumpai kelompok-kelompok ini. Hampir pada umumnya manusia yang menjadi anggota dari suatu organisasi besar atau kecil adalah sangat kuat kecenderungannya untuk mencari keakraban dalam kelompok-kelompok tertentu. Dimulai dari adanya kesamaan tugas pekerjaan yang dilakukan, kedekatan tempat kerja, seringnya berjumpa, dan barangkali adanya kesamaan kesenangan bersama, maka timbullah kedekatan satu sama lain. Mulailah mereka berkelompok dalam organisasi tertentu.

Menurut Herman Sofyandi, kelompok tidak hanya terbentuk karena tindakan manajerial, tetapi juga karena adanya usaha-usaha inividu para manajer menciptakan kelompok-kelompok kerja untuk menangani tugas dan pekerjaan yang diberikan. Kelompok-kelompok semacam itu yang diciptakan oleh keputusan manajerial, disebut kelompok formal. Kelompok juga terbentuk sebagai konsekuensi dari tindakan para pegawai. Kelompok semacam itu disebut kelompok informal yang terbentuk karena kepentingan yang sama dan pergaulan.[7] Ada beberapa alasan mengapa manusia berkelompok dan berorganisasi. Robbins dan Judge yang dikutip dalam bukunya Sucipto dan Siswanto berpendapat bahwa manusia berkelompok untuk alasan:

a.      Rasa Aman

Rasa aman merupakan kebutuhan dasar manusia. Perasaan aman dapat berupa sesuatu yang bersifat material atau non material. Dengan berkelompok dan berorganisasi kebutuhan tersebut akan terpenuhi. Dapat dibayangkan bagaimana seseorang yang hidup sendiri, tidak bersosialisasi.

b.      Harga Diri

Dengan berkelompok dan masuk dalam organisasi akan memunculkan harga diri seseorang. Perasaan itu muncul karena dalam interaksi dengan kelompok terdapat saling ketergantungan.

c.       Afiliasi

Setiap manusia memiliki kecenderungan untuk berafiliasi. Afiliasi itu dapat terjadi karena memiliki kesamaan latar belakang, kepribadian, kecenderungan, hobi, dan kesenangan.

d.     Status

Manusia memiliki sifat dasar ingin dipuji, diperhatikan, dan diakui keberadaannya. Dengan berkelompok dan berorganisasi kebutuhan tersebut akan diperolehnya.

e.      Kekuatan

Manusia memiliki kemampuan yang terbatas. Kekurangan dan kelemahan yang dimiliki dapat ditutupi jika mendapat dukungan dari orang lain.

f.        Pencapaian Tujuan

Melalui organisasi tujuan akan mudah dicapai. Sebagai sasaran dan alat, organisasi dapat digunakan untuk mempercepat proses tujuan bersama.[8]

3. 3. Pentingnya Perilaku Organisasi

Terdapat sejumlah alasan di antara para pakar, mengapa perlu perilaku organisasi. Namun, dari semua pendapat yang ada menunjukkan bahwa terdapat peningkatan perhatian pada kepentingan sumber daya manusia sebagai tenaga kerja dalam organisasi. Apabila sumber daya manusia diperhatikan pada gilirannya akan memberikan kontribusi lebih tinggi bagi organisasi. Antara lain dikemukakan adanya tiga alasan mengapa perlu mempelajari perilaku organisasi seperti yang dikemukakan oleh Vecchio yang dikutip oleh Wibowo yaitu:[9]

a.      Practical Application

Dalam kenyataan riil organisasi, ada beberapa manfaat memahami perilaku organisasi, antara lain berkenaan dengan pengembangan gaya kepemimpinan, pemilihan strategi dalam mengatasi persoalan, seleksi pekerjaan yang tepat, peningkatan kinerja dan sebagainya.

b.      Personal Growth

Dengan memahami perilaku organisasi dapat lebih memahami orang lain. Memahami orang lain akan memeberikan pengetahuan diri dan wawasan diri lebih besar. Dengan memahami orang lain, atasan dapat menilai apa yang diperlukan bawahan untuk mengembangkan diri sehingga pada gilirannya meningkatkan kontribusi pada organisasi.

c.       Increased knowledge

Dengan perilaku organisasi dapat menggabungkan pengetahuan tentang manusia dalam pekerjakan. Studi perilaku organisasi dapat membantu orang untuk berfikir tentang masalah yang berhubungan dengan pengalaman kerja. Kemampuan berpikir kritis dapat bermanfaat dalam menganalisis baik masalah pekerjaan maupun personal. Winardi menyebutkan Edgar H. Schein, seorang psikolog keorganisasian terkenal berpendapat bahwa semua organisasi memiliki empat macam ciri atau karakteristik sebagai berikut:[10]

1)      Koordinasi upaya

Para individu yang bekerja sama dan mengkoordinasi upaya mental atau fisikal mereka dapat mencapai banyak hal yang hebat dan yang menakjubkan. Contohnya piramida-piramida di Mesir, tembok besar di RRC. Koordinasi upaya memperbesar kontribusi–kontribusi individual.

2)      Tujuan umum bersama

Koordinasi upaya tidak mungkin terjadi, kecuali apabila pihak yang telah bersatu mencapai persetujuan untuk berupaya mencapai sesuatu yang merupakan kepentingan bersama. Sebuah tujuan umum bersama memberikan anggota organisasi sebuah rangsangan untuk bertindak.

3)      Pembagian kerja

Dengan jalan membagi-bagi tugas yang masih kompleks menjadi pekerjaan-pekerjaan yang terspesifikasi, maka suatu organisasi dapat memanfaatkan sumber–sumber daya manusianya secara efisien. Pembagian kerja memungkinkan para anggota-anggota organisasi menjadi lebih terampil dan mampu karena tugas-tugas terspesialisasi dilaksanakan berulang-ulang.

4)      Hierarki otoritas

Menurut teori organisasi tradisional, apabila ingin dicapai sesuatu hasil melalui upaya kolektif formal, harus ada orang yang diberi otoritas untuk melaksanakan kegiatan. Hal itu agar tujuan-tujuan yang diinginkan dilaksanakan secara efektif dan efisien.

Kotze melihat pentingnya mempelajari perilaku karena berkaitan dengan kinerja sumber daya manusia. Kinerja sumber daya manusia akan dapat meningkat apabila perilakunya sesuai dengan tuntutan pekerjaan. Oleh karenanya Kotze mendukung perlunya Behaviour Kinetics yang merupakan pendekatan saintifik pada perubahan perilaku karena dapat menunjukkan empat fungsi penting sain: (a) mendeskripsikan, (b) menjelaskan, (c) memprediksi, dan (d) mengontrol.[11] Selain itu perhatian organisasi pada sumber daya manusia menunjukkan kecenderungan semakin meningkat. Pekerja mendapatkan kepercayaan, diberdayakan dan didengar pendapatnya. Organisasi yang demikian ini dinamakan sebagai people-centerd organization, yang ditunjukkan oleh adanya ciri-ciri sebagai berikut:

a.      Terjaminnya keamanan kerja sehingga menghilangkan rasa ketakutan akan tejadinya pemecatan.

b.      Penerimaan sumber daya manusia dilakukan secara berhatihati, dengan menekankan pada kecocokan dengan budaya organisasi.

c.       Kekuasaan semakin didorong kepada orang di tingkat bawah, melalui desentralisasi dan self-managed teams.

d.     Pembayaran berdasar kinerja, bukan sekadar pada senioritas.

e.      Banyak memberikan kesempatan pelatihan.

f.        Kurang menekankan pada status, tetapi membangun perasaan sebagai “kita”.

g.      Membangun kepercayaan, melalui berbagi informasi penting.

Perilaku manusia itu sebenarnya bisa ditelusuri dari awal periode sejarah. Spekulasi tentang fisik manusia ini misalnya, dapat dijumpai lewat buah karya filosof Yunani Plato. Filosof ini acap kali membicarakan mengenai jiwa manusia dibagi atas tiga bagian yaitu: Philosophic, yang merupakan suatu alat untuk mencapai ilmu pengetahuan dan pengertian. Spireted, yaitu suatu aspek dari jiwa manusia ini yang berusaha untuk mencari kekuasaan dan ambisi. Dan Appetitie, yaitu keinginan untuk memenuhi selera seperti misalnya makan, minum, dan uang.[12]

Thoha menerangkan pada sekitar awal abad ke-20, perhatian mengenai penataan organisasi mencapai titik momentumnya. Oleh sebab perhatian ini timbul dalam berbagai perkara, maka amat sulit untuk menerangkan secara menyeluruh kekuatan-kekuatan mana yang membentuk ilmu perilaku organisasi. Suatu unsur yang mengendalikan suatu organisasi dan yang mayakinkan bahwa suatu prosedur dipatuhi adalah otoritas dan rasa tanggung jawab yang dipunyai oleh para pejabatnya.[13] Dalam hal ini Waber sangat tertarik mengenai bagaimana para pejabat tersebut memperoleh otoritas mereka, dan ia mengidentifikasikan sumber-sumber otoritas sebagai berikut:

a.        Otoritas yang rasional dan sah, hal ini diciptakan oleh tingkat dan posisi yang dipegang oleh seseorang pejabat di dalam suatu hierarki.

b.       Otoritas yang tradisional, ini diciptakan oleh kelas-kelas dalam masyarakat dan juga oleh adat kebiasaan.

c.        Otoritas yang kharismatik, ini ditimbulkan oleh potensi kepribadian dari pejabat

 

4.      KESIMPULAN

Organisasi adalah suatu sistem yang dikoordinasikan secara sadar dari aktifitas dua orang atau lebih yang berfungsi secara berkelanjutan untuk mencapai tujuan bersama atau serangkaiaan tujuan. Perilaku organisasi adalah studi tentang apa yang orang pikirkan, rasakan dan lakukan di dalam dan sekitar organisasi. Perilaku organisasi adalah cara berfikir yang meneliti dampak perilaku dari individu, kelompok, dan struktur organisasi yang bertujuan untuk meraih pengetahuan dalam mengembangkan efektifitas organisasi. Dalam kenyataan riil organisasi, ada beberapa manfaat memahami perilaku organisasi, antara lain berkenaan dengan pengembangan gaya kepemimpinan, pemilihan strategi dalam mengatasi persoalan, seleksi pekerjaan yang tepat, peningkatan kinerja dan sebagainya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ivancevich, M J dan Matteson, M. T. Perilaku dan Manajemen Organisasi, Jakarta: Erlangga, 2006.

Kotze. Performence, Harlow: Education Limited, 2006.

Kreitner, R dan Kinicki, A. Perilaku Organisasi, Jakarta: Salemba Empat, 2007.

Rivai, V dan Mulyadi, D. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, Jakarta: Rajawali Press, 2012.

Robbins, P S dan Jugge, T A. Perilaku Organisasi, Edisi 12, Jakarta: Salemba Empat, 2012.

Sucipto dan Siswanto, Teori dan Perilaku Organisasi Sebuah Tinjauan Integratif, Malang: UIN Malang Press, 2008.

Sofyandi, Herman, dan Garniwa. Perilaku Organisasional, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007.

Thoha, M. Perilaku Organisasi, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2000.

_________. Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya, Jakarta: Rajawali Pers, 2011.

Wibowo. Perilaku Dalam Organisasi, Jakarta: Rajawali Pers, 2014.

Wijaya, Candra. Perilku Organisasi, Medan: Lembaga Peduli Pengembangan Pendidikan Indonesia (LPPPI), 2017.

Winardi, J. Manajemen Perilaku Organisasi, Jakarta: Prenada Media Group, 2014.



[1] Robbins dan Jugge, Perilaku Organisasi, Edisi 12, (Jakarta: Salemba Empat, 2012), h. 36.

[2] Kreitner dan Kinicki, Perilaku Organisasi, (Jakarta: Salemba Empat, 2007), h. 5.

[3] Winardi, Manajemen Perilaku Organisasi, (Jakarta: Prenada Media Group, 2014), h. 199.

[4] Rivai dan Mulyadi, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, (Jakarta: Rajawali Press, 2012), h. 172.

[5] Candra Wijaya, Perilku Organisasi, (Medan: Lembaga Peduli Pengembangan Pendidikan Indonesia (LPPPI), 2017), h. 3.

[6] Ivancevich dan Matteson, Perilaku dan Manajemen Organisasi, (Jakarta: Erlangga, 2006), h. 5.

[7] Herman Sofyandi dan Garniwa, Perilaku Organisasional, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007), h. 19.

[8] Sucipto dan Siswanto, Teori dan Perilaku Organisasi Sebuah Tinjauan Integratif, (Malang: UIN Malang Press, 2008), h. 58-59.

[9] Wibowo, Perilaku Dalam Organisasi, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), h. 3.

[10] Winardi, Manajemen Perilaku Organisasi, (Jakarta: Prenada Media Group, 2014), h. 27-28.

[11] Kotze, Performence, (Harlow: Education Limited, 2006), h. 13.

[12] M Thoha, Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), h. 11.

[13] M Thoha, Perilaku Organisasi, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2000), h. 11.

Hardiknas 2026

  A. Pendahuluan Hari Pendidikan Nasional harus dimaknai sebagai momentum evaluasi menyeluruh terhadap arah pembangunan pendidikan Indones...